Economic Update CNBC Indonesia

Fenomena Baru: Kantor Cabang-ATM Mulai Ditinggalkan Nasabah

Market - Yuni Astuti, CNBC Indonesia
23 July 2021 07:10
Nasabah menukar kartu ATM visa menjadi GPN Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (30/7). Bank Indonesia (BI) dan perbankan menggelar kampanye Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Kegiatan penukaran kartu pada 30 Juli-3 Agustus 2018. Pekan penukaran kartu berlogo GPN merupakan tindak lanjut acara peluncuran bersama kartu berlogo GPN di Jakarta pada 3 Mei 2018. Kartu berlogo GPN diharapkan untuk memudahkan masyarakat untuk melakukan transaksi pada seluruh kanal pembayaran (EDC) yang tersedia, sehingga akan meningkatkan efisiensi waktu dan biaya. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah tren layanan bank digital, ternyata ada kabar menarik yakni kecenderungan nasabah bank mulai mengurangi penggunaan ATM (anjungan tunai mandiri) seiring dengan perubahan karakter dari para nasabah saat ini.

Hal itu diungkapkan Direktur Treasury & International Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Panji Irawan. Dia mengatakan saat ini nasabah tak lagi mengandalkan ATM untuk melakukan transaksi, setidaknya hal itu terjadi di Bank Mandiri.

"Tren menunjukkan behaviour tak lagi menggunakan ATM, nasabah nyaman menggunakan aplikasi online," ujarnya kepada CNBC Indonesia dalam Economic Update, di Jakarta, Kamis (22/7/2021).


Bank Mandiri melalui aplikasi Livin' by Mandiri membuktikan adanya tren tersebut. Data perusahaan mencatat, transaksi ATM di Bank Mandiri tercatat lebih rendah. Kuartal pertama 2021, transaksi di ATM sebesar Rp 200 triliun, lebih kecil dari transaksi di aplikasi yang mencapai Rp 341 triliun.

"Oleh karena itu saya katakan, Mandiri Livin dikembangkan. Dan menariknya lagi, kalau dilihat pengguna Mandiri Livin sejak launching Maret jumlah downloader user active sudah mencapai 7,1 juta," imbuhnya.

Pihaknya mengatakan, Bank Mandiri menargetkan pengguna aplikasi tersebut akan terus meningkat. Bahkan, jumlahnya bisa mencapai 10 juta. Artinya, ini sesuai dengan tren digitalisasi yang berkembang saat ini.

"Total transaksi kuartal pertama tumbuh 39% senilai Rp 341 triliun. Tren berubah, melihat dari sisi e-commerce diperkirakan bisa berlipat 1,5 kali pada 2025," katanya lagi.

Menurutnya, ini adalah salah satu tren yang dipercepat karena adanya pandemi. Masyarakat yang tetap di rumah memiliki pola yang berubah. Untuk itu, Bank Mandiri tak hanya berinvestasi untuk aplikasi.

"Tapi kami juga di middle office, back office, IT dan infrastruktur diperbaharui untuk mendukung digitalisasi," sebutnya.

Meski begitu, sebagai upaya terus meningkatkan kenyamanan nasabah, Bank Mandiri telah menarik sebanyak 5.000 ATM yang berusia tua, sehingga saat ini, ATM yang tersedia dan dimiliki oleh Bank Mandiri memiliki performa yang mumpuni karena usianya yang masih muda.

"Sehingga complaining turun," pungkasnya

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyebutkan saat ini bank-bank juga mulai enggan untuk membuka kantor cabang baru. Bahkan jumlah kantor cabang perbankan juga telah mengalami penurunan lebih dari 3.000 kantor cabang dalam waktu hampir 6 tahun terakhir.

Deputi Direktur dan Perbankan Internasional OJK Tony mengatakan maraknya transaksi perbankan secara digital mendorong bank-bank memilih untuk tidak membuka kantor cabang baru karena dinilai tidak efisien.

"Dalam beberapa tahun terakhir sangat marak transaksi yang dilakukan di berbagai bank melalui mobile app mereka," kata Tony dalam sebuah webinar bertajuk Kolaborasi Bank Digital dan Fintech Dalam Menopang Perekonomian Nasional, Kamis (10/6/2021).

"Akibat maraknya transaksi melalui mobile mereka, itu berdampak bahwa masyarakat itu semakin jarang ke kantor cabang bank sehingga bank melihat pendirian kantor cabang menjadi tidak efisien dan mereka mulai menutupi sejumlah kantor dan mulai beralih ke layanan elektronik," katanya.

Dari bahan paparan yang disampaikan oleh OJK, jumlah kantor cabang perbankan per Maret 2021 berjumlah sebanyak 29.889 kantor cabang. Jumlah ini turun dari posisi Desember 2020 yang sebanyak 30.733 kantor cabang.

Penurunan ini juga sejalan dengan berkurangnya jumlah bank umum dari sebelumnya 109 bank di akhir tahun lalu menjadi 107 bank di akhir kuartal I-2021 lalu. Sedangkan pada akhir 2015, tercatat yang masih beroperasi sebanyak 32.963 kantor cabang dari 118 bank umum yang beroperasi di Indonesia.

Adapun penurunan jumlah kantor cabang ini tak lepas dari maraknya transformasi digital yang dilakukan bank di Indonesia. Bahkan ada juga bank yang mengklaim saat ini sudah menjadi bank yang full digital.

"Bahkan ada yang mengatakan sudah menjadi bank yang fully digital," ungkap dia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading