Erick Resmi Bentuk Holding Ultra Mikro, Begini Rencana BRI

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
13 September 2021 15:40
Bank Rakyat Indonesia bri (detikFoto/Ari Saputra)

Jakarta, CNBC Indonesia - Terbentuknya holding ultra mikro yang dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memberikan tiga dampak langsung yang akan dirasakan, baik oleh institusi maupun nasabah.

Menurut manajemen BRI, hal paling besar yang dirasakan adalah terjadinya efisiensi dari segi operasional perusahaan. Dengan holding ultra mikro, BRI akan menjadi induk usaha PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan dalam memberikan pembiayaan kepada sektor mikro membutuhkan saluran yang lebih luas sehingga melibatkan lebih banyak orang dan biaya yang dikeluarkan juga lebih tinggi.


"Tidak mudah menangani bisnis di segmen mikro apalagi ultra mikro. Selalu tantangannya operational cost tinggi karena harus melibatkan orang banyak dan jaringan banyak. Karena banyak orang jadi human error dan kalau di manajemen risiko namanya operational risk. Jadi ada dua, operational cost dan operational risk tinggi," kata Sunarso dalam penandatanganan akta inbreng pengalihan saham PNM dan Pegadaian ke BRI, Senin (13/9/2021).

Efisiensi yang kedua adalah dari segi jenis produk. Menurut dia dengan telah tergabung dalam satu ekosistem ultra mikro maka produk yang ditawarkan juga bisa lebih beragam dan dipastikan tidak akan ada produk yang sama antara anggota holding.

Terakhir, adalah efisiensi jumlah agen dalam berhubungan langsung dengan nasabah.

Adapun agen PNM dan Pegadaian akan berfokus dalam mencari nasabah pembiayaan dengan kapasitasnya masing-masing, sedangkan agen BRI akan berfokus untuk mencari sumber pendanaan.

"Tadinya kan cabang agen berjejer kan bisa diefisienkan, Brilink bisa kasih referral PNM, Pegadaian. Ke depan referral lending kasih kredit dari agen Brilink biar aja ditangani PNM dan Pegadaian, BRI fokus cari dana sendiri aja, PNM dan Pegadaian kan ga boleh nyari dana dari masyarakat," jelas dia.

"Jadi bertiga itu urus transaksi kan mikro, penyalurannya ke PNM dan Pegadaian. Jadi 2 sodaranya [PNM dan Pegadaian] ini bisa kasih lending dengan biaya lebih murah," imbuh dia.

Adapun holding ultra mikro ini resmi terbentuk, ditandai dengan pengalihan saham seri B milik pemerintah di PNM dan Pegadaian ke BRI.

Hal ini sekaligus menandai terbentuknya holding ultra mikro yang dipimpin oleh BRI dan dua BUMN lainnya masuk dalam ekosistem tersebut menjadi anak usaha BRI.

Dalam rencana holding ultra mikro ini, BRI menggelar penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Dalam prospektus yang dipublikasikan Selasa (31/8/2021), BRI menawarkan sebanyak-banyaknya 28,213 miliar Saham Baru Seri B atas nama dengan nilai nominal Rp 50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah Penambahan Modal dengan HMETD I.

Dengan harga pelaksanaan rights issue BBRI yakni Rp 3.400 per saham, pemerintah akan melaksanakan seluruh haknya sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya dalam BRI dengan cara penyetoran saham dalam bentuk lain selain uang (Inbreng) sesuai PP No. 73/2021.

Seluruh saham Seri B milik pemerintah dalam Pegadaian dan PNM akan dialihkan kepada BRI melalui mekanisme inbreng.

Nilai total PMHMETD I yang telah memperhitungkan inbreng serta eksekusi hak Pemegang Saham Publik adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 95,92 triliun.

Dana hasil dari aksi korporasi itu di antaranya akan dimanfaatkan oleh BRI untuk pembentukan Holding BUMN UMi bersama Pegadaian dan PNM.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading