Holding Ultra Mikro! Rights Issue BBRI Terbesar di Asia ?

Market - Putra, CNBC Indonesia
16 June 2021 18:06
Dok: BRI

Jakarta, CNBC Indonesia- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) akan melaksanakan rencana penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dan rencana penyetoran saham dalam bentuk selain uang (Inbreng) oleh Negara Republik Indonesia selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) perseroan

Dengan dua aksi korporasi ini, maka BBRI akan menjadi pemegang saham mayoritas pada PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM sebagai bagian dari pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro.

Selanjutnya, BBRI bersama-sama dengan Pegadaian dan PNM akan mengembangkan bisnis melalui pemberian jasa keuangan di segmen ultra mikro sehingga akan berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan perseroan.


Berdasarkan Keterbukaan Informasi yang dipublikasikan Selasa ini (15/6), manajemen BBRI menyatakan pemerintah bermaksud membentuk Holding Ultra Mikro dengan BBRI sebagai induk dari Pegadaian dan PNM.

Sehubungan dengan itu,BBRI merencanakan Penambahan Modal HMETD dengan keterlibatan Pemerintah di dalamnya melalui HMETD dalam bentuk non tunai.

Berkaitan proses tersebut, Pemerintah akan menyetorkan seluruh saham Seri B miliknya (Inbreng) kepada BBRI dalam Pegadaian dan PNM.Rencana PMHMETD atau rights issue BBRI dan rencana Inbreng, selanjutnya, secara bersama-sama disebut rencana transaksi.

Perseroan berencana untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham Seri B dengan nilai nominal Rp 50, atau mewakili sebanyak-banyaknya 23,25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Dengan adanya aksi korporasi ini, aset BBRI berpotensi untuk melejit kencang. Per Q1 2021 saat ini aset BBRI tercatat sebesar Rp 1.411 triliun nantinya pasca aksi korporasi aset BBRI tercatat akan melejit ke angka Rp 1.515 triliun atau kenaikan sebesar 7,37%.

Sedangkan dari sisi liabilitas, walaupun bertambah, secara nominal tentunya tidak sebesar penambahan aset. Per kuartal pertama 2021 tercatat BBRI memiliki liabilitas sebesar Rp 1.216 triliun sedangkan pasca rights issue nantinya liabiliatas akan naik 6% menjadi menjadi 1.289 triliun.

Kenaikan aset dan liabilitas ini tentunya akan menyebabkan ekuitas BBRI bertambah pasca HMETD dimana ekuitas per akhir Maret 2021 berada di angka Rp 191 triliun menjadi Rp 226 triliun atau kenaikan 18,32%.

Nantinya setelah aksi korporasi ini laba bersih perseroan akan meningkat pesat dari posisi Q1 2021 di angka Rp 7 triliun menjadi Rp 8 triliun atau melesat 14%. Apabila disetahunkan nantinya BBRI akan mampu mencetak laba Rp 32 triliun per tahun. Melejit 72% dari posisi tahun lalu di angka Rp 18,65 triliun.

Bahkan nantinya aset dan ekuitas BBRI pasca rights issue berpotensi untuk kembali meningkat mengingat adanya potensi pemegang saham publik juga akan turut menyetorkan modal dalam bentuk dana segar.

Jumlah dana segar yang akan diterima ini memang belum pasti tentunya karena harga tebus RI BBRI masih belum ditentukan dan tentunya akan tergantung pula dari minat pasar menyerap RI ini.

Meskipun demikian, tanpa bermaksud mendahului, Tim Riset CNBC Indonesia mencoba menghitung berapa perkiraan harga penebusan rights issue BBRI dan berapa rasio RI yang didapatkan oleh investor.

Menurut keterbukaan informasi yang diterbitkan, perseroan disebut siap menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 lembar saham baru. Saat ini jumlah saham beredar BBRI berada di angka 123.345,810,000 lembar saham maka rasio RI kali ini akan berada di kisaran 10:43.

Maka setiap investor yang memegang 43 lembar saham lama akan mendapatkan 10 HMETD yang dapat digunakan untuk menebus 1 saham baru di harga yang sudah ditentukan.

Tentunya berapa harga tebus RI kali ini nantinya akan sangat bergantung terhadap valuasi Pegadaian dan PNM yang nantinya tentu saja akan dinilai oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) independen.

Akan tetapi apabila berasumsi nantinya Pegadaian dan PNM akan divaluasi sebesar 1 kali nilai bukunya (book value) maka harga tebus RI akan berada di kisaran Rp 2.150/unit sedangkan apabila kedua perseroan divaluasi di angka 1,5 kali buku maka harga tebus akan berada di kisaran Rp 3.225/unit. Sedangkan untuk valuasi PNM & Pegadaian di angka 2 kali buku maka harga tebus RI akan berada di kisaran Rp 4.301/unit.

Nah apabila nantinya valuasi PNM dan Pegadaian berada di angka 1 kali maka potensi dana segar yang akan mengalir ke BBRI dengan catatan rights issue diserap penuh oleh publik akan berada di angka Rp 26 triliun dan akan melejitkan aset BBRI ke angka Rp 1,541 triliun.

Sedangkan apabila skenario kedua yang dipakai maka BBRI berpotensi mendapatkan dana segar mencapai Rp 40 triliun yang akan melesatkan aset BBRI ke angka Rp 1.555 triliun.

Terakhir apabila skenario ketiga yang akan dipakai maka BBRI berpotensi menerima dana segar sebesar Rp 53 triliun sehingga nantinya aset BBRI akan berada di angka Rp 1.568 triliun pasca aksi korporasi.

Hal inilah yang menyebabkan Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir mengatakan akuisisi ini akan menjadi aksi korporasi terbesar dalam sejarah RI.

Catat saja apabila menggunakan skenario kedua maka BBRI berpotensi untuk mendapatkan dana segar sebesar Rp 40 triliun serta PNM dan Pegadaian dengan valuasi Rp 52 triliun sehingga total aksi korporasi ini sebesar Rp 92 triliun,

Angka ini tentu saja akan menjadi aksi korporasi rights issue terbesar di Indonesia mengalahkan RI di posisi pertama saat ini yakni PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) di tahun 2008 dengan aksi korporasi Rp 40 triliun dan PT H M Sampoerna Tbk (HMSP) pada tahun 2015 di posisi kedua dengan RI sebesar Rp 26,7 triliun.

Bahkan di kalangan ASEAN pun tak banyak aksi korporasi dengan nominal jumbo seperti ini. Aksi korporasi ini bahkan lebih jumbo dibandingkan dengan RI Singapore Airlines 2020 silam sebesar SGD 7,7 miliar atau senilai Rp 82 triliun.

Nantinya di kawasan Asia, aksi korporasi HMETD BBRI ini akan bersanding dengan aksi korporasi rights issue raksasa Asia lain seperti Bank of China yang pada 2015 silam mengumpulkan dana sebesar US$ 8,96 miliar atau Rp 127 triliun dan Reliance Industries milik orang terkaya di Asia, Mukesh Ambani yang mengumpulkan dana sebesar 53.125 Crore atau Rp 103 triliun

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading