Holding Ultra Mikro! BBRI Diramalkan Cetak Laba Hingga Rp46 T

Market - Putra, CNBC Indonesia
18 June 2021 13:05
Meski BRIsyariah Dimerger, Aset BRI Tetap Tumbuh Positif Di Kuartal I 2021

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) akan melaksanakan rencana penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dan rencana penyetoran saham dalam bentuk selain uang (Inbreng) oleh Negara Republik Indonesia selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) perseroan

Dengan dua aksi korporasi ini, maka BBRI akan menjadi pemegang saham mayoritas pada PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM sebagai bagian dari pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro.

Selanjutnya,BBRI bersama-sama dengan Pegadaian dan PNM akan mengembangkan bisnis melalui pemberian jasa keuangan di segmen ultra mikro sehingga akan berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan perseroan.


Berdasarkan Keterbukaan Informasi yang dipublikasikan Selasa (15/6), manajemen BBRI menyatakan pemerintah bermaksud membentuk Holding Ultra Mikro dengan BBRI sebagai induk dari Pegadaian dan PNM.

Sehubungan dengan itu, BBRI merencanakan Penambahan Modal HMETD dengan keterlibatan Pemerintah di dalamnya melalui HMETD dalam bentuk non tunai.

Berkaitan proses tersebut, Pemerintah akan menyetorkan seluruh saham Seri B miliknya (Inbreng") kepada BBRI dalam Pegadaian dan PNM.Rencana PMHMETD atau rights issue BBRI dan rencana Inbreng, selanjutnya, secara bersama-sama disebut rencana transaksi.

Perseroan berencana untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham Seri B dengan nilai nominal Rp 50, atau mewakili sebanyak-banyaknya 23,25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Dengan adanya aksi korporasi ini, aset BBRI berpotensi untuk melejit kencang. Per Q1 2021 saat ini aset BBRI tercatat sebesar Rp 1.411 triliun nantinya pascaaksi korporasi aset BBRI tercatat akan melejit ke angka Rp 1.515 triliun atau kenaikan sebesar 7,37%. Angka ini tentunya belum termasuk potensi dana segar yang dihimpun dari investor publik yang juga akan meningkatkan aset BBRI.

Selanjutnya setelah aksi korporasi ini laba bersih perseroan akan meningkat pesat dari posisi Q1 2021 di angka Rp 7 triliun menjadi Rp 8 triliun atau melesat 14%. Apabila disetahunkan nantinya BBRI akan mampu mencetak laba Rp 32 triliun per tahun, melejit 72% dari posisi tahun lalu di angka Rp 18,65 triliun.

Angka ini tentunya belum memperhitungkan potensi sinergi antara ketiga perseroan dimana dalam publikasi yang diterbitkan oleh perusahaan disebutkan berberapa potensi sinergi yang akan menguntungkan ketiga perusahaan Pelat Merah tersebut.

Manajemen BBRI mengatakan bahwa sinergi-sinergi baru akan diciptakan dari akuisisi ini dimana perseroan akan mampu mencapai pertumbuhan kredit yang lebih lagi pasca akuisisi.

Selanjutnya, biaya kredit (cost of credit) akan turun karena perseroan nantinya akan mampu menggabungkan database klien ketiga perusahaan. Biaya operasi juga nantinya akan dapat ditekan karena digitalisasi dan penggabungan kantor. Terakhir, cost of finance Pegadaian dan PNM akan mampu ditekan karena mempunyai induk perbankan kuat seperti BBRI.

Bahkan menurut riset yang dipublikasikan oleh CLSA Sekuritas, nantiny pada tahun 2022, BBRI diprediksikan akan mampu membukukan laba hingga Rp 40,4 triliun dan angka ini akan terus naik menjadi Rp 46,3 triliun di tahun 2023 atau pertumbuhan laba masing-masing 31% dan 14%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading