Singapura Pecah Rekor Covid, Dolarnya Malah Bangkit

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
01 September 2021 12:30
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam 2 hari terakhir, dolar Singapura merosot nyaris 1% melawan rupiah, dan pada perdagangan Rabu (1/9/2021) sempat merosot ke bawah Rp 10.600/SG$. Tetapi setelahnya, dolar Singapura bangkit.

Pada pukul 10.53 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.619,47, dolar Singapura menguat 0,14% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Dolar Singapura mampu menguat meski kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) di Singapura kembali menanjak. Singapura melaporkan adanya tambahan 156 kasus infeksi virus corona lokal baru pada Selasa kemarin. Jumlah kasus hari ini merupakan tertinggi dalam hampir enam minggu terakhir.


Dikutip dari Reuters, kasus infeksi lokal pada hari ini adalah yang tertinggi sejak 22 Juli 2021. Kini total kasus infeksi di Singapura mencapai 67.620 kasus dan 55 kasus kematian sejak munculnya wabah pada 2020 lalu. 

Meski demikian, Singapura termasuk salah satu negara yang vaksinasinya berjalan cepat. Berdasarkan data dari Worldometer, hingga saat ini sudah 75% warga Singapura yang mendapat vaksin penuh, dan 2,8% yang baru mendapat dosis pertama.

Meski demikian, rupiah sedang perkasa dalam dua hari terakhir, tetapi tanda-tanda akan menguat sebenarnya sudah terlihat pasca simposium Jackson Hole di Amerika Serikat (AS) Jumat pekan lalu.

Sebelumnya, rupiah memang tertekan pada pekan lalu sebab isu tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) oleh bank sentral AS (The Fed) sedang "panas". Tidak sekedar isu, risalah rapat kebijakan moneter The Fed bulan Juli menunjukkan tapering bisa dilakukan di tahun ini.

Situasi tersebut menjadi tidak menguntungkan bagi rupiah. Tapering pernah terjadi di tahun 2013 dan hasilnya tidak baik bagi pasar finansial global. Saat itu terjadi, aliran modal keluar dari negara emerging market dan kembali ke Amerika Serikat. Pasar finansial global menjadi bergejolak, yang disebut taper tantrum. Rupiah saat itu terus mengalami tekanan hingga di tahun 2015.

Tetapi, situasi berubah pasca simposium Jackson Hole Jumat pekan lalu. Saat itu ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan sepakat dengan mayoritas koleganya jika tapering "akan tepat dilakukan di tahun ini"

Meski demikian, pasar saham AS (Wall Street) justru menguat merespon penyataan tersebut, yang berarti direspon positif oleh pelaku pasar, yang bisa berdampak pada penguatan IHSG hari ini.

Artinya, langkah The Fed untuk terus mengkomunikasikan tapering dengan pasar efektif meredam taper tantrum yang mungkin terjadi seperti di tahun 2013.

Aliran modal pun kembali masuk ke Indonesia, yang membuat rupiah perkasa. Hal tersebut terindikasi dari penurunan yield obligasi (Surat Berharga Negara/SBN) tenor 10 tahun yang terus menurun sejak awal pekan ini. Saat ini berada di kisaran 6.054%, turun 2,3 basis poin dari kemarin.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika yield turun artinya harga naik. Saat harga naik artinya ada aksi beli, dan kemungkinan besar oleh investor asing yang ingin mendapatkan imbal hasil tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading