Saham LMAS-Bank Grup Salim di Pucuk, MLPL-MDKA Nyungsep

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
18 June 2021 12:45
Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten sektor teknologi PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS) dan saham emiten perbankan Grup Salim PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) berhasil bercokol di puncak 'klasemen' pada paruh pertama perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (18/6/2021).

Berbeda nasib, saham emiten Grup Lippo PT Multipolar Tbk (MLPL) dan saham emiten pertambangan emas Grup Saratoga PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) merosot sebagai top losers.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 'terjun bebas'. IHSG anjlok dalam sebesar 1,82%, meninggalkan level psikologis 6.000, ke posisi 5.958,015 pada penutupan sesi I perdagangan, Jumat (18/6).


Menurut data BEI, 'hanya' ada 67 saham naik, 466 saham melemah dan 98 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 8,66 triliun dan volume perdagangan mencapai 16,83 miliar saham.

Investor asing pasar saham angkat kaki dari Indonesia dengan catatan jual bersih asing mencapai Rp 99,69 miliar di pasar reguler. Sementara, asing mencatatkan jual bersih di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 6,80 miliar.

Berikut 5 saham top gainers dan losers sesi I hari ini (18/6).

Top Gainers

  1. Limas Indonesia Makmur (LMAS), saham +34,72%, ke Rp 97, transaksi Rp 12,9 M

  2. Bank Ina Perdana (BINA), +24,70%, ke Rp 3.080, transaksi Rp 47,6 M

  3. Andalan Sakti Primaindo (ASPI), +18,87%, ke Rp 63, transaksi Rp 2,5 M

  4. MNC Investama (BHIT), +10,89%, ke Rp 112, transaksi Rp 225,1 M

  5. Jaya Agra Wattie (JAWA), +10,57%, ke Rp 136, transaksi Rp 3,5 M

Top Losers

  1. Multipolar (MLPL), -6,90%, ke Rp 675, transaksi Rp 377,7 M

  2. Merdeka Copper Gold (MDKA), -6,82%, ke Rp 2.870, transaksi Rp 183,2 M

  3. Sky Energy Indonesia (JSKY), -6,77%, ke Rp 179, transaksi Rp 38,4 M

  4. Bank Ganesha (BGTG), -6,51%, ke Rp 158, transaksi Rp 16,5 M

  5. Berkah Beton Sadaya (BEBS), -6,09%, ke Rp 540, transaksi Rp 22,8 M

Menurut data di atas, saham LMAS menjadi yang paling melonjak, dengan kenaikan hingga batas auto rejection atas (ARA) 34,72% ke Rp 97/saham.

Dalam dua hari terakhir saham ini menjadi 'idola' pelaku pasar di antara saham indeks sektor teknologi lainnya. Ini terlihat dari kenaikan pada penutupan pasar kemarin, ketika saham LMAS menjadi top gainers dengan lonjakan 33,33%.

Alhasil, dalam sepekan, saham LMAS melejit 94%, demikian pula selama sebulan, sebesar Rp 94%.

Di posisi kedua, ada saham BINA yang juga menyentuh ARA 24,70% ke Rp 3.080/saham. Dengan ini, saham BINA berhasil mencatatkan reli kenaikan selama 6 hari beruntun.

Sentimen terbaru yang mempengaruhi gerak saham BINA ialah terkait rencana rights issue yang sudah disetujui oleh pemegang saham dan kemungkinan Anthoni Salim menambah kepemilikannya di BINA.

Hal ini ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Ina Perdana untuk tahun buku 2020. Perseroan akan melepas sebanyak-banyaknya 2 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Dengan disetujuinya rights issue ini, Anthoni Salim, selaku ultimate shareholder berpeluang menambah porsi kepemilikan sahamnya pada Bank Ina.

Direktur Utama Bank Ina Daniel Budirahayu, mengatakan, para pemegang saham perseroan yang saat itu tercatat besar kemungkinan menyerap HMETD tersebut.

Komposisi kepemilikan saham perseroan saat ini; PT Indolife Pensiontama memegang 22,47 persen, PT Gaya Hidup Masa Kini mengempit 9,98 persen, PT Philadel Terra Lestari menguasai 7,53 persen, PT Samudera Biru, 16,51 persen.

Selanjutnya, Trustee Of NS Financial Fund yang dikelola DBS Bank Ltd 10,49 persen, Asean Financial yang dikelola Liontrust 18,29 persen, dan sisanya oleh masyarakat. Pemegang saham pengendali penerima manfaat terakhir atau ultimate shareholder adalah Anthoni Salim.

Di kutub yang berbeda, saham MLPL ambles hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,90% ke Rp 675/saham. Ini merupakan kali kedua saham MLPL ambles lebih dari 6% sejak penutupan kemarin.

Melorotnya saham MLPL tampaknya didorong oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh para investor, setelah saham ini melaju kencang akhir-akhir ini.

Setali tiga uang, saham MDKA ambles hingga ARB 6,82% ke Rp 2.870/saham. Para investor tampaknya mulai melakukan aksi profit taking, lantaran saham ini sudah melaju di zona hijau selama 4 hari beruntun.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading