Newsletter

Tak Selamanya Buruk, 'Hantu' CAD Bisa Bantu IHSG Bangkit

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 August 2021 06:22
cover topik neraca dagang konten

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol Kamis kemarin, tidak tanggung-tanggung kemerosotannya lebih dari 2% ke 5.992,322. Meski merosot tajam, investor asing masih melakukan aksi beli bersih (net buy) di pasar saham Indonesia sebesar Rp 339 miliar. Sehari sebelumnya bahkan mencapai Rp 1,12 triliun.

Melihat asing masih memiliki minat beli, IHSG berpeluang bangkit pada perdagangan hari ini, Jumat (20/8/2021). Apalagi, "hantu" CAD (current account defisit) yang selama ini menjadi batu sandungan bagi perekonomian Indonesia, kali ini bisa membantu IHSG untuk bangkit. CAD dan faktor-faktor yang mempengaruhi pasar finansial dalam negeri dibahas pada halaman 3. 


jkse

Kemarin, isu tapering yang kemungkinan dilakukan di tahun ini memberikan pukulan telak tidak hanya bagi IHSG tetapi rupiah juga ikut tertekan melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) oleh bank sentral AS (The Fed) seharusnya memberikan dampak lebih besar ke rupiah, tetapi Mata Uang Garuda masih cukup tangguh. Sepanjang perdagangan rupiah memang berada di zona merah, tetapi sukses memangkas pelemahan menjadi 0,21% di Rp 14.400/US$.

Sementara itu di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) bervariasi, ada yang turun tajam, ada juga yang naik tipis.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan dengan harga obligasi. Ketika yield turun, harganya naik dan sebaliknya.

idr

Rilis risalah rapat kebijakan moneter The Fed edisi Juli yang menunjukkan peluang tapering di tahun ini, sebab inflasi dikatakan sudah mencapai target dan pemulihan pasar tenaga kerja juga hampir sesuai ekspektasi.

"Melihat ke depan, sebagian besar partisipan (Federal Open Market Committee/FOMC) mencatat bahwa selama pemulihan ekonomi secara luas sesuai dengan ekspektasi mereka, maka akan tepat untuk melakukan pengurangan nilai pembelian aset di tahun ini," tulis risalah tersebut.

Sementara itu dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Langkah ini sesuai dengan ekspektasi pasar.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Agustus 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," sebut Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai RDG.

Saat ini, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi fokus utama MH Thamrin.

Meski mempertahankan suku bunga, BI berkomitmen menjaga kecukupan likuiditas di perekonomian nasional. Ini dilakukan dengan injeksi likuiditas atau quantitative easing.

"Di pasar keuangan, kondisi likuiditas tetap longgar. Bank Indonesia akomodatif dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Agustus 2021, Kamis (19/8/2021).

Sementara itu guna meredam dampak tapering, Perry mengungkapkan sudah punya strategi bahkan sudah dilakukan sejak Februari lalu.

"(Tapering) akan menaikkan suku bunga pasar dan yield (imbal hasil) US Treasury Bond. Pada Februari yield sudah naik dan mempengaruhi appetite investor global di negara-negara berkembang, pada akhirnya itu juga mempengaruhi kita," kata Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Agustus 2021.

BI, lanjut Perry, terus berupaya melakukan stabilisasi di pasar, terutama jika terjadi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ini dilakukan di pasar valas maupun Surat Berharga Negara (SBN).

"BI sudah melakukan intervensi di pasar spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forwards). Kemudian investor asing melepas SBN, BI sudah membeli Rp 8,6 triliun dari Rp 11 triliun yang keluar. Kami bersama Kementerian Keuangan mengelola ini agar tetap stabil," jelas Perry.

Selain itu, tambah Perry, BI tetap menjaga daya tarik pasar keuangan Indonesia. Ini dilakukan dengan menjaga selisih yield antara SBN dan obligasi pemerintah di luar negeri, terutama AS.

Sayangnya pasar finansial Indonesia belum merespon pengumuman kebijakan BI tersebut, sebab baru diumumkan beberapa menit sebelum bel akhir perdagangan berbunyi.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Wall Street Bervariasi, Dow Jones Masih Merah

Wall Street Bervariasi, Dow Jones Masih Merah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading