Bos BRI: Bukan Merger, Begini Bentuk Bisnis Pegadaian & PNM

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
14 September 2021 12:25
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan kinerja positif di tengah pandemi, terbukti hingga akhir kuartal II 2021 kantongi laba Rp 12,54 triliun atau tumbuh double digit sebesar 22,93 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Terbentuknya holding ultra mikro yang dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dinilai memperkuat masing-masing anak usaha di lini bisnisnya. Pembentukan holding ini dilakukan dengan cara akuisisi saham PT Permodalan Nasional Madani (Persero)/PNM dan PT Pegadaian (Persero) oleh BRI.

Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan, dalam aksi korporasi tersebut hanya dilakukan akuisisi, sehingga tidak ada merger yang terjadi. Untuk itu, masing-masing perusahaan akan tetap berada pada core business-nya setelah proses tersebut selesai.

"Karena tidak merger, maka tidak ada yang berubah di dalam masing-masing entitas," kata Sunarso dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV, Selasa (14/9/2021).


Sunarso menjelaskan, dengan masuknya Pegadaian ke dalam ekosistem ultra mikro ini akan membuat bisnis perusahaan menjadi lebih sustain dan tetap bergerak di core business-nya yakni pembiayaan fidusia. Pasalnya, saat ini bisnis tersebut sudah mulai terganggu dengan adanya layanan pembiayaan yang lebih cepat, seperti pembiayaan yang diberikan oleh fintech.

"Pegadaian bisa bagi tugas dengan saudaranya di holding ultra mikro ini. Pegadaian menjadi lebih fokus untuk menangani layanan pinjaman secara gadai. Dan kemudian dengan begitu kapasitasnya bisa diperbesar di core kompetensinya di gadai," jelas dia.

Sedangkan untuk PNM, lanjutnya, akan menjadi basis group lending dan melakukan penguatan bisnis di masyarakat yang belum bankable. Sehingga perusahaan ini akan terus menjaring dan mendampingi masyarakat untuk bisa mengembangkan bisnis.

Setelahnya, nasabah tersebut bisa berpotensi untuk naik kelas ke sistem pembiayaan yang lebih kompleks, baik itu di Pegadaian maupun di BRI.

"Jadi strateginya PNM yang paling utama adalah menyediakan, menjadi provider daripada sumber pertumbuhan bru," tandasnya.

Adapun pemerintah telah mengalihkan saham seri B di PNM dan Pegadian ke BRI melalui mekanisme inbreng sehingga menandakan terbentuknya holding ultra mikro.

BRI menggelar penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Dalam prospektus yang dipublikasikan Selasa (31/8/2021), BRI menawarkan sebanyak-banyaknya 28,213 miliar Saham Baru Seri B atas nama dengan nilai nominal Rp 50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah Penambahan Modal dengan HMETD I.

Dengan harga pelaksanaan rights issue BBRI yakni Rp 3.400 per saham, pemerintah melaksanakan seluruh haknya sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya dalam BRI dengan cara penyetoran saham dalam bentuk lain selain uang (Inbreng) sesuai PP No. 73/2021.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mulai Muncul Prediksi Harga Rights Issue BBRI, Ini Analisanya


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading