Jelang Rilis Data Ekspor, Kurs Dolar Singapura 'Mengkerut'

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 September 2021 14:40
FILE PHOTO: A Singapore dollar note is seen in this illustration photo May 31, 2017.     REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Singapura yang selama ini kuat melawan rupiah meski kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) terus menanjak, akhirnya melemah pada perdagangan Kamis (16/9).

Pelemahan tersebut terjadi menjelang rilis data neraca dagang yang akan menunjukkan kinerja ekspor non-minyak mentah.

Pada pukul 14:10 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.612,94, dolar Singapura melemah tipis 0,04% di pasar spot, melansir data Refinitiv.


Singapura akan melaporkan data ekspor non-minyak mentah besok. Konsensus di Trading Economics menunjukkan ekspor di bulan Agustus diperkirakan tumbuh 2,4% dari bulan sebelumnya (month-on-month/MoM) dan 8,3% dari tahun Agustus 2020 (year-on-year/YoY).

Ekspor sangat penting bagi Singapura, karena merupakan kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB), yakni lebih dari 100%. Singapura menjadi negara dengan rasio ekspor terhadap PDB terbesar di dunia.

Artinya, semakin tinggi pertumbuhan ekspor, maka PDB juga akan terkerek.

Indonesia sudah lebih dulu melaporkan data neraca dagang. Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin mengumumkan realisasi impor periode Agustus 2021. Meski tumbuh tinggi, tetapi nominal impor masih lebih rendah ketimbang ekspor sehingga Indonesia menikmati surplus neraca perdagangan.

Pada Rabu (15/9/2021), BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Agustus 2021 adalah US$ 16,68 miliar. Naik 10,35% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm) dan 55,26% dari periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Sebagai perbandingan, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan impor tumbuh 44,29% yoy pada Agustus 2021. Sementara konsensus Reuters menghasilkan proyeksi 45,1% yoy.

Sementara nilai ekspor Indonesia adalah US$ 21,42 miliar. Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 4,74 miliar.

Neraca perdagangan Indonesia selalu surplus dalam 15 bulan terakhir. Kali terakhir terjadi defisit neraca perdagangan adalah pada April 2020.

Sementara itu, penambahan kasus Covid-19 di Singapura masih tinggi. Kemarin, pemerintah Singapura melaporkan penambahan sebanyak 807 orang. Artinya dalam 2 hari terakhir penambahan kasus selalu di atas 800 orang, dan menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2020.

Meski demikian, dolar Singapura masih tetap kuatnya. Resepnya adalah vaksinasi yang masif. Hingga saat ini, lebih dari 80% warga Singapura sudah mendapat vaksinasi penuh. Dan masyarakatnya sudah santai menghadapi virus corona.

"Di Singapura, warga mulai sudah santai melihat penambahan kasus Covid-19 yang meninggi. Mereka sudah sadar, peningkatan kasus bukan berarti rumah sakit penuh atau menimbulkan penyakit parah hingga meninggal," kata Dale Fisher, profesor di National University Singapore kepada ABC, sebagaimana dikutip The Guardian.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading