Saat India, Malaysia, sampai Indonesia Tinggalkan Dolar AS

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
05 August 2021 06:51
Infografis/Berani Lepas Ketergantungan Dolar AS, Apa Untungnya Buat RI?/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) telah berhasil menjalin kesepakatan dengan beberapa negara penggunaan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) dalam transaksi perdagangan maupun investasi.

Adalah Malaysia, Thailand dan Jepang serta China. Selanjutnya ada tiga negara lagi yang menjadi incaran BI.

"Ke depan, terdapat 3 negara yang akan dijajaki untuk melakukan kerjasama LCS yaitu India, Korea Selatan dan Filipina," kata Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Donny Hutabarat kepada CNBC Indonesia.


Dengan LCS maka kedua negara yang bekerja sama bisa mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sehingga kedua mitra dagang, tidak perlu menukar dolar AS terlebih dahulu jika ingin melakukan transaksi perdagangan dan investasi.

Transaksi melalui LCS ini mencakup penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung serta perdagangan antar bank untuk mata uang negara tersebut dan rupiah. Selain itu ada juga sharing informasi dan diskusi secara berkala antar otoritas.

Sejauh ini Indonesia sudah menjalankan LCS dengan Malaysia, Thailand, dan Jepang mencapai US$ 117,3 juta rata-rata setiap bulannya atau setara dengan Rp 1,68 triliun (kurs Rp 14.400/US$). Indonesia juga sudah sepakat dengan China dan akan diimplementasikan pada bulan ini.

"Pada awal Agustus 2021, terdapat penyempurnaan aturan untuk LCS Indonesia-Malaysia dan LCS Indonesia Jepang, serta implementasi LCS Indonesia-Tiongkok," jelas Donny.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menjelaskan lebih dari 90% perdagangan Indonesia dengan negara mitra, baik di kawasan Asia maupun luar Asia menggunakan dolar Amerika Serikat (USD).

"Dominasi USD sebagai settlement currency dalam transaksi perdagangan dan investasi menimbulkan ketergantungan tinggi terhadap USD di pasar valas domestik," kata Erwin.

Sehingga, lanjut Erwin penggunaan dolar AS yang tinggi menyebabkan tingginya sensitivitas pergerakan rupiah terhadap global shock seperti pandemi saat ini.

Selain itu, volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang berlebihan, kata Erwin berdampak negatif terhadap stabilitas harga atau inflasi dan dapat mengganggu kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi kewajiban utang luar negeri atau perdagangan.

"Oleh karena itu, dalam rangka mencapai dan memelihara stabilitas nilai tukar rupiah, serta mendorong pendalaman pasar keuangan non USD domestik, BI terus mengupayakan peningkatan penggunaan mata uang non-USD dalam transaksi perdagangan dan investasi dengan luar negeri," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Lagi Jadi Pecandu Dolar AS, Ekonomi RI Bisa Ngegas!


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading