Ada Taper Tantrum, Pemerintah Perlu Tarik Utang Lebih Cepat?

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
10 June 2021 10:25
INFOGRAFIS, 10 Negara dengan Hutang Terbanyak di Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan taper tantrum merupakan salah satu risiko yang harus diantisipasi oleh negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk mengatur strategi dalam melakukan penarikan utang.

"Ini salah satu risiko yang harus kita antisipasi, mungkin baru wacananya saja bisa ada gejolak, karena pemulihan di negara-negara maju terutama di Amerika Serikat cukup cepat, inflasinya mulai meningkat lagi," jelas David kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (10/6/2021).

David memandang dinamika taper tantrum 2013 dan taper tantrum di masa mendatang akan berbeda. Pasalnya taper tantrum pada 2013 bersumber dari sektor finansial, dan membuat pemulihannya cukup lama.


Sementara saat ini, kata David sektor finansial di Indonesia kecenderungannya masih baik, sehingga pemulihannya bisa lebih cepat. Ditambah saat ini, kepemilikan asing di portofolio dalam negeri lebih rendah dibandingkan kepemilikan domestik.

"Asing di SBN kepemilikannya tinggal 23%, dulu bisa sampai 40% kepemilikan (Asing) di SBN. Dulu ketika mereka keluar masuk, selalu jadi turning point dari rupiah. Sekarang harusnya perannya lebih kecil," ujarnya.

Dalam melakukan penarikan utang atau menerbitkan SBN, David menyarankan untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Pasalnya, terkadang spending atau belanja pemerintah juga bermasalah. "Seperti tahun lalu dana PEN hanya gak sampai 90%, jadi harus optimal penggunaanya," tuturnya.

Demikian juga dalam menerbitkan SBN, menurut dia lebih baik pemerintah melakukan front loading atau menerbitkan SBN di awal tahun dengan jumlah yang cukup

"Lebih baik di-secure lebih awal, untung menghindari risiko-risiko, biasanya kita melakukan front loading, itu bagus menurut saya strategi itu, untuk memastikan dan menjamin juga ketersediaan pendanaan kita, APBN kita," kata David melanjutkan.

Apa yang disampaikan David mengenai kepemilikan asing di SBN terkonfirmasi dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.

Dalam laporan DJPPR, disebutkan bahwa investor domestik, khususnya Bank dan Bank Indonesia (BI) menjadi penopang utama di pasar SBN domestik, sampai awal April.

Pembelian yang cukup masif oleh bank sebesar Rp 230,9 triliun dan dukungan BI sebesar Rp 96,8 triliun serta investor domestik lain, baik dari asuransi, dana pensiun, dan individu mampu menjadi penopang pasar SBN di tengah aksi jual investor asing. "Khususnya di sepanjang bulan Februari sampai Maret," tulis DJPPR dalam laporan bertajuk 'Debt Portfolio Review'.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading