Wadidaw! Pusing Tujuh Keliling, Harga Kripto Kembali Ambles

Market - chd, CNBC Indonesia
17 June 2021 09:52
Ilustrasi Bitcoin  (Photo by Executium on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas harga mata uang kripto (cryptocurrency) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis (17/6/2021) pagi waktu Indonesia, termasuk Bitcoin yang kembali melemah, setelah pada perdagangan Rabu (16/6/2021) pagi sempat menguat.

Berdasarkan data dari Investing pukul 09:00 WIB, Bitcoin kembali ambruk 3,47% ke level harga US$ 38.669,60/koin atau setara dengan Rp 550.518.565/koin, setelah sebelumnya sempat melesat 3% dan kembali ke level harga di atas US$ 40.000 pada perdagangan Rabu pagi kemarin.

Sedangkan Ethereum ambles 4,34% ke posisi US$ 2.413,16/koin (Rp 32.348.254/koin), Binance Coin terkoreksi 1,79% ke US$ 353,62/koin (Rp 5.036.800/koin), Litecoin merosot 2,47% ke US$ 169,23/koin (Rp 2.410.551/koin).


Berikutnya Chainlink ambrol 2,46% ke US$ 23,66/koin (Rp 337.144/koin), Cardano terpangkas 1,62% ke US$ 1,519/koin (Rp 21.618/koin), Ripple melemah 0,41% ke US$ 0,858/koin (Rp 12.198/koin), dan Dogecoin terdepresiasi 1,89% ke US$ 0,309/koin (Rp 4.392/koin)

Pasar kripto pada perdagangan Rabu kemarin sebagian besar melemah, kecuali Bitcoin yang sempat melesat hingga 3%, setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif.

Namun, kenaikan Bitcoin kemarin hanya bersifat sementara dan kini juga ikut melemah bersama dengan kripto lainnya.

Hal ini karena investor cenderung mundur dari aset berisiko dan para trader berfokus pada proyeksi terbaru dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang berencana akan menaikan suku bunga acuannya hingga dua kali tahun 2023, lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya pada Maret lalu.

"Perkiraan ekonomi yang ditingkatkan masih mendukung argumen bahwa The Fed dapat mengumumkan rencana pengurangan pembelian obligasi yang bergantung pada kemajuan pada akhir musim panas, dengan pengurangan sebenarnya dimulai pada Januari," tulis Edward Moya, analis pasar senior di Oanda, dalam e-mail ke CoinDesk.

Moya memprediksi bahwa aset berisiko, termasuk cryptocurrency akan mengalami tekanan dalam jangka pendek, karena tanda-tanda inflasi yang mengkhawatirkan. Kenaikan harga dapat mengakibatkan pengurangan pembelian obligasi oleh The Fed yang lebih cepat dari perkiraan.

Trader memiliki lebih banyak kesiapan dengan ekspektasi The Fed untuk kenaikan suku bunga sebelumnya. Pasar kripto terus menghadapi tekanan dari regulator, tidak hanya dengan China.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS telah membentuk gugus tugas untuk membahas berbagai permasalahan tentang kripto.

"Kami terlibat dengan regulator dan pakar untuk melakukan analisis secara mendalam ke dalam industri yang kurang dipahami dan diatur secara minimal ini," kata Ketua Komite Jasa Keuangan DPR dan anggota DPR AS dari partai Republik, Maxine Waters.

Sementara itu di Korea Selatan, otoritas bursa setempat telah menghentikan perdagangan mata uang kripto tertentu karena adanya pengetatan peraturan.

Langkah terbaru itu mengikuti tindakan keras yang sedang berlangsung di pasar kripto, termasuk denda yang dikenakan pada karyawan kedapatan melakukan perdagangan di platform mereka sendiri.

Tindakan keras regulasi dapat membebani harga kripto dan membuat penasihat keuangan tetap berada di posisi netral.

Faktanya, lebih dari 90% penasihat keuangan independen yang disurvei oleh Opinium tidak akan merekomendasikan investasi di kripto atau saham 'meme'.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading