Diskon PPnBM Tak Diperpanjang, Saham Otomotif Melesat!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
19 August 2021 10:08
Pameran Otomotif IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta. CNBC Indonesia/Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas harga saham emiten otomotif menguat pada awal perdagangan pagi ini, Kamis (19/8/2021), di tengah kabar pemerintah memutuskan untuk tidak akan memperpanjang kebijakan insentif bagi sektor otomotif, yaitu diskon 100% untuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Berikut pergerakan saham otomotif, pukul 09.34 WIB:

  1. Indomobil Multi Jasa (IMJS), saham +9,36%, ke Rp 374, transaksi Rp 26 M


  2. Indomobil Sukses Internasional (IMAS), +6,74%, ke Rp 950, transaksi Rp 6 M

  3. Astra International (ASII), +0,96%, ke Rp 5.275, transaksi Rp 45 M

  4. Selamat Sempurna (SMSM), +0,37%, ke Rp 1.360, transaksi Rp 2 juta

  5. Astra Otoparts (AUTO), 0,00%, ke Rp 1.020, transaksi Rp 224 juta.

Menurut data BEI, saham anak duo Indomobil melesat. Saham IMJS melonjak 9,36% ke Rp 374/saham, melanjutkan penguatan kemarin sebesar 6,88%. Dalam sepekan saham ini naik 16,88%, sementara dalam sebulan melejit 29,86%.

Sementara saham sang induk IMAS terkerek 6,74% ke Rp 950/saham, setelah kemarin terapresiasi 2,30%. Ini membuat saham IMAS melambung 11,49% dalam sepekan dan tumbuh 12,87% dalam sebulan.

Di posisi ketiga ada saham induk Grup Astra ASII yang naik 0,96%. Dengan ini, saham ASII sudah melaju di zona hijau selama 5 hari beruntun. Praktis, dalam sepekan saham ini menguat 6,93%.

Berbeda dengan sang induk, saham anak usaha ASII, AUTO, masih belum bergerak di harga penutupan sebelumnya, Rp 1.020/saham.

Tidak hanya Grup Indomobil dan Astra saja, saham emiten sparepart SMSM juga berhasil menguat 0,37%, setelah kemarin terkoreksi 1,09%.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu memastikan tidak akan memperpanjang kebijakan insentif PPnBM.

Adapun kebijakan insentif diskon PPnBM 100% akan berakhir di Agustus 2021 setelah sebelumnya diperpanjang dari Mei. Ini berlaku bagi pembelian mobil baru dengan kapasitas silinder 1.500 cc.

Ia menyebutkan, kebijakan insentif PPnBM akan sama seperti yang telah diperbaharui pada Mei lalu yakni diskon 100% hanya sampai Agustus dan September-Desember hanya akan diberikan diskon 25% untuk pembelian mobil baru.

"Untuk 1500 cc itu sampai Agustus 2021, dan sebenarnya masih ada insentif yang lain, yaitu untuk yang lanjutnya September-Desember itu 25%," ujarnya dalam diskusi virtual, Rabu (18/8/2021).

Menurutnya, diskon PPnBM ini diberikan pemerintah sejak awal tahun untuk mendorong konsumsi terutama kelas menengah atas. Di mana kelompok ini selama pandemi ini lebih memilih untuk menyimpan uangnya daripada membelanjakannya.

"Ini adalah logikanya untuk mendorong konsumsi karena kita tahu 2020 bahkan 2021 tabungan masyarakat kelas menengah di perbankan tumbuhnya masih double digit. Jadi masih sangat banyak likuiditas yang ada di kantong masyarakat kelas menengah," kata dia.

Sektor otomotif dipilih karena dinilai memberikan multiplier efek yang maksimal. Mulai dari tenaga kerja hingga industrinya sendiri.

"Mobil kita berikan supaya multiplier effect maksimum secara domestik kita pastikan itu hanya untuk yang local purchase di atas 60%, artinya memang industri dalam negeri. Ketika membeli mobil, dia keluarkan likuiditas dari tabungannya, itu kita inginkan karena memutar roda ekonomi lebih cepat lagi. Tapi juga karena local purchase tinggi kita harapkan ini ada multiplier effect bagi UMKM di dalam negeri dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor yang bersangkutan," jelasnya.

Langkah ini pun dinilai sangat berhasil karena penjualan kendaraan bermotor meningkat tajam yakni 1.444% secara tahunan atau year on year (yoy) per Mei 2021. Peningkatan penjualan juga meningkat di hingga paruh pertama tahun ini.

Diharapkan ke depannya atau di kuartal III masih akan meningkat karena kebijakan diskon 100% berlanjut hingga Agustus dan hingga akhir tahun tetap diberikan dengan nominal yang lebih rendah yakni 25%.

"Ini terlihat sekali 2020-2021 loncatan pembelian kendaraan motor tinggi sekali karena base-nya rendah. Juni 2021 sudah sangat kuat penjualannya. Lalu lanjut sampai ke Agustus, ada tambahan 2 bulan dan setelah itu insentif nggak hilang, masih ada 25% dari PPnBM. Dan ini kita lihat insentifnya masih kuat, nanti kita lihat bagaimana ini berhasil mendorong konsumsi, dan kita akan pantau terus," tegasnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Citigroup Prediksi Penjualan Mobil Bakal Naik 2 Kali Lipat


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading