Bingung Lihat Dolar AS Nih, Rupiah Bisa Sentuh Rp 14.200/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 September 2021 15:32
FILE PHOTO: A security guard walks past a montage of U.S. $100 dollar bills outside a currency exchange bureau in Kenya's capital Nairobi, July 23, 2015. REUTERS/Thomas Mukoya/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah melanjutkan tren penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (6/9/2021). Ekspektasi tapering tidak akan dilakukan sebelum akhir tahun membuat dolar AS terpuruk, di sisi lain aliran modal kembali masuk ke dalam negeri yang membuat rupiah perkasa.

Melansir data Refintiv, begitu perdagangan dibuka, rupiah langsung menguat 0,21% di Rp 14.230/US$, tetapi setelahnya sempat terpangkas hingga stagnan di Rp 14.260/US$.

Selepas tengah hari, apresiasi rupiah semakin besar hingga 0,42% ke Rp 14.200/US$. Sayangnya di akhir perdagangan terpangkas lagi ke Rp 14.220/US$, menguat 0,28% di pasar spot.


Aliran modal masuk ke dalam negeri kembali membuat rupiah perkasa. Di pasar saham, investor asing melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 342 miliar.

Sementara di pasar obligasi yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun 3,9 basis poin ke 6,093%. Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika yield turun artinya harga sedang naik, begitu juga sebaliknya. Ketika harga naik, berarti ada aksi beli, dan kemungkinan juga investor asing.

Selisih yield yang sangat besar membuat investor asing tentunya tergiur mengalirkan modalnya ke Indonesia setelah rilis data tenaga kerja AS yang mengecewakan, dan membuat ekspektasi tapering makin mundur.

Selain memicu capital inflow ke Indonesia, rilis data tersebut pada perdagangan Jumat pekan lalu memperparah kondisi dolar AS yang sudah terpuruk.

Data tenaga kerja AS merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) dalam memutuskan kapan waktu tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE). Data lainnya, inflasi, dikatakan sudah mencapai target, sehingga data tenaga kerja menjadi krusial.

Namun, data tenaga kerja AS justru mengecewakan. Departemen Tenaga kerja AS melaporkan penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP) bulan Agustus dilaporkan sebanyak 235.000 orang, jauh di bawah median survei Reuters terhadap para ekonom sebanyak 728.000 orang.

Tingkat pengangguran dilaporkan turun menjadi 5,2% dari sebelumnya 5,4%, sesuai dengan hasil survei Reuters, kemudian rata-rata upah per jam tumbuh 0,6% lebih tinggi dari bulan Juli 0,4%.

Meski tingkat pengangguran turun dan rata-rata upah per jam naik, tetapi yang lebih dilihat pelaku pasar adalah NFP. Sebab, mencerminkan kemampuan negara dengan perekonomian terbesar di dunia menciptakan lapangan pekerjaan.

Rilis tersebut menguatkan ekspektasi The Fed baru akan melakukan tapering di akhir tahun ini, dan tidak menutup kemungkinan mundur di awal tahun depan jika data NFP selanjutnya yang dirilis awal bulan depan juga buruk.

Selain itu, rapat kebijakan moneter The Fed di bulan ini juga dikatakan menjadi kurang penting akibat NFP yang mengecewakan.

"Data tenaga kerja terbaru memberikan alasan Jerome Powell (ketua The Fed) untuk tidak terburu-buru melakukan tapering, dia bisa mengatakan 'saya sudah memberi tahu anda sebelumnya', dan ini membuat rapat kebijakan moneter The Fed menjadi kurang penting," kata JJ Kinahan, kepala strategi pasar di TD Ameritrade di Chicago, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (3/9/2021).

Alhasil, dolar AS terpuruk. Pada Jumat lalu melemah 0,21%, dan dalam sepekan 0,7%. Jika dilihat ke belakangan, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini sudah turun dalam 10 dari 11 hari perdagangan.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Analis Bingung Menentukan Arah Dolar AS

Analis Bingung Menentukan Arah Dolar AS
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading