Internasional

Market Mulai Waswas, Diam-diam the Fed Sudah Tapering?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
23 June 2021 07:34
Federal Reserve Chair Jerome Powell arrives to speak at a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Sementara itu, pejabat The Fed mengindikasikan bahwa lanskap memang tengah berubah, sebagaimana tercermin dalam proyeksi dot-plot yang dirilis Rabu pekan lalu.

Presiden The Fed Wilayah New York John Williams, dalam pidatonya pada Senin, mengatakan dia melihat inflasi bersifat sementara (sesuai konsensus pasar) dan kebijakan The Fed sebetulnya sudah sesuai dengan kondisi saat ini.

"Jelas bahwa ekonomi membaik dengan kecepatan tinggi, dan prospek jangka menengah sangat baik. Tetapi data dan kondisi belum cukup memadai bagi FOMC untuk mengubah sikap kebijakan moneternya yang memberi dukungan kuat untuk pemulihan ekonomi," kata Williams dalam sambutannya.


Tetapi di internal The Fed terjadi perbedaan pendapat.

Presiden The Fed wilayah St. Louis James Bullard menyentak pasar pada Jumat lalu ketika dia mengatakan kepada CNBC International bahwa dia adalah salah satu anggota FOMC yang berpikir kenaikan suku bunga pada tahun 2022 bakal menjadi keputusan yang tepat.

Pendapat berbeda diungkapkan Presiden The Fed wilayah Dallas Robert Kaplan pada Senin.

Menurut Kaplan, dia lebih fokus pada pengurangan laju pembelian obligasi alias tapering untuk saat ini, dan berpikir pertanyaan suku bunga sebagai pertanyaan yang harus dijawab di lain hari.

"Saya lebih suka melihat kami bertindak lebih cepat daripada nanti dalam pembelian aset, kemudian kami akan membuat keputusan di tahun 2022 dan seterusnya tentang langkah-langkah tambahan yang diperlukan," kata Kaplan, yang muncul bersama dengan Bullard untuk diskusi yang digelar oleh Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF), lembaga think tank yang fokus pada bank sentral.

"Tapi saya pikir masalah utama hari ini dan dalam waktu dekat adalah soal waktu dan penyesuaian pembelian [aset] ini," imbuhnya.

Kedua pejabat tersebut menilai, dengan adanya kemajuan ekonomi AS, alasan bahwa inflasi yang muncul dalam beberapa bulan terakhir mungkin sedikit lebih sulit dari yang diantisipasi The Fed sebelumnya.

"Ketidakseimbangan penawaran-permintaan, beberapa di antaranya kami pikir akan teratasi sendiri dalam enam hingga 12 bulan ke depan," kata Kaplan.

"Tetapi sekali lagi beberapa dari hal-hal tersebut kami rasa kemungkinan akan lebih persisten, didorong oleh sejumlah perubahan struktural dalam ekonomi," katanya.

"Kita harus siap dengan gagasan bahwa ada risiko kenaikan inflasi," katanya.

"Tentu saja, bukti anekdotal sangat banyak bahwa ini adalah pasar tenaga kerja yang sangat ketat," kata Bullard.

Menurut ekonomi, jika tekanan inflasi 'lebih panas' dari yang diperkirakan pejabat The Fed, hal ini akan memaksa mereka untuk mengetatkan kebijakan lebih cepat dari yang mereka inginkan.

Sejurus dengan itu, hal tersebut bakal memukul pasar saham dan ekonomi secara umum, di mana kedua sektor ini sangat bergantung pada rezim suku bunga rendah.

"Saat ini, inflasi bersifat sementara. Tetapi jika Anda menutupinya dengan stimulus lebih lanjut yang signifikan, maka Anda berisiko membuat sesuatu yang sementara menjadi permanen," kata kepala ekonom Natixis untuk pasar Amerika, Joe LaVorgna.

"Jadi, Anda berada di posisi yang sangat sulit. Saya pikir pendekatan terbaik The Fed adalah dengan berbicara lebih sedikit," pungkas Joe.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading