BPK Minta BP Jamsostek Cut Loss 6 Saham Ini, Cek Faktanya!

Market - Putra, CNBC Indonesia
23 June 2021 08:40
Kondisi BPK Terkini (CNBC Indonesia/Trisusilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan beberapa permasalahan signifikan dalam pengelolaan investasi pada BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK) alias BP Jamsostek. Hal ini berdasarkan pemeriksaan pada tahun 2018-November 2020.

BPK menilai permasalahan dalam berinvestasi terutama di reksa dana dan saham, mengakibatkan BPJS TK kehilangan kesempatan memperoleh hasil pengembangan dana secara optimal.

Hal ini disebabkan ketidakjelasan keputusan cut loss (menjual saham saat rugi) atau take profit (menjual saat untung), menanggung risiko tinggi apabila reksa dana yang dimiliki 100% mengalami penurunan kinerja atau rugi tanpa adanya sharing risiko.


Potensi loss yang tinggi dari investasi saham dan reksa dana ini dinilai BPK, berpotensi tidak dapat memenuhi dana amanat dari para peserta program jaminan sosial terutama program JHT (Jaminan Hari Tua) dan JP (Jaminan Pensiun).

Oleh karenanya, BPK merekomendasikan kepada Direktur Utama BPJS TK membuat mekanisme cut loss secara jelas dan tegas, sehingga dapat dijadikan pedoman pengambilan keputusan. Juga melakukan cut loss di beberapa saham.

"Mempertimbangkan untuk melakukan take profit atau cut loss saham-saham yang tidak ditransaksikan antara lain saham SIMP [Salim Ivomas Pratama], KRAS [Krakatau Steel], GIAA [Garuda Indonesia], AALI [Astra Agro Lestari], LSIP [London Sumatera Indonesia] , dan ITMG [Indo Tambangraya Megah]," tulis BPK dalam laporan IHPS Semester II-2020 yang dikutip, Selasa (22/6/2021).

Bagaimana sebenarnya kinerja ke-enam saham tersebut sehingga BPK menyarankan BPJS TK untuk melakukan aksi ambil untung ataupun aksi jual rugi di saham-saham tersebut?

Simak tabel berikut, mengacu data Bursa Efek Indonesia, per perdagangan Selasa kemarin (22/6).

Ternyata saham-saham BPJS TK yang disebut oleh BPK tersebut rata-rata memiliki kinerja yang negatif baik sejak awal tahun maupun selama 3 tahun terakhir.

Tercatat dari 6 saham tersebut yang sejak 3 tahun lalu masih memiliki kinerja positif hanyalah KRAS yang memang akhir-akhir ini terus melesat setelah perseroan membukukan kinerja keuangan yang positif.

Laporan keuangan KRAS mencatat bahwa tahun 2020 menjadi tahun pertama perseroan berhasil membukukan laba selama beberapa tahun terakhir setelah dipimpin oleh Direktur Utama baru, Silmy Karim.

Berlanjut di kuartal pertama tahun 2021 pun perseroan masih mampu lanjut membukukan kinerja yang positif dengan keberhasilan mencetak laba US$ 22 juta atau senilai Rp 318 miliar.

Sisanya saham-saham yang disebut BPK tersebut terpaksa terkoreksi dalam tiga tahun terakhir di mana koreksi paling parah dibukukan oleh ITMG yang ambruk 47% dan AALI yang tumbang 41% selama 3 tahun terakhir.

Sedangkan apabila berbicara kinerja tahun ini, saham KRAS lagi-lagi memimpin apresiasi setelah melesat 35% sejak awal tahun.

Di tahun ini kenaikan harga batu bara juga berhasil menguntungkan emiten batu legam ITMG sehingga harga sahamnya sejak awal tahun menanjak 5%.

Sementara itu untuk koreksi paling parah di tahun ini dibukukan oleh tak lain dan tak bukan emiten maskapai penerbangan GIAA yang ambruk 44% sejak awal tahun akibat hantaman pandemi Covid-19.

Saham GIAA juga saat ini sedang disuspensi oleh regulator setelah penundaan pembayaran sukuk yang diterbitkan oleh perseroan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading