Dear Emas! Habis Ngeri, Terbitlah Ramalan Terbang Tinggi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 August 2021 17:20
Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia stabil di perdagangan Senin (16/8/2021), berbeda dengan awal pekan lalu yang bergerak bak roller coaster. Emas kemudian diramal akan terus merosot, tetapi nyatanya justru berbalik naik dalam 3 hari beruntun.

Pada pukul 15:39 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.775/troy ons, melemah 0,23% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Sementara sepekan lalu pada Senin (9/8/2021) pagi, pelaku pasar dikejutkan oleh flash crash atau jeblok nyaris 4,5% dalam tempo kurang dari 15 menit. Saat itu emas menyentuh US$ 1.864,37/troy ons yang merupakan level terendah sejak 31 Maret lalu.


xau

Emas kemudian berhasil memangkas pelemahan dan mengakhiri perdagangan Senin di US$ 1.684,37/troy ons, melemah 1.9%. Sehari berselang, emas melemah tipis 0,04%, baru pada Rabu hingga Jumat melesat nyaris 3%. Alhasil, sepanjang pekan lalu emas yang sebelumnya terpuruk sukses mencatat penguatan 0,93%.

Ketika mengalami flash crash, banyak yang meramal emas akan terus merosot. Dominic Schnider, kepala investasi di UBS Global Wealth Management memprediksi emas bisa jeblok ke US$ 1.600/troy ons bahkan lebih rendah lagi di kuartal I-2021.

Schnider melihat imbal hasil riil (real yield) di AS akan "kurang negatif" yang akan membuat harga emas merosot.

Emas dan obligasi AS (Treasury) sama-sama dianggap sebagai safe haven. Bedanya, Treasury memberikan imbal hasil, sementara emas tidak. Imbal hasil riil Treasury saat ini sudah negatif bahkan cukup dalam, sebab inflasi yang tinggi di AS.

Ketika riil yield negatif dalam, emas akan diuntungkan, tetapi ketika riil yield negatifnya semakin berkurang apalagi sampai positif lagi, emas tentunya akan tertekan.

"Saya pikir anda akan melihat lebih banyak outflow (dari emas). Saya tidak akan terkejut jika pada satu titik 20 juta ons emas meninggalkan pasar ETF dan berjangka. Itu artinya harga emas turun," kata Schnider sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (13/8/2021).

Tetapi, melihat kinerja emas dalam 3 hari terakhir banyak analis yang kini memprediksi emas akan terbang tinggi lagi. Jebloknya harga emas dunia pada pekan lalu dikatakan sudah dengan dengan level bottom.

Ketika harga sudah berada di bottom, maka peluang berbalik menguat menjadi lebih besar.

"Jika harga emas terus bergerak sideways dalam jangka pendek, hal tersebut menjadi indikasi jebloknya harga belakangan ini sudah dekat dengan bottom," kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (13/8/2021).

Hal senada diungkapkan Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, mengatakan secara teknikal emas yang rebound dari flash crash pekan lalu membentuk pola double bottom yang sempurna untuk jangka panjang.

Pola tersebut dikatakan sebagai sinyal tren kenaikan harga (bullish).

"Anda tidak bisa menciptakan teknikal yang lebih bullish untuk emas saat ini. Investor akan melihat seberapa besar aksi beli pekan depan (pekan ini)," kata Hansen sebagaimana dilansir Kitco, Jumat (13/8/2021).

Analis dari Bloomberg Intelligence, juga mengungkapkan jebloknya harga di awal pekan lalu merupakan suatu kemerosotan dari tren bullish (kenaikan dalam jangka panjang).

"Peningkatan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat dan ketergantungan terhadap quantitative easing (QE) membuat kami tetap mempertahankan proyeksi kenaikan harga emas, terutama setelah penurunan tajam dari level puncak di 2020," kata Mike McGlone, analis komoditas di Bloomberg Intelligence.

McGlone juga melihat di sisa tahun ini emas lebih mungkin akan mendekati US$ 2.000/troy ons, ketimbang tertahan di bawah US$ 1.700/troy ons.

"Katalis yang bisa membawa emas ke US$ 2.000/troy ons adalah sedikit koreksi pasar saham dan berlanjutnya penurunan yield Treasury. Kami melihat emas lebih mungkin mendekati resisten US$ 2.000 ketimbang di bawah US$ 1.700 di semester II tahun ini," katanya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading