Erick Thohir Merger 4 Pelindo, Saham 2 Anak Pelindo Meroket!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
02 September 2021 10:25
Mobil ekspor di pelabuhan IPCC, Tanjung Priok. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham dua emiten anak usaha Pelindo II, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) melesat pada perdagangan Kamis pagi ini (2/9/2021).

Penguatan harga saham emiten jasa kepelabuhanan ini terjadi seiring dengan pemberitaan holding BUMN pelabuhan yang akan menempatkan induk usaha mereka, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) II atau Pelindo II sebagai holding dari Pelindo I, II, dan IV.

Data BEI mencatat, pada pukul 10.00 WIB, Kamis ini, saham IPCC melesat 7,44% di Rp 645/saham, dengan nilai transaksi Rp 32 miliar.


Salam IPCC bergerak menguat 5% sebulan terakhir dan 3 bulan terakhir juga melesat 22%. Secara tahun berjalan atau year to date, saham pengelola terminal pelabuhan peti kemas ini juga naik 22%.

Investor asing masuk Rp 119 juta dan sebulan asing juga beli bersih Rp 614 juta.

Sementara itu saham IPCM naik 6,63% di Rp 418/saham. Nilai transaksi sebesar Rp 49 miliar. Sepekan saham IPCM naik 7,18% dan sebulan naik 4,48%.

Dalam 3 bulan terakhir, saham perusahaan yang bergerak di bidang layanan pemanduan dan penundaan kapal dengan nama dagang IPC Marine Service ini naik 45% dan year to date naik 18%. Asing juga masuk Rp 733 juta dan sebulan asing masuk Rp 294 juta.

Pada Rabu kemarin (1/9), Kementerian BUMN di bawah kepemimpinan Menteri BUMN Erick Thohir akan menggabungkan empat perusahaan pelabuhan milik BUMN dan akan menyisakan Pelindo II sebagai induk usaha atau holding pelabuhan milik pemerintah.

Dengan adanya penggabungan ini, perusahaan tersebut akan memiliki nilai aset sebesar Rp 112 triliun.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan Pelindo II merupakan perusahaan pelabuhan milik pemerintah yang menjalankan bisnisnya sesuai dengan best practice di industri tersebut.

Dengan demikian, diharapkan dengan menjadikan perusahaan ini sebagai induk holding, maka anak usahanya akan dapat menyesuaikan standar tersebut.

"Jadi total aset dari penggabungan empat Pelindo ini menjadi Rp 112 triliun, pendapatan Rp 28,6 triliun. Jadi skalanya memang sudah masuk ke skala perubahan pelabuhan global," kata Kartika dalam konferensi pers 'Rancangan Penggabungan PT Pelabuhan Indonesia I, II, III, IV (Persero)', Rabu (1/9/2021).

"Memang kalau lihat best practice kepelabuhanan, pencapaian SLA [Service Level Agreement]. dan layanan memang Pelindo II yang sekarang ini ada menjadi leading sektor. diharapkan Pelindo lainnya menyesuaikan layanan dan efisiensinya untuk bisa mencapai benchmark yang ada di Pelindo II," terang mantan Dirut Bank Mandiri ini.

Dengan menjadikan Pelindo II sebagai holding usaha, secara otomatis Pelindo lainnya akan dilebur menjadi anak usaha berdasarkan masing-masing bisnis. Setelah menjadi holding, Pelindo II akan berganti nama menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero).

Entitas baru ini akan menjalankan empat bisnis utama melalui entitas yang berbeda, yang merupakan penggabungan dari bisnis Pelindo sebelumnya.

Empat bisnis tersebut antara lain adalah bisnis peti kemas dengan nama PT Pelindo Multi Terminal dan berkantor di Medan dan bisnis non-petikemas di bawah PT Terminal Petikemas Indonesia, berkantor di Surabaya.

Lalu bisnis logistic and hinterland development yang akan berkantor di Jakarta dengan nama PT Pelindo Solusi Logistik. Terakhir adalah bisnis marine, equipment and port services yang akan berkantor pusat di Makassar.

Adapun holding ini ditargetkan akan dapat rampung pada 1 Oktober 2021 mendatang. Saat ini perusahaan tengah menunggu terbitnya Peraturan Pemerintah terkait dengan penggabungan tersebut. Holding ini akan menyatukan Pelindo I, II, III, dan IV.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading