Market Cap BCA Drop Rp 15 T, HM Sampoerna Salip Chandra Asri

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
24 May 2021 11:57
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Indeks sektor bahan baku (basic materials) menjadi beban bagi IHSG karena anjlok 7,84% pada pekan lalu. Harga saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) ambles 2,91%, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) minus 7,17%, sementara PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) anjlok 4,25%.

Sementara itu, indeks sektor keuangan, yang menjadi kontributor terbesar IHSG juga menjadi beban karena turun 3,26% pada pekan lalu.

Harga saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk melemah 1,27%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berkurang 1,85%, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terkoreksi 0,26%.


Pekan lalu adalah pekan pertama bursa saham Indonesia dibuka penuh setelah libur Idul Fitri. Bisa jadi pasar masih jetlag karena cukup lama 'beristirahat'.

Namun secara umum, bursa saham global sedang menghadapi periode yang berat. Di Amerika Serikat (AS), indeks S&P 500 terkoreksi 0,29% secara mingguan, sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah 0,36%.

Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) kemungkinan yang menjadi penyebabnya, di mana investor khawatir. Setelah Eropa, kini kekhawatiran pasar (dan dunia) tertuju ke Asia.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mencatat, jumlah pasien positif corona di negara-negara Asia Selatan dan Timur per 20 Mei 2021 mencapai 29.258.662 orang. Bertambah 298.324 orang dibandingkan sehari sebelumnya.

Malaysia mulai menjadi sorotan dunia. Pada Kamis pekan ini, 59 orang meninggal dunia akibat serangan virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China tersebut. Ini adalah angka kematian harian tertinggi sejak virus corona mewabah di Negeri Harimau Malaya.

Kini total pasien positif corona di Malaysia adalah 492.302 orang. Di level Asia Tenggara, hanya lebih sedikit dari Indonesia dan Filipina. Dinamika ini membuat pemerintah Malaysia memberlakukan karantina wilayah (lockdown) yang dalam 'kearifan lokal' disebut Movement Control Order (MCO).

Tidak hanya Malaysia, Singapura dan Taiwan juga terpaksa memberlakukan lockdown karena lonjakan kasus corona. Perkembangan ini membuat pelaku pasar belum berani untuk bermain agresif dan cenderung menghindari aset-aset berisiko seperti saham. Ini yang sedang terjadi di bursa saham dunia, tidak terkecuali Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
HALAMAN :
1 2
Artikel Selanjutnya

Market Cap BRI Naik Rp 36 T Pekan Lalu, Tertinggi di 10 Besar

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading