The Fed Sampai BI Mau Bikin Uang Digital, Pesaing Bitcoin Cs?

Market - chd, CNBC Indonesia
21 May 2021 16:50
Infografis: Negara Ini Disebut Surga Uang Kripto & Bitcoin, RI Masuk?

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat investasi mata uang digital sedang naik daun, bank sentral di berbagai negara di dunia pun tak ketinggalan dengan mengembangkan mata uang digitalnya sendiri.

Seperti yang akan dilakukan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) kini mulai bergerak dalam upayanya untuk mengembangkan mata uang digitalnya sendiri. Pada Kamis waktu setempat, The Fed akan merilis proposal risetnya pada musim panas tahun ini yang berkaitan dengan mata uang digital.

Meskipun bank sentral tidak menetapkan rencana khusus kapan dan di mana mata uang tersebut dibentuk, namun Ketua The Fed, Jerome Powell juga akan mengikuti perkembangan kemajuan teknologi pembayaran dan juga telah memantau serta beradaptasi dengan hati-hati terhadap inovasi tersebut.


"Fungsi ekonomi kita yang efektif mengharuskan orang memiliki keyakinan dan kepercayaan tidak hanya pada dolar, tetapi juga pada jaringan pembayaran, bank, dan penyedia layanan pembayaran lainnya yang memungkinkan uang mengalir setiap hari," kata Powell dalam sebuah video, dikutip dari CNBC International.

"Fokus kami adalah memastikan sistem pembayaran yang aman dan efisien serta dapat memberikan manfaat luas bagi rumah tangga dan bisnis di AS sekaligus merangkul inovasi," tambahnya.

Pejabat Fed telah menekankan pentingnya mendapatkan penerbitan mata uang digital bank sentral dengan benar dibandingkan dengan cara berpartisipasi dalam perlombaan dengan negara lainnya.

Namun beberapa negara, terutama China, mata uang digital bank sentral (Central Bank Digital Currency/CBDC) telah meningkatkan pembicaraan tentang seberapa agresif The Fed harus bertindak. Kemajuan China telah menimbulkan kekhawatiran bahwa hal itu dapat merusak posisi dolar sebagai mata uang safe haven global.

Powell merujuk pada semakin populernya mata uang digital seperti Bitcoin cs, meskipun dia mengatakan bahwa mereka tetap menjadi mekanisme pembayaran yang tidak efisien. Stablecoin, yang terikat pada mata uang tertentu, menawarkan keuntungan lain.

"Kemajuan teknologi juga menawarkan kemungkinan baru bagi bank sentral, termasuk Fed. Meskipun berbagai struktur dan teknologi dapat digunakan, CBDC dapat dirancang untuk digunakan oleh masyarakat umum." Kata Powell, dilansir dari CNBC International.

The Fed telah mempelajari sistem pembayaran digital selama beberapa tahun dan berencana untuk merilis produk yang disebut FedNow, di mana produk tersebut akan dirilis pada tahun 2023 mendatang.

Namun, koin digital tersebut mewakili jalan lain yang dikejar oleh bank sentral untuk membuat pembayaran yang lebih efisien. Walaupun begitu, masih ada banyak masalah seputar implementasinya yang dapat menghambat upaya tersebut.

"Kami berkomitmen untuk mendengarkan berbagai keluhan tentang masalah penting ini sebelum membuat keputusan apa pun, dengan mempertimbangkan risiko dan peluang yang lebih luas yang dapat ditawarkannya, riset ini dapat mewakili awal dari apa yang akan menjadi proses bijaksana dan penuh pertimbangan." kata Powell.

The Fed saat ini bekerja sama dengan berbagai perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut, di mana salah satunya adalah Bank for International Settlements.

Bank Indonesia (BI) pun tidak kalah. MH Thamrin tengah menggodok implementasi rupiah digital.

Asisten Gubernur & Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Filianingsih Hendarta menjelaskan dalam forum kerjasama internasional penggunaan uang digital nasih terus digodok. Dalam mempersiapkan Central Bank Digital Currency (CBDC), BI melihat dari sisi implikasi dan manfaatnya secara ekonomi makro, baik dari moneter dan dari sisi stabilitas sistem keuangannya. Penerbitan CBDC juga merupakan rencana secara berjangka atau multi-years.

"Ada penugasan ke IMF bagaimana melihat implikasi dari makro finansial terhadap digital currency itu sendiri. Bagaimana cara pengaturannya, pengawasannya, bagaimana framework-nya dan akan didiskusikan lagi," tutur Filianingsih, belum lama ini.

Menurutnya, saat ini semua negara sedang mempelajari CBDC, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, BI belum bisa memastikan kapan CBDC bisa diterbitkan.

"Jadi nggak bisa ada satu yang menggunakan atau menerbitkan CBDC, terus kita ikut-ikutan. Masing-masing negara beda sesuai kebutuhan. Kita harus melihat, apa benefit, apakah benefit-nya itu bisa diberikan atau dipenuhi oleh sistem yang ada," tambah Filianingsih.


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading