Roundup

Isu Amazon Cari Mitra Bank di RI, Cek Kabar Sebenarnya!

Market - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
11 August 2021 09:00
A sign for the new Amazon Go store on 7th Avenue at Amazon's Seattle headquarters in Seattle, Washington, U.S., January 29, 2018.   REUTERS/Lindsey Wasson

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa e-commerce global, Amazon milik crazy rich Jeff Bezos, disebut-sebut tengah mencari mitra strategis untuk pengembangan bank layanan digital di Tanah Air guna menciptakan ekosistem sendiri di tengah ketatnya persaingan saat ini.

Hanya saja belum terungkap mitra yang akan dipilih oleh Amazon tersebut. Amazon dikabarkan menjajaki kemitraan dengan pelaku pasar keuangan digital di Tanah Air, termasuk bank mini (bank dengan modal inti Rp 2-5 triliun, Bank BUKU II).

Menurut Managing Partner IndoGen Capital, Chandra Firmanto, yang biasa mendapatkan informasi berkaitan dengan startup global, Amazon dan sejumlah investor global memang melirik pasar digital di Indonesia termasuk sektor layanan bank digital.


Hanya saja, nama-nama besar seperti Amazon pun diketahui tidak hanya menjajaki satu pihak, tapi juga berupaya mencari calon potensial lain yang bisa berpeluang bermitra.

"Ada Amazon, jadi semuanya di-approach [didekati], bayangkan kalau Anda jadi investor Amazon, gak mungkin Anda pergi cuma satu tempat [menjajaki mitra], mereka itu ga berfikir terlalu lama, decision making-nya cepat," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat pekan lalu (6/8).

"Banyak lagi [siap masuk], saya belum tahu, tapi gak cuma Amazon, yang jelas kalau dia [calon investor ini] pemain besar dunia, dia pasti ke Indonesia," tegas Chandra yang berpengalaman menilai valuasi startup di Silicon Valley AS ini.

"Belum lagi ada Flipkart [aplikasi e-commerce] dari India, orang ga fikir Flipkart itu seperti apa, orang-orang melupakan itu, padahal kapasitasnya besar. Yang saya tau banyak yang deketin kita dari global," kata Chandra yang juga mentor for Japan External Trade Organization and Korean Trade Association ini.

Terkait dengan bank-bank digital, berdasarkan catatan CNBC Indonesia, sejumlah bank mini memang dikejar deadline ketentuan penambahan modal yang diatur Otoritas Jasa Keuangan (OJK), minimal Rp 2 triliun tahun ini dan tahun depan Rp 3 triliun jika tidak turun kelas.

Sebab itu manajemen bank-bank ini mulai berupaya meningkatkan modal, termasuk dari investor lama dan suntikan baru dari investor strategis. Bank-bank ini kemudian melancarkan aksi korporasi penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dan juga tanpa HMETD alias private placement untuk mencari suntikan investor baru.

Beberapa bank yang akan menggelar rights issue yakni bank milik pengusaha nasional Alim Markus, PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) yang akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2,28 miliar saham baru.

Lalu ada PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) juga sedang melaksanakan penambahan modal melalui rights issue. Berikutnya ada PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) yang rights issue dengan dana sebanyak-banyaknya Rp 500 miliar.

Kemudian ada PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) juga akan rights issue sebanyak 4.665.700 saham, lalu PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) berencana rights issue sebanyak-banyaknya 20 miliar saham.

Selanjutnya ada bank yang disokong peer to peer lending Kredivo, PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI) yang akan melakukan penerbitan saham baru, berikutnya bank yang dicaplok startup fintech Tanah Air Akulaku (PT Akulaku Silvrr Indonesia) yakni PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga bersiap rights issue.

Beberapa bank tersebut juga mulai ancang-ancang masuk ke bank digital.

Sebelumnya Amazon dikabarkan masuk ke PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) atau Bank Banten lewat Amazon Web Services (AWS), anak usaha Amazon.com.

Namun Direktur Utama Bank Banten Agus Syabarrudin menegaskan bahwa kerja sama yang dimaksud pada tahap ini baru sebatas komputasi awan atau cloud computing.

Amazon Web Services adalah layanan berbasis cloud computing yang di sediakan oleh Amazon sejak tahun 2002. 

Adapun terkait dengan kemitraan strategis dalam bentuk investasi, Agus Syabarrudin tak menampik bahwa salah satu investor yang tengah dijajaki perseroan untuk menjadi investor BEKS ialah Amazon.

Hal ini menyusul agenda penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue yang akan digelar oleh bank eks Bank Pundi ini.

"Oktober kan kami mau rights issue dan lagi coba cari strategic investor untuk memperkuat Bank Banten, lagi roadshow, salah satunya Amazon, masih ada juga yang lain. [Investor mau masuk karena] mereka lihat potensi bisnis Bank Banten," kata Agus kepada CNBC Indonesia, Selasa (10/8/2021).

Di samping untuk memperkuat modal, perusahaan juga tengah berupaya melakukan digitalisasi proses layanan perbankan lewat kerja sama cloud dengan AWS yang akan dirampungkan pada Agustus ini.

Agus menegaskan pengembangan sistem teknologi informasi ini dilakukan demi mendorong digitalisasi bank daerah yang dulu bernama Bank Eksekutif ini.

"Jadi harus ke sana, dan mudah-mudahan kita terus bergerak. Mudah-mudahan pertemuan lanjutan dengan AWS ini bisa lebih mengerucut dan Agustus ini bisa kebentuk polanya gimana. Yang jelas Amazon kan ada kemampuan cloud yang hebat," jelasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Country Manager AWS Indonesia, Gunawan Susanto, memang tidak menjelaskan soal rencana Amazon secara umum. Namun dia mengatakan bahwa dalam bertransformasi menuju dunia digital, ada dua hal penting yang harus diperhatikan oleh industri keuangan, yaitu fitur keamanan seperti faktor keamanan, autentikasi, otorisasi, dan proteksi data.

Satunya lagi yaitu fitur model tata kelola yang terdiri dari faktor auditability, artifact management, model explainability, dan model monitor.

"Konsumen saat ini yang didominasi oleh mereka yang telah dapat mengakses internet dan teknologi menginginkan layanan keuangan yang lebih mudah dan beragam," kata Gunawan Susanto, dilansir Detiknews, dalam keterangan resminya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading