Review

Lagi PPKM, Beli Saham-saham "WFH" Ada yang Cuan 41%!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
19 July 2021 10:45
Ilustrasi pekerja kantoran wfh. (Dok: Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring dengan maraknya orang bekerja dari rumah alias work from home (WFH) akibat pandemi Covid-19 sejak tahun lalu, bermunculan pula fenomena saham-saham WFH, terutama di Amerika Serikat (AS).

Saham WFH yang dimaksud adalah saham emiten yang bergerak di bidang teknologi informasi dan layanan komunikasi yang mengalami lonjakan permintaan layanan seiring adanya aturan WFH.

Bahkan, pada 25 Juni 2020, bursa Wall Street AS meluncurkan Direxion Work From Home ETF (Exchange Traded Fund), produk reksa dana yang bisa diperdagangkan di bursa, yang berisikan 40 saham perusahaan dalam satu keranjang, yaitu 10 perusahaan peringkat teratas di masing-masing dari empat industri WFH.


Adapun empat industri yang tersebut adalah teknologi penyimpanan awan (cloud), keamanan siber, manajemen proyek dan dokumen online, dan komunikasi jarak jauh.

Saham-saham beken yang menjadi anggota ETF Direxion tersebut, di antaranya perusahaan penyedia jasa konferensi video Zoom, induk Google Alphabet, media sosial Facebook, perusahaan layanan keamanan siber Proofpoint, layanan komputasi awan Box, perusahaan software Adobe, sampai perusahaan penyedia jasa manajemen dokumen perjanjian elektronik DocuSign.

Sejak awal debutnya, ETF WFH sudah melonjak 46,60% ke US$ 73,80 per Jumat (16/7). Sementara, secara year to date (ytd) naik 11,50%.

Lantas, apakah ada sejenis saham-saham WFH di Bursa Efek Indonesia (BEI)?

Di dalam tulisan ini Tim Riset CNBC Indonesia akan berfokus dan membahas secara singkat kinerja saham-saham di sektor telekomunikasi (telco) dan penyedia layanan video streaming atau konten video on-demand (VOD).

Menurut hemat Tim Riset CNBC Indonesia, kedua sektor tersebut diuntungkan dengan adanya kebijakan WFH dari pemerintah yang membuat orang-orang lebih banyak mengakses internet dan berbagai layanan video streaming di rumah.

Catatan saja, saat ini pemerintah sedang menggodok soal perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat periode 3-20 Juli yang bakal berakhir pada Selasa (20/7) besok.

Saham-saham yang akan diamati adalah saham emiten telco pelat merah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), emiten halo-halo Grup Sinar Mas PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), anak usaha perusahaan telco Malaysia Axiata Bhd, PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Kemudian, emiten telco milik Ooredoo Qatar PT Indosat Tbk (ISAT), emiten media pemilik layanan platform Vidio milik Grup Emtek PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), dan emiten pemilik layanan menonton film dan tv streaming Vision+ milik Grup MNC PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV).

Berikut pergerakan keenam saham tersebut dalam sepekan dan sebulan terakhir.

Kode Ticker

Harga Terakhir (Rp)

% Sepekan

% Sebulan

SCMA

2140

-4.04

40.79

TLKM

3170

0.32

-5.37

IPTV

260

-0.76

0.00

ISAT

6075

0.00

-10.99

FREN

112

-3.45

-5.88

EXCL

2490

-4.23

-3.49

Sumber: Bursa Efek Indonesia | Data per 16 Juli 2021

Apabila menilik data di atas, kendati ambles 4,04% dalam sepekan, saham SCMA bisa melesat 40,79% dalam sebulan terakhir.

Salah satu sentimen pendorong utama kenaikan saham SCMA adalah terkait rumor masuknya raksasa penyedia layanan VOD Netflix ke anak usahanya pemilik layanan Vidio PT Vidio Dot Com hingga membuat sahamnya melonjak 18,46% pada 6 Juli lalu.

Menanggapi pemberitaan media mengenai rumor tersebut, pada 8 Juli 2021 manajemen SCMA mengkonfirmasi bahwa saat ini, perusahaan merupakan pemegang saham 99.99% di PT Vidio Dot Com.

"Perseroan selalu terbuka untuk menjalin kerjasama dengan investor atau mitra strategis terkait pengembangan usaha PT Vidio Dot Com atau kegiatan yang mendukung pengembangan usaha SCMA pada bidang media, konten dan digital.

Perseroan akan melakukan keterbukaan informasi berkala sesuai dengan peraturan BEI dan OJK yang berlaku," jelas manajemen dikutip CNBC Indonesia, Senin (19/7).

Sepanjang kuartal I, laba bersih SCMA naik 6,42% menjadi Rp 331,53 miliar. Sementara itu pendapatan usaha juga naik 7,62% menjadi Rp 1,40 triliun per periode Januari-Maret 2021.

Sementara, di posisi kedua ada saham TLKM yang berhasil menguat tipis 0,32% ke posisi Rp 3.170/saham.

Mengenai kinerja terbaru, TLKM mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp 6,01 triliun pada kuartal pertama 2021, naik 2,59% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 5,86 triliun. Bahkan secara tahunan (annualized) tercatat laba bersih TLKM melesat 15,71%.

Mengacu laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, pada periode 3 bulan pertama di tahun ini, Telkom membukukan pendapatan senilai Rp 33,94 triliun.

Kontribusi terbesar pendapatan TLKM masih disumbang dari segmen pendapatan data, internet dan jasa teknologi informatika senilai Rp 19,14 triliun, sedikit turun dari tahun sebelumnya Rp 19,20 triliun.

IndiHome memberikan kontribusi pendapatan senilai Rp 6,34 triliun naik dari sebelumnya Rp 5,07 triliun. Sedangkan, pendapatan telepon memberikan kontribusi sebesar Rp 4,35 triliun dari tahun sebelumnya Rp 5,68 triliun.

Melihat data di atas, tampaknya saham-saham emiten telko dan penyedia jasa VOD tidak serta-merta naik kendati adanya sentimen positif mengenai potensi lonjakan permintaan data internet dan layanan video seiring PPKM Darurat baru-baru ini.

Sebelumnya, melansir Detikcom, disampaikan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (Dirjen PPI) Kementerian Kominfo, Ahmad M. Ramli, trafik data diprediksi akan mengalami kenaikan 25% selama pemberlakuan PPKM Darurat.

"Kami sudah antisipasi, karena sejak isu bergulir Tim DJPPI Kominfo langsung melakukan QoS (Quality of Service) dan coverage telco," ucapnya Ramli kepada detikINET, 3 Juli lalu.

Ramli menuturkan, dibandingkan dengan masa PSBB dengan PPKM Darurat, kenaikan lalu lintas data tidak sebesar tahun lalu.

"Tahun lalu sempat menyentuh 30%. Untuk saat ini karena managing traffic yang sudah terus-menerus dilakukan prediksi kami lebih rendah, ya sekitar 20-25% dan itu juga relatif di waktu tertentu, misalnya jam kerja dan jam sekolah," jelasnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading