Harga Kripto Mixed! Dogecoin-Cardano-Tether Nyungsep

Market - chd, CNBC Indonesia
07 July 2021 09:45
Ilustrasi Bitcoin  (Photo by André François McKenzie on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mata uang kripto (cryptocurrency) bergerak mixed cenderung menguat pada perdagangan Rabu (7/7/2021) pagi waktu Indonesia, setelah pada perdagangan Selasa (6/7/2021) kemarin sempat diperdagangkan di zona merah.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, dari tujuh kripto berkapitalisasi terbesar, empat diantaranya menguat, sedangkan tiga lainnya melemah.

Kripto dengan kapitalisasi terbesar pertama, yakni Bitcoin menguat 0,99% ke level harga US$ 34.191,05/koin atau setara dengan Rp 494.402.583/koin (asumsi kurs Rp 14.460/US$), koin digital dengan kapitalisasi terbesar kedua, yakni Ethereum melonjak 3,93% ke level US$ 2.313,54/koin (Rp 33.453.788/koin).


Berikutnya koin digital Binance Coin meroket 6,6% ke posisi harga US$ 324,21 per koinnya atau setara dengan Rp 4.688.077 per koin dan Ripple bertambah 0,48% ke US$ 0,6642 per koinnya (Rp 9.604 per koin).

Sementara untuk kripto Cardano melemah 0,48% ke harga US$ 1,42 per koinnya atau setara dengan Rp 20.533 per koin, Tether melemah tipis 0,07% ke US$ 1 per koinnya (Rp 14.460 per koin), dan Dogecoin turun tipis 0,01% ke US$ 0,2336 per koinnya (Rp 3.378 per koin).

Pada perdagangan Selasa (6/7/2021) kemarin, Bitcoin diperdagangkan cenderung flat, karena pelaku pasar mencerna tindakan keras terbaru dari China.

Pada Senin (5/7/2021) lalu, bank sentral China (People's Bank of China/PBOC) mengulangi sikap anti-kripto yang telah lama dipegangnya dan memperingatkan institusi keuangan agar tidak memberikan segala bentuk transaksi kepada perusahaan terkait kripto.

Bank sentral Beijing pun memerintahkan penutupan perusahaan perangkat lunak Beijing Qudao Cultural Development, dengan tuduhan terlibat dalam menyediakan layanan perangkat lunak untuk transaksi cryptocurrency.

"Langkah itu diperlukan untuk mencegah dan mengendalikan risiko spekulasi dalam transaksi mata uang virtual, dan melindungi keamanan aset publik," katanya dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters.

Pengumuman tindakan keras pemerintah China tersebut telah mendahului pergerakan harga yang berombak di sekitar US$ 34.000, yang membuat para trader tidak memiliki arah yang jelas.

"Ahli strategi kami terus memperkirakan koreksi sekitar 6%-10% di ekuitas AS musim panas ini mengingat indikator pertumbuhan memuncak, serta aksi jual lebih lanjut di Treasury AS yang akan melihat imbal hasil 10 tahun mencapai 2,25% pada akhir tahun," tulis laporan Deutsche Bank yang diterbitkan pada Selasa (6/7/2021), dikutip dari CoinDesk.

Untuk saat ini, aset berisiko masih didukung oleh kebijakan moneter yang akomodatif. Misalnya pada pekan lalu, anggota dewan eksekutif bank sentral Eropa (Europe Central Bank/ECB), Isabel Schnabel berjanji untuk melakukan apa pun untuk mendukung pemulihan ekonomi. Schnabel juga memperingatkan pemerintah untuk tidak mengakhiri stimulus fiskal terlalu dini.

"Investor ritel semakin percaya diri dengan potensi aset kripto, terlepas dari koreksi pasar kuartal ini, dengan data eToro baru mengungkapkan peningkatan jumlah aset kripto yang ditahan selama kuartal terakhir," tulis eToro, platform investasi multi-asset, melalui email kepada CoinDesk.

Sementara itu, aktivitas perdagangan Bitcoin turun secara signifikan selama sepekan terakhir. Rata-rata volume transaksi sepekan Bitcoin mencapai level terendah sejak Desember 2020, menurut laporan Arcane Research pada Selasa kemarin.

Bitcoin Daily VolumeFoto: CoinDesk & Arcane Research

"Perayaan hari kemerdekaan 4 Juli lalu sebagian dapat menjelaskan akhir pekan yang lambat, tetapi selera untuk trading Bitcoin tentu saja tidak terlalu tinggi," tulis Arcane, dilansir dari CoinDesk.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kripto Mulai Ambles Lagi, Bitcoin Gagal Capai US$ 50.000


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading