Baru Sehari 'Ngacir', Investor Langsung Obral Saham Batu Bara

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
23 July 2021 11:02
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas emiten tambang batu bara raksasa ambles di zona merah pada awal pagi ini, Jumat (23/7/2021). Para investor tampaknya buru-buru merealisasikan aksi ambil untung (profit taking) setelah pada Kamis (22/7) kemarin saham-saham tersebut sempat melesat tinggi ke zona hijau.

Selain itu, pelemahan saham batu bara pagi ini terjadi menyusul harga batu bara yang kembali ambles setelah mencapai kenaikan yang sangat tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Berikut pergerakan saham batu bara, pukul 09.44 WIB:


  1. Alfa Energi Investama (FIRE), saham -6,84%, ke Rp 545, transaksi Rp 1 M

  2. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), -3,75%, ke Rp 77, transaksi Rp 2 M

  3. Atlas Resources (ARII), -3,31%, ke Rp 292, transaksi Rp 80 juta

  4. Indo Tambangraya Megah (ITMG), -2,28%, ke Rp 16.075, transaksi Rp 17 M

  5. Indika Energy (INDY), -2,11%, ke Rp 1.390, transaksi Rp 8 M

  6. Adaro Energy (ADRO), -1,87%, ke Rp 1.310, transaksi Rp 37 M

  7. Delta Dunia Makmur (DOID), -1,85%, ke Rp 318, transaksi Rp 5 M

  8. Bumi Resources (BUMI), -1,69%, ke Rp 58, transaksi Rp 1 M

  9. Bukit Asam (PTBA), -0,89%, ke Rp 2.230, transaksi Rp 33 M

  10. United Tractors (UNTR), -0,87%, ke Rp 19.950, transaksi Rp 9 M

  11. Mitrabara Adiperdana (MBAP), -0,67%, ke Rp 2.960, transaksi Rp 43 juta

  12. Harum Energy (HRUM), -0,43%, ke Rp 5.775, transaksi Rp 4 M

  13. Golden Eagle Energy (SMMT), 0,00%, ke Rp 117, transaksi Rp 41 juta

  14. Bayan Resources (BYAN), +1,45%, ke Rp 14.000, transaksi Rp 115 juta

  15. Perdana Karya Perkasa (PKPK), +1,52%, ke Rp 67, transaksi Rp 54 juta

Menurut data di atas, dari 15 saham yang diamati, 12 saham melemah, 1 saham stagnan, dan 2 sisanya naik.

Saham FIRE menjadi yang paling ambles dengan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,84% ke posisi Rp 545/saham. Amblesnya saham FIRE pagi ini terjadi setelah kemarin saham ini naik paling tinggi di antara saham batu bara raksasa lainnya, yakni 24,47%.

Kendati ambles, dalam sepekan, saham FIRE masih 'on fire' dengan melesat 16,45%, sementara dalam sebulan naik 11,22%.

Di bawah saham FIRE ada saham BOSS yang melorot 3,75%, setelah kemarin melejit 12,68% dan menjadi top gainers di bursa. Dalam seminggu saham BOSS masih menguat 10,00% dan dalam sebulan terapresiasi 8,45%.

Saham ARII juga turun 3,31% ke Rp 292/saham dengan nilai transaksi Rp 80 juta. Ini membuat dalam sepekan saham ARII terkoreksi 2,00%, sementara dalam sebulan belakangan masih naik 3,52%.

Berbeda dengan yang lainnya, saham BYAN dan PKPK masih kuat menanjak, dengan naik masing-masing 1,45% dan 1,52% pagi ini. Dalam sepekan saham BYAN menguat 2,03%, sementara saham PKPK naik tipis 1,52%.

Harga batu bara masih saja turun, bahkan koreksinya lumayan dalam. Sepertinya investor belum bosan mengeruk cuan karena sebelumnya harga melesat sangat tinggi.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle berada di US$ 146,7/ton. Ambles 2,65% dari hari sebelumnya.

Aksi jual besar-besaran (sell-off) sepertinya masih menghinggapi kontrak batu bara. Maklum, pada 19 Juli lalu, harga si batu hitam menyentuh US$ 153,7/ton, tertinggi setidaknya sejak 2008.

Meski turun selama tiga hari beruntun, tetapi harga batu bara masih membukukan kenaikan 20,07% dalam sebulan terakhir secara point-to-point. Sejak awal tahun, harga komoditas ini meroket nyaris 80%.

Selain itu, penurunan harga kemungkinan juga dipicu oleh penurunan permintaan, terutama di Eropa. Pekan lalu, pembangkitan listrik dari pembangkit bertenaga batu bara di Jerman turun 13% dari pekan sebelumnya menjadi 5.127 MWh.

Berdasarkan estimasi Refinitiv, permintaan listrik di Negeri Panser pada pekan ini masih turun 0,7 GWh. Sementara pembangkitan listrik dari pembangkit batu bara tidak berubah dibandingkan pekan lalu.

Di sisi lain, pembangkt listrik bertenaga angin yang sedang menjadi primadona. Pekan lalu, pembangkitan listrik dari pembangkit tersebut melonjak 14% dari pekan sebelumnya menjadi 8.040 MWh.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading