Internasional

Disalip Telkom, Laba Singtel Cuma Rp 6 T, Terendah Sejak 1998

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
28 May 2021 14:50
SINGTEL. Via AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa telekomunikasi milik pemerintah Singapura, Singapore Telecommunications Limited atau Singtel membukukan laba bersih terendah dalam 2 dekade terakhir seiring dengan kerugian yang dialami di perusahaan investasi mereka.

Perusahaan telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara yang kendalikan Temasek ini melaporkan laba bersih tahunan (full year) di 2020 (yang perhitungannya berakhir 31 Maret 2021) turun setengahnya alias ambles 49% menjadi SG$ 554 juta atau setara Rp 5,9 triliun (asumsi Rp 10.700/SG$).

Jumlah laba bersih ini terendah sejak tahun 1998 atau 23 tahun silam. Pada periode yang sama 2019, laba bersih Singtel senilai S$ 1,075 miliar.


Adapun laba bersih pada paruh kedua 2020 yang berakhir 31 Maret 2021, Singtel mencatat laba S$ 88 juta atau Rp 942 miliar, juga anjlok 93% dari periode yang sama sebelumnya S$ 1,20 miliar, dengan pendapatan juga minus 1% menjadi S$ 8,22 miliar dari S$ 8,29 miliar.

Sementara laba bersih underlying (laba bersih sebelum perhitungan item luar biasa) turun 30% secara full year menjadi SG$ 1,73 miliar (Rp 18,6 triliun) dari sebelumnya S$ 2,46 miliar, year on year (yoy).

Laba FY berakhir 31 Mei 2021Foto: Laba FY berakhir 31 Mei 2021
Laba FY berakhir 31 Mei 2021

Adapun yang dimaksud item luar biasa adalah pendapatan atau beban yang timbul dari peristiwa atau transaksi yang secara jelas berbeda dari aktivitas perusahaan biasa.

Singtel mencatat beban biaya luar biasa sekitar SG$ 1,18 miliar (Rp 12,7 triliun) selama setahun penuh. Sebagian besar terkait dengan penurunan nilai investasi pada unit pemasaran digital Amobee dan bisnis keamanan siber Trustwave.

Saham Singtel juga turun sebanyak 3,2% sebelum penurunan harga sahamnya berkurang menjadi minus 1,6% di level SG$ 2,41/saham di Bursa Singapura, Jumat ini (28/5).

Di sisi lain, Singtel juga menguraikan strategi untuk fokus pada jaringan 5G serta mengembangkan 'mesin' pertumbuhan baru mereka dalam bisnis teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Sebagai bagian dari strategi baru, Singtel mengincar kemitraan dan saham minoritas di perusahaan digital regional di berbagai bidang, seperti layanan keuangan dan game.

Manajemen Singtel menyatakan, bisnis yang tumbuh cepat ini akan mendapatkan keuntungan dari kapabilitas 5G dan basis klien besar, termasuk melalui saham di perusahaan telekomunikasi regional, yang akan menurunkan biaya akuisisi pelanggan.

Singtel juga menjajaki opsi untuk akuisisi aset infrastruktur yang meliputi menara, satelit, kabel bawah laut, dan pusat data di seluruh wilayah di negara tersebut.

"Hasil tahun ini mengecewakan mengingat hambatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Covid-19 dan tantangan struktural yang sedang berlangsung,"kata Yuen Kuan Moon, CEO Singtel Group, dalam keterangan resmi dikutip CNBC Indonesia dari situs resminya.

"Tagihan dari item pos luar biasa satu kali juga membebani jumlah laba kami. Meskipun demikian, NCS [anak usaha] dan layanan pusat data kami terbukti menjadi titik terang, menunjukkan pertumbuhan yang kuat karena perusahaan bergegas untuk mendigitalkan dan mengubah bisnis mereka. Kami akan memanfaatkan digitalisasi massal ini dengan rencana pengaturan ulang strategis untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan bisnis."

Laba Paruh Kedua berakhir 31 Mei 2021Foto: Laba Paruh Kedua berakhir 31 Mei 2021
Laba Paruh Kedua berakhir 31 Mei 2021

Dikutip ChannelNewsAsia, Singtel telah memulai penjualan sebagian menara anak perusahaannya di Australia, Optus, dan berharap kesepakatan itu akan ditutup sebelum akhir tahun.

Mereka juga akan menyelaraskan kembali bisnis intinya untuk mendorong pangsa pasar 5G di Singapura dan Australia, termasuk dengan menumbuhkan bisnis digital di sektor gaya hidup yang berdekatan serta solusi perusahaan dan cloud (komputasi awan).

Anak perusahaan di bidang TIK, NCS, akan mempercepat pertumbuhan, membangun layanannya kepada sektor publik, dengan fokus di Singapura, Australia, dan China.

Sebagai informasi Singtel juga adalah pemegang saham PT Telekomunikasi Selular atau Telkomsel, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Singtel Mobile punya saham 35% dari sebelumnya hanya 12,7%, sementara mayoritas atau 65% milik Telkom.

Tahun lalu, Telkom Indonesia mampu mencatat kinerja yang baik dengan membukukan pertumbuhan yang positif dari sisi pendapatan, EBITDA (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) serta laba bersih selama tahun 2020.

Laba bersih Telkom naik 11,5% menjadi Rp 20,80 triliun di tahun lalu, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019, Rp 18,66 triliun, sementara pendapatan juga naik 0,7% menjadi Rp 136,46 triliun dari sebelumnya Rp 135,57 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading