Asing Jualan Rp1,5 T, Saham Bukalapak ARA atau ARB Hari Ini?

Market - Putra, CNBC Indonesia
16 August 2021 07:40
Bukalapak (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Jumat (6/8), atau 5 hari perdagangan, saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) masih menguat 12,35% di level Rp 955/saham pada penutupan perdagangan Jumat (13/8), dari harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Rp 850/saham.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BUKA ditutup turun 1,04% di Rp 955/saham, dengan nilai transaksi saham harian menembus Rp 3,15 triliun dan volume perdagangan 3,24 miliar saham.

Investor asing masuk sebesar Rp 310 miliar pada Jumat lalu, kendati dalam sepekan perdagangan terakhir asing masih melego saham ini alias net sell Rp 1,58 triliun di pasar reguler.


Sebagai informasi, laju saham BUKA memang menjadi perhatian pasar mengingat BUKA adalah emiten dengan raihan dana IPO terbesar sepanjang sejarah BEI yakni Rp 22 triliun.

Sebab itu, ketika sahamnya dalam 2 hari terakhir menyentuh auto reject bawah (ARB) 7% yakni Kamis 12 Agustus (minus 6,76%) di Rp 965 dan Selasa 10 Agustus (minus 6,76%), pelaku pasar terutama investor ritel pun bereaksi keras.

Padahal, pada hari pertama perdagangannya, pada Jumat (6/8) saham BUKA terbang mencapai harga auto reject atas (ARA) dengan kenaikan 24,71% ke harga Rp 1.060/saham dari harga pembukaannya di Rp 850/saham dengan antrean beli yang sempat menembus angka 25 juta lot.

Kemudian, pada perdagangan hari kedua juga sempat mengalami ARA namun aksi jual yang cukup besar terjadi sepanjang perdagangan, sehingga saham ini harus berpuas untuk finis pada posisi apresiasi 4,72% di Rp 1.110/saham.

Dengan koreksi pada perdagangan hari Jumat, maka apabila investor membeli saham di level ARA pada hari kedua yakni di harga Rp 1.325/unit artinya sang investor sudah merugi 28%.

Apabila Anda berinvestasi di BUKA di harga pucuk senilai Rp 100 juta, maka Anda harus menerima kenyataan pahit merugi floating loss Rp 28 juta.

Harga saham yang turun ini membuat investor ritel yang 'tersangkut' dan terlanjur membeli di harga atas tak puas, bahkan mengamuk karena merasa telah rugi membeli sahamnya.

Kekecewaan ini diungkapkan para investor melalui pemberian rating dan komentar aplikasi Bukalapak di Playstore.

Akun Android Burhani Sulthon memberikanrating1 bintang dan komentar, "Salam nyangkut ARB, kalo udah ARA ane kasih 5, Gan... Trims."

Komentar lainnya dari akun Indra, "ARB, beli auto rugi."

Rating bintang satu lainnya juga diberikan oleh akun Naufal Dwinanda yang ikut berkomentar, "segini dulu sebanding lurus dengan harga BUKA."

Komentar ini ditanggapi oleh akun Bukalapak, "Hi Kak, terima kasih atas perhatiannya terhadap Bukalapak. Sebagai informasi, transaksi saham Bukalapak di bursa saham, setelah melakukan listing murni merupakan mekanisme pasar, ya. Terima kasih :)."

Namun komentar ini tak sepenuhnya negatif. Salah satu akun Julianto Salim mengatakan bahwa pemberian rating dan harga saham sama sekali tidak berhubungan sehingga komentar-komentar ini tidak relevan dengan performa aplikasi.

"Pada bocil ya baru terjun di saham. Rugi itu masalah mekanisme pasar. Kenapa rating di Playstore? Playstore itu untuk ngerating apps-nya bagus ga, ada kendala ga pas penggunaannya. Lu yang pencet beli di haka [hajar kanan] malah lu rating di sini. Logikanya tolong dipake minimal 1% aja kangan 0%. Keliatan bodohnya," kata dia.

Komentar senada lainnya disampaikan oleh akun Nur Akhlish.

"Nyangkut di saham pada teriak di sini. Emang Bukalapak nyuruh lu beli sahamnya?? Dasar bodoh. Kalo mau untung ngga mau rugi jangan beli saham, masukin celegan aja. Lot ngga seberapa banyak tingkah. Tetap bintang 5 buat Bukalapak," katanya.

Broker yang jual

Tim Riset CNBC Indonesia menilai, ambruknya saham Bukalapak tergolong wajar mengingat aksi jual asing yang sangat masif sejak emiten teknologi ini melantai membuat investor lokal tak berkutik.

Sejak awal 'manggung' alias IPO, asing telah melakukan net sell dengan total Rp 1,71 triliun di seluruh pasar (di pasar reguler Rp 1,58 triliun).

Tercatat broker PT Citigroup Sekuritas (CG) menjadi pelaku utama penjualan bersih saham di mana sejak Bukalapak melantai Jumat pekan sebelumnya, CG sudah menjual bersih saham buka sebanyak 9,75 juta lot (setara 975 juta saham, 1 lot isi 100 saham) di harga rata-rata penjualan Rp 1.133/unit.

Mengingat Citigroup bukan merupakan underwriter saham BUKA yang mendapatkan jatah mayoritas saham yang diterbitkan saat IPO.

Kemungkinan besar CG merupakan investor lama yang masuk sebelum IPO di mana terdapat 10% saham para investor lama yang tidak dikunci menurut prospektus yang diterbitkan oleh Bukalapak.

Memang ada kemungkinan bahwa sang investor yang menggunakan broker CG melakukan pembelian saham dari lead underwriter dan kemudian memindahkanya ke broker CG melalui jalur belakang alias backdoor.

Akan tetapi hal ini tidak lumrah terjadi mengingat, broker lead underwriter yang memberikan jatah saham kepada sang investor tentu saja berekspektasi bahwa sang investor akan melakukan transaksi di broker tersebut.

Dengan demikian, sang broker akan menerima keuntungan brokerage fee sebagai tambahan 'cuan' selain allotment fee karena telah memberikan jatah saham BUKA ke investor tersebut.

Maka dari itu kemungkinan besar investor yang menggunakan broker CG bukanlah investor yang masuk saat penawaran perdana namun merupakan investor lama saham Bukalapak yang sudah masuk sebelum perseroan melantai.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IPO Rp 850, Cek Saham Para Investor Bukalapak yang Terdilusi!


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading