Duh! Masih Ada Pengusaha RI Enggan Tinggalkan Dolar AS

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
05 August 2021 15:20
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this picture illustration taken May 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan saat ini, pelaku usaha masih enggan meninggalkan dolar dalam melakukan transaksi perdagangan internasional dengan negara mitra yang sudah menyepakati local currency settlement (LCS).

Negara mitra yang sudah menyepakati LCS di antaranya adalah Jepang, Malaysia, dan Thailand. Sementara dengan China, Bank Indonesia (BI) dengan otoritas setempat sudah menandatangani kerjasama, namun masih ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.

Ketua Bidang Perdagangan Apindo Benny Soetrisno menjelaskan saat ini penggunaan mata uang lokal settlement currency dalam transaksi perdagangan masih relatif kecil. Seiring dengan rendahnya likuiditas dari mata uang tersebut.


Selain itu, pricing discovery atau penentuan harga tidak efisien karena belum terdapat direct quotation antar mata uang lokal.

"LCS dengan Malaysia dan Thailand ini kita masih belum lihat hasilnya di lapangan. Karena pengusaha masih menginginkan dolar karena hegemoni dolar masih dianggap belum turun. Artinya semua negara beranggapan devisa itu menggunakan dolar," jelas Benny dalam sebuah webinar, Kamis (5/8/2021).

Padahal, berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI) kesepakatan transaksi LCS dengan Malaysia dan Thailand sudah terjalin sejak 2017.

"Mekanisme perdagangan masih dilakukan secara cross-rate sehingga yang terbentuk tidak efisien. Kondisi ini dapat menjadi insentif bagi pengembangan LCS yang memungkinkan mekanisme direct trading yang lebih efisien," kata Benny melanjutkan.

Selain itu, kenapa pengusaha masih belum menggunakan transaksi LCS, karena terdapat regulasi yang membatasi non-internasionalisasi mata uang lokal.

Lagi pula, alasan pengusaha cenderung menggunakan hard currency atau dolar AS, karena masing-masing supplier mitra dagang sampai saat ini juga masih menginginkan menggunakan dolar.

Selain itu juga kewajiban pengusaha dalam pembayaran utang juga masih membutuhkan dolar, serta regulasi dari otoritas dan baru hanya mengerti mengenai volatilitas dolar terhadap rupiah, sehingga pertimbangan dalam hitung-menghitungnya masih mudah dilakukan.

Kendati demikian, kata Benny Apindo antusias dan mendorong implementasi LCS, khususnya antara Indonesia dan China yang diyakini akan menguntungkan pelaku usaha.

Apindo berharap agar Bank Indonesia memberikan fasilitas renminbi atau rupiah baik melalui direct deal maupun lelang, kemudian memasang harga komparatif swap renminbi dan rupiah sebagai tenor.

Apindo juga berharap BI bisa mendirikan sistem kliring renminbi di Indonesia sebagai infrastruktur menciptakan likuiditas renminbi. Juga mendorong bank untuk menggunakan direct settlement untuk mengurangi dependensi terhadap dolar.

Jika transaksi LCS dan Indonesia sudah resmi terlaksana, Apindo siap untuk menggunakan renminbi sebagai mata yang utama untuk transaksi perdagangan internasional antara Indonesia dan China.

"Kemudian akan mensyaratkan mitra perdagangan dari China untuk menggunakan renminbi dalam quotation perdagangan. Serta akan menginformasikan daftar nama perusahaan yang memiliki hubungan perdagangan dengan China kepada bank-bank tertentu secara periodik," jelas Benny.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tinggalkan Dolar AS, RI Hemat US$ 117 Juta Setiap Bulan!


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading