Holding BUMN Ultra Mikro & Nasib Karyawan PNM-Pegadaian

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
16 September 2021 08:35
Holding Ultra Mikro yang melibatkan tiga entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM resmi terbentuk.

Jakarta, CNBC Indonesia - Terbentuknya Holding BUMN Ultra Mikro (UMi) yang dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dinilai memperkuat masing-masing anak usaha di lini bisnisnya.

Pembentukan holding ini dilakukan dengan cara pengalihan saham seri B milik pemerintah di PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM dan PT Pegadaian (Persero) ke BRI.

Aksi ini juga bersamaan dengan penerbitan saham baru dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue di mana pemerintah sebagai pemegang saham tidak menyetor dana tunai, melainkan inbreng sahamnya di PNM dan Pegadaian ke BRI.


Lalu bagaimana nasib karyawan kedua BUMN tersebut?

Berdasarkan prospektus yang disampaikan BRI, per 31 Maret 2021, jumlah pegawai Pegadaian total mencapai 31.098 orang, terdiri dari pekerja tetap 12.668 orang, pekerja kontrak 1.643 orang, dan outsourcing 16.787 orang, sementara di PNM total sebanyak 50.582 orang, terdiri dari pekerja tetap 3.629, pekerja kontrak 5.508, dan outsourcing 41.455 orang.

Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan, dalam aksi korporasi tersebut hanya dilakukan akuisisi, sehingga tidak ada merger yang terjadi. Untuk itu, masing-masing perusahaan akan tetap berada pada core business-nya setelah proses tersebut selesai.

"Karena tidak merger, maka tidak ada yang berubah di dalam masing-masing entitas," kata Sunarso dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV, Selasa (14/9/2021).

Sunarso mengatakan adanya holding ini dinilai akan menjadi sarana pengembangan talenta bagi karyawan di ketiga perusahaan pelat merah tersebut.

Para karyawan dinilai akan memiliki kesempatan berkarier yang lebih luas dengan PNM dan Pegadaian menjadi anak usaha BRI.

Menurut Sunarso, karyawan akan bisa mengoptimalisasi kompetensinya masing-masing di perusahaan ini.

"Bagi karyawan ini adalah kesempatan untuk menumbuhkembangkan kariernya secara optimal sesuai dengan potensinya masing-masing. Sudah barang tentu harus kompetisi secara sehat, karena kompetisi memang diperlukan supaya setiap individu mampu mengeluarkan potensi terbaiknya setelah itu baru dikolaborasikan dalam ekosistem ini," katanya.

Dia menganalogikan kondisi karyawan saat ini dengan lomba renang. Menurut dia, selama ini para peserta berlomba dalam sebuah kolam yang kecil, namun dengan adanya holding tersebut, maka kolamnya menjadi lebih besar sehingga kompetisi yang dilakukan menjadi lebih luas.

Tak hanya kepada karyawan, adanya holding ini juga akan memberikan manfaat kepada nasabah adalah makin banyaknya usaha ultra mikro yang bisa dilayani oleh sistem pembiayaan yang disediakan oleh ekosistem ini.

Selain itu, juga akan tersedia produk pembiayaan yang lebih beragam dari ketiganya, mulai dari group lending yang disediakan oleh PNM, pembiayaan fidusia seperti yang diberikan oleh Pegadaian dan akses pembiayaan yang lebih besar di level BRI.

Dampak bagi pemegang saham adalah makin luasnya bisnis yang dijalankan oleh BRI sehingga makin besar potensi untuk pertumbuhannya bagi bank meski memakan waktu cukup lama.

"Dengan dibentuknya holding ultra mikro ini nafsu untuk tumbuh itu kita penuhi tetapi tumbuhnya kepada yang smaller, maka kemudian kita mencari segmen yang lebih kecil," katanya.

"Sehingga terbentuknya holding ultra mikro ini sesungguhnya bagi pemegang saham bisa dimaknai bahwa inilah sebenarnya sumber pertumbuhan baru yang bisa menjaga pertumbuhan BRI ke depan secara grup secara sustain," kata Sunarso yang juga Dirut Pegadaian periode Oktober 2017 hingga Januari 2019 ini.

Untuk diketahui, dalam rencana holding ultra mikro ini, BRI menggelar penerbitan saham baru atau rights issue.

Dalam prospektus yang dipublikasikan Selasa (31/8/2021), BRI menawarkan sebanyak-banyaknya 28,213 miliar Saham Baru Seri B atas nama dengan nilai nominal Rp 50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah Penambahan Modal dengan HMETD I.

Dengan harga pelaksanaan rights issue BBRI yakni Rp 3.400 per saham, pemerintah melaksanakan seluruh haknya sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya dalam BRI dengan cara penyetoran saham dalam bentuk lain selain uang (Inbreng) sesuai PP No. 73/2021.

Seluruh saham Seri B milik pemerintah dalam Pegadaian dan PNM akan dialihkan kepada BRI melalui mekanisme inbreng yang sudah dilakukan pada Senin (13/9).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading