Inflasi di AS Melambat, Kenapa Rupiah yang Melemah?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 September 2021 10:00
Ilustrasi Dollar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Start rupiah kurang bagus pada perdagangan Rabu (15/9), sama seperti kemarin pergerakan langsung ibarat tarik tambang melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Rupiah bolak-balik antara penguatan dan pelemahan, padahal data data inflasi AS yang dirilis kemarin menunjukkan pelambatan, yang berdampak pada ekspektasi tapering. 

Melansir data dari Refinitiv, rupiah membuka perdagangan hari ini dengan melemah tipis 0,04% ke Rp 14.240/US$. Setelahnya rupiah berbalik menguat tipis 0,04%, sebelum berbalik melemah ke Rp 14.265/US$ pada pukul 9:13 WIB.


Kemarin, Kementerian Ketenagakerjaan AS melaporkan inflasi inti pada Agustus 2021 adalah 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Melambat dibandingkan Juli 2021 yang sebesar 0,3% dan menjadi yang terendah dalam enam bulan terakhir.

Dibandingkan dengan Agustus 2020 (year-on-year/yoy), laju inflasi inti adalah 4%. Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4,3% dan menjadi yang terendah dalam tiga bulan terakhir.

Melambatnya laju inflasi membuat bank sentral AS (The Fed) tidak perlu buru-buru dalam melakukan tapering. Dolar AS pun kehilangan tenaga untuk menguat. Inflasi merupakan salah satu acuan bank The Fed dalam memutuskan kapan melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

"Inflasi yang melambat membuat kecemasan akan semakin tingginya kenaikan harga mereda, dan seharusnya membuat tekanan bagi The Fed untuk melakukan tapering di bulan September menjadi berkurang," kata Rodrigo Catril, analis mata uang senior di National Australia Bank (NAB), dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC International, Selasa (15/9).

Meski demikian, ia menyebut kemungkinan tapering di bulan November atau Desember masih besar.

"Tetapi, tapering di tahun ini kemungkinan masih akan terjadi pada bulan November atau Desember," katanya.

Ketika tapering dilakukan dolar AS akan diuntungkan, sebab langkah yang akan dilambil oleh bank sentral setelahnya adalah normalisasi suku bunga.

Sementara itu, Carol Kong, analis dari Commonwealth Bank of Australia (CBA) melihat prospek dolar AS menjadi lebih bullish. Sebab, ia melihat biaya tenaga kerja akan terakselerasi dan pada akhirnya membuat inflasi naik. Apalagi saat ini The Fed mengatakan inflasi sudah mencapai target.

"Inflasi yang lebih tinggi dari target akan membuktikan lebih berkelanjutan ketimbang perkirakan anggota dewan The Fed," kata Kong.

Jika itu terjadi, maka The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga lebih cepat ketimbang prediksi pasar.

"Hal tersebut akan membuat The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pasar, dan akan membuat dolar AS kembali ke jalur penguatan, tambahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading