Mangga Dua-Roxy Sepi, Ini Penampakan Keuangan Pengelola ITC

Market - Ferry Sandi & Monica Wareza, CNBC Indonesia
04 August 2021 07:10
Pengunjung melintas di kios yang terpampang tulisan

Jakarta, CNBC Indonesia - Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga beralih menjadi PPKM Level 4 yang diperpanjang hingga 9 Agustus mendatang ternyata berdampak serius bagi kondisi banyak pusat perbelanjaan, termasuk ITC.

Berdasarkan pantauan langsung CNBC Indonesia, gedung ITC yang biasanya ramai didatangi pengunjung dan penuh akan banyaknya tenant (para penyewa) kini kondisinya kosong melompong sejak pandemi menerpa Tanah Air.

Kondisi itu terlihat mulai dari ITC Roxy Mas, Glodok Plaza hingga Pusat Grosir Cililitan (PGC) yang beberapa tahun lalu merasakan masa kejayaan kini justru sepi.


"Sebelum PPKM kita bisa keluarin 50 unit, sekarang mungkin setengahnya, bahkan belum tentu setengahnya juga, dibanding PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tahun lalu, jauh lebih kerasa sekarang (penurunan penjualan)," kata Jonny Susanto PIC Dunia Computer yang berlokasi di lantai 3A PGC Cililitan kepada CNBC Indonesia, Senin (2/8/2021).

Tak hanya di lapangan parkir yang terlihat lowong, tapi juga beberapa toko bahkan ditutup oleh pengelolanya sejalan dengan masih terjadinya penyebaran Covid-19 yang terbilang tinggi di Jakarta yang menyebabkan konsumen menghindari transaksi tatap muka.

Nah, satu emiten yang berhubungan langsung dengan sektor ini adalah PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), anak usaha dari emiten properti Grup Sinarmas yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

Menurut laporan keuangan DUTI, perseroan berkedudukan di Jakarta Utara dengan proyek real estatnya meliputi pusat perbelanjaan ITC Mangga Dua, Ruko Textil Mangga Dua, Dusit Arkade Belanja Mangga Dua, dan Mangga Dua Mall.

Lainnya yakni Mangga Dua Court Apartment, Wisma Eka Jiwa, Jembatan Niaga I, II dan III, perumahan Taman Duta Mas, dan Mega ITC Cempaka Mas, serta Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati.

Tak hanya itu, proyek lainnya yakni Ruko Roxy Mas, ITC Fatmawati, Harcomas Mangga Dua, Jembatan Harcomas Mangga Dua dan Terowongan Harcomas Mangga Dua.

Kemudian ITC Roxy Mas dan Apartemen, dan Roxy II, yang seluruhnya berlokasi di Jakarta dan pusat perbelanjaan Mangga Dua Center di Surabaya.

Tahun lalu, laporan keuangan publikasi di Bursa Efek Idnonesia (BEI) menunjukkan terjadi penurunan kinerja.

Laba bersih DUTI di tahun lalu turun hingga 51,60% secara tahunan (year on year/YoY). Pada Desember 2020 tercatat laba bersih DUTI tinggal Rp 533,72 miliar, dibanding dengan laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,10 triliun.

Penurunan pendapatan perusahaan juga cukup dalam yakni mencapai 29,88% YoY menjadi senilai Rp 1,72 triliun dari tahun sebelumnya senilai Rp 2,45 triliun.

Pendapatan DUTI per Desember 2020Foto: Pendapatan DUTI per Desember 2020
Pendapatan DUTI per Desember 2020

Dari total pendapatan, terlihat porsi terbesar memang dari penjualan tanah, rumah tinggal dan ruko. Tapi perseroan juga mendapatkan sumbangan dari pendapatan sewa kendati ambles 25% menjadi Rp 489,73 miliar dari tahun sebelumnya Rp 656,91 miliar.

Sementara itu, di 3 bulan pertama tahun ini, mulai terlihat perbaikan kinerja dengan laba bersih mencapai Rp 2,28 miliar, tumbuh 73,80% dari periode yang saham tahun sebelumnya Rp 131,34 miliar.

Namun pendapatan masih turun 8,63% YoY menjadi senilai Rp 351,94 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 385, 19 miliar.

Pendapatan DUTI per Juni 2021Foto: Pendapatan DUTI per Juni 2021
Pendapatan DUTI per Juni 2021

Terlihat bahwa pendapatan sewa masih turun 27% menjadi Rp 107,07 miliar di kuartal I-2021, dari periode yang sama tahun lalu Rp 146,53 miliar.

Hingga saat ini perusahaan masih belum merilis laporan keuangan untuk periode yang berakhir pada Juni 2021 atau semester I.

Manajemen DUTI, dalam laporan keuangan menjelaskan dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja perusahaan. "Sejak awal tahun 2020, perlambatan perekonomian global dan dampak negatif yang terjadi pada pasar finansial utama di dunia yang diakibatkan oleh penyebaran pandemi Covid-19 pada tahun 2020," tulis manajemen, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (4/8).

Manajemen menjelaskan, dampak pandemi telah menimbulkan volatilitas yang tinggi pada nilai wajar instrumen keuangan, terhentinya perdagangan, gangguan operasional perusahaan, pasar saham yang tidak stabil dan likuiditas yang ketat pada sektor-sektor ekonomi tertentu di Indonesia.

Dampak itu termasuk industri real estat, yang dapat berkelanjutan dan berdampak terhadap keuangan dan operasional Grup DUTI.

"Kemampuan Indonesia untuk meminimalkan dampak perlambatan perekonomian global terhadap perekonomian nasional sangat tergantung pada tindakan pemberantasan ancaman Covid-19 tersebut, selain kebijakan fiskal dan kebijakan lainnya yang diterapkan oleh Pemerintah. Kebijakan tersebut, termasuk pelaksanaannya dan kejadian yang timbul, berada di luar kontrol Grup kami," tulis DUTI.

NEXT: Bagaimana Strategi ke Depan?

Strategi DUTI dan Prospek Emiten Ritel
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading