Masih Babak Belur, Laba Pizza Hut Anjlok Jadi Rp 4,8 M di Q1

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
01 July 2021 18:58
Karyawan PHD berjualam pizza di pinggir jalan di Kawasan Bintaro, Tangerang Selatam, Jumat (18/9/2020). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto))

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pengelola restoran waralaba yang memegang merek dagang Pizza Hut di Indonesia, PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), mencatatkan penurunan laba pada kuartal pertama tahun 2021.

Laba perusahaan di Q1-2021 berkurang 19,34% menjadi Rp 4,87 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni laba bersih sebesar Rp 6,04 miliar.

Penurunan laba bersih ini salah satunya diakibatkan oleh berkurangnya pendapatan perusahaan menjadi Rp 713,93 miliar, turun 25,29% dari pendapatan kuartal I-2020 sebesar Rp 955,64 miliar.


Adapun penjualan PZZA terdiri atas makanan dan minuman. Lini bisnis makanan menyumbang porsi penjualan tertinggi sebesar Rp 676,87 miliar atau turun dari sebelumnya Rp 886,03 miliar.

Sedangkan pendapatan dari lini bisnis minuman sejumlah Rp 38,43 miliar, juga turun dari kuartal yang sama tahun sebelumnya Rp 76,31 miliar.

Aset perusahaan ikut mengalami penyusutan 4,83% dari posisi awal di akhir tahun lalu sejumlah Rp 2,23 triliun, kini menjadi Rp 2,12 triliun.

Aset tersebut terdiri dari aset lancar yang hanya 17% atau sejumlah Rp 357,34 miliar, sedangkan 83% sisanya berupa aset tidak lancar atau sebesar Rp 1,76 triliun.

Liabilitas perusahaan mengalami penurunan 11,8% menjadi Rp 953,39 miliar dari posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 1,08 triliun. Liabilitas ini terdiri dari kewajiban jangka pendek sebesar Rp 419,72 miliar dan Rp 533,67 miliar sisanya berupa kewajiban jangka panjang.

Alhasil ekuitas perusahaan tercatat naik tipis menjadi Rp 1,17 triliun dari semula Rp 1,15 triliun.

Manajemen menegaskan, perusahaan telah dan mungkin akan terus dipengaruhi oleh penyebaran virus Covid-19.

Virus Covid-19 memberi dampak terhadap ekonomi global dan Indonesia di mana hal tersebut menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional, peningkatan risiko kredit Perusahaan, depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat dan gangguan pada operasional Perusahaan.

"Perusahaan telah mempertimbangkan dampak dari gangguan tersebut terhadap posisi keuangan, kinerja, dan arus kas pada tanggal 31 Maret 2021 dan 31 Desember 2020 dan untuk periode dan tahun yang berakhir pada saat tersebut. Perusahaan akan terus memantau situasi tersebut," tulis manajemen dalam laporan keuangan, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (1/7).

Manajemen mengungkapkan, dampak dari virus Covid-19 di masa depan terhadap Indonesia dan perusahaan masih belum dapat ditentukan saat ini.

Peningkatan jumlah infeksi Covid-19 yang signifikan atau penyebaran yang berkepanjangan dapat mempengaruhi Indonesia dan perusahaan.

Pada penutupan perdagangan Kamis (1/7) di pasar modal, saham PZZA ditutup stagnan di harga Rp 680/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 2,05 triliun. Selama sebulan harga saham PZZA telah turun 4,23% dan sejak awal tahun melemah 16,05%.

Tahun lalu, Sarimelati Kencana mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 93,51 miliar, atau berbalik dari tahun 2019 yang mencetak laba bersih sebesar Rp 200,02 miliar.

Penjualan neto perseroan sebesar Rp3,46 triliun di tahun lalu, atau merosot 13,25% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 3,99 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading