JPMorgan Disebut Jualan 5 Kripto Ini, Apa Dampaknya ke Pasar?

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
26 July 2021 16:05
JPMorgan CEO Jamie Dimon (Photo: AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank investasi multinasional yang juga induk layanan keuangan asal Amerika Serikat, JPMorgan Chase dikabarkan menjadi bank besar pertama yang akan mengelola manajemen kekayaan dengan akses ke bitcoin dan aset kripto (cryptocurrency) lain kepada semua klien mereka.

Padahal, CEO JP Morgan Jamie Dimon termasuk salah satu orang yang secara terbuka sempat dengan lantang menentang bitcoin yang menurutnya adalah penipuan besar.

Dimon juga sempat mengatakan bahwa ia bukan pendukung bitcoin dan tidak peduli dengan aset kripto tersebut. Meskipun ia telah menyatakan pandangan pribadinya, banyak klien bank yang berkantor pusat di New York ini tidak sependapat dengannya.


Alhasil bisnis penasihat keuangan di JPMorgan yang mengelola dana US$ 630 miliar atau setara Rp 9.135 triliun (kurs Rp 14.500/US$) aset kekayaan, sekarang dapat menerima pesanan untuk membeli dan menjual lima produk kripto.

Kelima produk itu termasuk Bitcoin Trust Grayscale, Bitcoin Cash Trust, Ethereum Trust, produk Ethereum Classic, dan Bitcoin Trust Osprey Funds.

Perubahan kebijakan tersebut berlaku efektif pada 19 Juli, menurut memo internal yang diperoleh Business Insider, dikutip dari Forbes, Senin ini (26/7).

Kebijakan baru ini berlaku untuk semua klien JPMorgan dari mulai klien individual yang menggunakan aplikasi perdagangan Chase hingga klien kaya raya yang dengan pelayanan privat.

Meskipun demikian, penasihat keuangan tidak diizinkan untuk merekomendasikan produk kripto kepada klien, dan klien secara eksplisit harus meminta untuk melakukan perdagangan kripto.

Sebelumnya, JP Morgan hanya mengizinkan klien untuk menginvestasikan kekayaan pribadi dalam dana bitcoin yang dikelola secara aktif yang dititipkan pada perusahaan kripto NYDIG.

Perluasan akses pada produk crypto untuk klien JPMorgan dilakukan karena minat ritel di pasar kripto sedang meningkat, terutama setelah bitcoin mencapai harga tertinggi sepanjang masa di harga US$ 65.654 (Rp 951,98 juta) pada 14 April 2021.

Sejak itu, harga kripto memang telah mengalami penyusutan, namun permintaan ritel untuk memperoleh eksposur ke kelas aset volatil sebagai penyimpan nilai atau diversifikasi portofolio tetap masih kuat.

"Kami senang bergabung dengan platform kekayaan di JPMorgan. OBTC [Osprey Bitcoin Trust] tetap menjadi dana bitcoin publik dengan harga terendah di AS dan kami percaya klien JPMorgan akan melihat nilai dalam produk tersebut," kata Greg King, pendiri dan CEO Osprey Funds, dilansir Forbes.

Respons Pasar RI

Dalam kesematan terpisah, CEO Indodax menanggapi bahwa langah JPMorgan ini adalah sejarah baru dalam dunia finansial dan perbankan, di mana bank terbesar di dunia JPMorgan telah menerima pengelolaan dana investasi aset kripto. Ini terjadi karena banyaknya permintaan dari nasabah atau klien dari bank itu.

"JP Morgan menjadi bank pertama yang mengelola investasi aset kripto. Ini merupakan sejarah baru dan akan menjadi perubahan besar," kata Oscar Darmawan dalam pernyataan resmi, Senin (26/7).

Oscar Darmawan mengungkapkan bahwa warga AS khususnya nasabah JPMorgan telah melihat bitcoin sebagai aset. Hal ini juga diungkapkan oleh Kepala Manajemen Kekayaan JPMorgan, Mary Callahan Erdoes.

"Jadi, para nasabah AS sudah melihat aset kripto seperti Bitcoin adalah aset, dan tidak bisa dipandang remeh. Inilah yang membuat nasabah atau klien JP Morgan banyak yang meminta produk investasi aset kripto di JP Morgan," kata Oscar.

Oscar mengungkapkan, padahal, pada mulanya, JPMorgan adalah bank yang anti dengan crypto. CEO JPMorgan Jamie Dimon sempat menyatakan bahwa bitcoin adalah bentuk penipuan besar.

Namun, hal itu telah dibantahnya dan belakangan ini, JPMorgan akhirnya ikut mempercayai bitcoin sebagai aset finansial yang baik sehingga ditawarkan kepada nasabahnya.

"Karena permintaan dari nasabah terhadap aset kripto terus berdatangan. Hingga akhirnya, JP Morgan menerima pengelolaan dana investasi dari klien ritelnya," jelas Oscar

Nantinya, akan ada banyak bank-bank lain yang bisa mengelola dana investasi berbentuk aset kripto. Tidak menutup kemungkinan, dua pesaingnya Goldman Sachs dan Morgan Stanley akan melakukan hal yang sama. Morgan Stanley bisa saja lebih dulu karena bank itu telah mengajukan ke SEC (Otoritas Keuangan AS).

"Bahkan, bank di negara lain juga bisa jadi meniru langkah JP Morgan," kata Oscar.

Oscar melanjutkan, ini membuktikan bahwa aset kripto adalah teknologi dan produk keuangan yang tidak bisa dibendung. Karena aset kripto, memang dibutuhkan oleh orang-orang, mengingat fungsinya sebagai aset untuk menyimpan kekayaan.

Selain itu, aset kripto juga menggunakan teknologi blockchain yang merupakan teknologi mutakhir.

"Orang Indonesia juga bisa membeli Bitcoin, Ethereum dan aset kripto lain di Indodax. Karena aset kripto sudah diatur oleh pemerintah Indonesia," kata Oscar.

Perlu diketahui, Senin pagi (26/7), Bitcoin dan Ethereum melanjutkan reli kenaikan harga. Pagi ini, Bitcoin menyentuh Rp 561 juta dan kenaikan harga 11% dalam waktu 24 jam. Ethereum juga telah melewati Rp 32 juta.

Kenaikan ini sudah terjadi semenjak 3 hari yang lalu. Event internasional The B Word Conference yang menghadirkan CEO Tesla Elon Musk dan CEO Twitter Jack Dorsey pada pekan lalu membuat harga Bitcoin dan Ethereum rally selama 3 hari berturut-turut.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading