Duh! 146.000Orang Kena PHK, Dolar Australia Nyungsep

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 September 2021 10:08
An Australia Dollar note is seen in this illustration photo June 1, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Lockdown yang dilakukan di beberapa negara bagian Australia sudah menunjukkan dampaknya, sepanjang bulan Agustus terjadi pengurangan tenaga kerja besar-besar. Alhasil, dolar Australia merosot melawan rupiah.

Melansir data Refinitiv, dolar Australia pagi ini merosot 0,45% ke Rp 10.396,78/AU$ di pasar spot.

Biro Statistik Australia (ABS) hari ini melaporkan di bulan Agustus terjadi pengurangan tenaga kerja sebanyak 145 ribu orang, jauh lebih besar ketimbang median proyeksi Reuters sebanyak 90 ribu orang.


Lockdown yang dilakukan di Sydney dan Melbourne guna meredam penyebaran virus corona menjadi pemicu utama pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut.

Sementara itu, meski terjadi PHK besar-besarnya, tingkat pengangguran turun menjadi 4,5% dari sebelumnya 4,6%. Tetapi, penurunan tersebut dikatakan terjadi akibat berkurangannya partisipasi selama lockdown.

"Penurunan tingkat pengangguran merefleksikan penurunan besar di partisipasi tenaga kerja selama lockdown, bukan karena penguatan pasar tenaga kerja" kata Bjorn Jarvis, kepala statistik tenaga kerja di ABS, sebagaimana dilansir Reuters.

Sarah Hunter, kepala ekonomi di BIS Oxford Economics mengatakan di bulan September, PHK besar-besaran juga diprediksi masih akan terjadi.

"Pengurangan tenaga kerja di bulan September masih akan besar, sebagai hasil dari lockdown di wilayah Victoria," kata Sarah.

PHK yang terjadi tersebut menguatkan ekspektasi jika perekonomian Australia akan kembali mengalami kontraksi di kuartal III-2021.

Gubernur bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA), Philip Lowe, Selasa lalu mengatakan lockdown yang dilakukan di Australia akan menyebabkan kontraksi yang dalam ke perekonomian di kuartal III-2021.

Tetapi, Lowe optimis perekonomian akan cepat pulih dalam beberapa bulan ke depan ketika pembatasan sosial dilonggarkan.

Meski demikian, Lowe juga menegaskan tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Lowe menyentil ekspektasi pasar yang memperkirakan suku bunga akan dinaikkan di akhir 2022 atau awal 2023.

"Ekspektasi ini sulit untuk diterima jika melihat gambaran yang saya berikan (mengenai kondisi ekonomi) dan saya sulit mengerti kenapa pasar memperkirakan suku bunga akan naik akhir tahun depan, atau awal 2023," kata Lowe, sebagaimana dilansir Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading