Review Valas Juli

Ada Momen Besar, Rupiah Cuma Menguat 0,24% Sepanjang Juli

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 August 2021 14:45
foto : CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mencatat penguatan tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang bulan Juli lalu. Padahal, ada momen besar yang sebenarnya bisa membuat rupiah menguat tajam.

Melansir data Refintiv, rupiah membukukan penguatan 0,24% ke Rp 14.460/US$ sepanjang bulan Juli. Rentang pergerakannya juga terbilang sempit di Rp 14.420/US$ hingga Rp 14.565/US$, bahkan menjadi yang tersempit sepanjang tahun ini.


idr

Pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) menjadi momen besar bagi rupiah di bulan Juli, yang memberikan peluang penguatan. Sebab The Fed masih belum memberikan detail kapan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) akan dilakukan. Malah, spekulasi The Fed tidak akan melakukan tapering di tahun ini justru semakin menguat yang membuat dolar AS jeblok di pekan terakhir Juli.

The Fed melihat perekonomian AS semakin kuat, tapi masih perlu melihat kemajuan substansial lebih lanjut, khususnya untuk pasar tenaga kerja dan inflasi, sebelum memulai tapering.

"Kami menggunakan pendekatan yang setransparan mungkin. Kita belum mencapai kemajuan substansial lebih lanjut," kata ketua The Fed, Jerome Powell, sebagaimana dikutip CNBC International, Kamis (29/7/2021).

Sementara itu untuk pasar tenaga kerja, Powell mengatakan masih perlu lebih kuat lagi, sebelum memulai tapering.

"Saya ingin melihat pasar tenaga kerja lebih kuat lagi dalam beberapa bulan ke depan sebelum memulai mengurangi QE yang saat ini senilai US$ 120 miliar per bulan," kata Powell.

Selain itu pada pekan lalu, rilis data pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam juga mengecewakan. Departemen Perdagangan AS melaporkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 6,5% di kuartal II, sedikit lebih tinggi ketimbang kuartal sebelumnya 6,3%, tetapi jauh di bawah estimasi Dow Jones sebesar 8,4%.

Selanjutnya, inflasi berdasarkan Personal Consumption Expenditure (PCE) di bulan Juni dilaporkan melesat 3,5% (year-on-year/YoY), lebih tinggi dari bulan sebelumnya 3,4% YoY, tetapi di bawah hasil polling Reuters sebesar 3,7%.

Pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun Juli 1991.

Inflasi PCE yang merupakan acuan The Fed dalam menetapkan kebijakan moneter, rilis yang lebih rendah dari ekspektasi, plus PDB yang juga lebih rendah dari prediksi membuat spekulasi tapering tidak akan dilakukan di tahun ini semakin menguat. Alhasil, indeks dolar AS jeblok 0,8% pada pekan lalu, membuat kinerjanya sepanjang Juli minus 0,28%.

Sementara itu Bank Indonesia (BI) dalam pengumuman bulan Juli memutuskan untuk mempertahankan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga bertahan masing-masing 2,75% dan 4,25%.

Kali terakhir BI menurunkan suku bunga acuan adalah pada Februari 2021. Selepas itu, suku bunga selalu ditahan dengan stabilitas nilai tukar rupiah menjadi alasan utama.

"Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan karena ketidakpastian di pasar keuangan global di tengah prakiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dari dampak Covid-19," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (22/7/2021).

HALAMAN SELANJUTNYA >>> PPKM Darurat Membuat Rupiah Sulit Menguat

PPKM Darurat Membuat Rupiah Sulit Menguat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading