Bos Erajaya Buka-bukaan Soal Krisis Chip Semikonduktor

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
31 May 2021 12:52
foto : detikFoto/Grandyos Zafna

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam beberapa waktu terakhir telah terjadi kelangkaan chip semikonduktor yang berdampak pada produksi industri elektronik secara global, mulai dari produsen komputer sampai otomotif, tidak terkecuali produsen smartphone.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Direktur Utama emiten peritel telepon seluler (ponsel) PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) Joy Wahyudi dalam acara public expose perusahaan pada Selasa (25/5) pekan lalu.

Menanggapi pertanyaan dari salah satu peserta public expose mengenai dampak kelangkaan chip semikonduktor terhadap inventori perusahaan ke depan, Joy menegaskan bahwa hal tersebut tidak menjadi kendala bagi perseroan.


"Memang benar mengenai hal tersebut, dikarenakan banyaknya permintaan secara global cukup tinggi. Namun, untuk kebutuhan inventori dari sisi perusahaan, kami tidak melihat adanya kendala, paling tidak untuk kuartal kedua dan ketiga," jelas Joy kepada awak media, dikutip CNBC Indonesia, Senin (31/5/2021).

Selain terkait pertanyaan mengenai chip semikonduktor, manajemen Erajaya juga menjawab sejumlah pertanyaan lain, mulai dari besaran belanja modal (capital expenditure/capex) sampai penjualan selama momentum lebaran tahun ini.

Joy Wahyudi menjelaskan, besaran capex tahun ini akan sedikit lebih tinggi dari pengeluaran capex perusahaan dari tahuh-tahun sebelumnya.

"Besaran CAPEX kurang lebih akan mengikuti pengeluaran CAPEX kita dari tahun - tahun sebelumnya, akan lebih tinggi sedikit apabila dibandingkan dengan total CAPEX 2020," jelas Joy.

Adapun, Joy bilang, untuk realisasi capex hingga akhir maret 2021 sebesar Rp 37 Miliar. "Sebagian besar dari CAPEX akan digunakan untuk pembukaan gerai," imbuhnya.

Mengenai pembukaan gerai, sepanjang 2020, emiten dengan kode saham ERAA ini membuka sebanyak 135 gerai. Sementara, jumlah pembukaan gerai baru yang ditargetkan pada tahun 2021 sebesar 260-300 gerai.

Erajaya juga memutuskan untuk membagikan dividen tunai atas kinerja keuangan 2020 sebesar Rp13,8 setiap saham atau total Rp 219,40 miliar sebelum pajak, yang akan dibayarkan atas 15.898.459.500 saham pada 25 Juni 2021.

Informasi saja, Erajaya membukukan laba bersih sebesar Rp 612 miliar pada tahun 2020. Perolehan tersebut meningkat 107,45% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 295,06 miliar.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan manajemen ERAA, sepanjang tahun 2020, perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 34,11 triliun atau naik 3,54% dari sebelumnya Rp 32,94 triliun.

Mengenai fokus perusahaan ke depan, manajemen menegaskan bahwa Erajaya tetap pada bisnis komunikasi yang menjadi bisnis utama perusahaan.

"Kami tetap akan mengembangkan bisnis ke segmen lain, seperti komputer dan consumer electronic yang bersifat mendukung segmen bisnis utama kami dan juga memperluas portfolio bisnis Erajaya," jelas Joy.

Selain itu, Joy juga menanggapi pertanyaan mengenai penjualan perusahaan sepanjang lebaran tahun ini, yang ia klaim membaik ketimbang tahun lalu.

"Penjualan momentum lebaran 2021 lebih baik dibandingkan dengan momentum tahun lalu, dikarenakan pada tahun lalu masih dibatasinya kegiatan (lockdown) selama masa pandemi, namun pada tahun ini kami melihat adanya peningkatan yang luar biasa yang didorong dengan adanya THR," pungkas Joy.

Sebagaimana diwartakan Reuters pada 1 April lalu, permintaan chip yang terus melonjak dan melebihi pasokan akhirnya berdampak ke industri lain di luar perusahaan pembuat mobil, seperti produsen smartphone, kulkas hingga microwave.

Kelangkaan chip bermula seiring para produsen mobil, yang menutup pabrik akibat pandemi pada tahun lalu, bersaing dengan industri elektronik lainnya untuk mendapatkan pasokan chip.

Sejurus dengan itu, menurut catatan Reuters, konsumen cenderung membeli lebih banyak laptop, konsol game dan produk eletronik lainnya selama pagebluk, sehingga menyebabkan kelangkaan inventori.

Selain itu, sanksi terhadap perusahaan teknologi China semakin memperburuk krisis chip, lantaran perusahaan yang terkena sanksi tersebut meningkatkan persediaan chip sesuai permintaan mereka sehingga membuat pasokan chip menjadi semakin sedikit dan membuat harga menjadi mahal.

Sebagaimana diketahui, menurut catatan Reuters, dewasa ini mobil semakin bergantung pada chip, mulai dari soal komputerisasi mesin untuk efisiensi bahan bakar hingga fitur bantuan pengemudi seperti pengereman darurat.

Kata Reuters, dengan mengutip data IHS Markit, kekurangan chip semikonduktor otomatis dapat berdampak pada hampir 1,3 juta unit produksi kendaraan ringan global pada kuartal pertama.

Selain produsen mobil, menurut CNBC Internasional pada 7 Mei lalu, raksasa teknologi Korea Selatan Samsung juga mengaku kekurangan chip untuk produk televisi dan produksi lainnya.

"Karena kekurangan semikonduktor global, kami juga mengalami beberapa efek terutama di sekitar produk set tertentu dan produksi display," kata Ben Suh, kepala hubungan investor Samsung, dikutip CNBC Indonesia, Senin (31/5/2021).

Selain Samsung, produsen smartphone asal negeri Paman Sam, Amerika Serikat (AS), Apple, juga mengaku kekurangan chip untuk memproduksi iPad dan komputer Mac. Kelangkaan chip tersebut diklaim bisa merugikan perusahaan sekitar US$ 3 miliar hingga US$ 4 miliar dalam penjualan pada kuartal kedua tahun ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kebutuhan Gadget Naik, Pandemi Bikin Laba ERAA Melesat


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading