Gagal Bayar MTN, Bos Sritex Akhirnya Buka-bukaan Alasannya

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
19 May 2021 13:45
Dok.Instagram Sritex

Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex angkat bicara mengenai tak dibayarnya pokok dan bunga dari surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) Sritex tahap III tahun 2018 ke-6.

Hal ini disebabkan karena perusahaan tengah dalam status penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sementara.

Dalam surat yang ditandatangani oleh Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino disebutkan bahwa tak dibayarkannya MTN ini merupakan dampak dari PKPU yang saat ini dijalankan perusahaan.


"[Dampak PKPU] Semua utang tanpa terkecuali akan otomatis direstrukturisasi," tulis surat tersebut, dikutip Rabu (19/5/2021).

Selanjutnya disebutkan juga bahwa perusahaan tidak boleh melakukan pembayaran utang, termasuk MTN yang jatuh tempo pada 18 Mei 2021, kecuali perusahaan melakukan pembayaran utang atas semua utangnya kepada kreditor.

Adapun saat ini Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham emiten tekstil ini karena belum membayarkan kewajibannya ini.

Suspensi saham SRIL ini berdasarkan surat yang dikeluarkan bursa dengan nomor Peng-SPT-00006/BEI.PP3/05-2021 dan ditandatangani oleh Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 3 BEI Goklas Tambunan dan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI Irvan Susandy.

"Dalam rangka menjaga perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien maka BEI memutuskan untuk melakukan penghentian sementara Perdagangan Efek (Saham) PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) di Seluruh Pasar terhitung sejak Sesi I Perdagangan Efek tanggal 18 Mei 2021, hingga pengumuman Bursa lebih lanjut," tulis surat tersebut, Selasa (18/5/2021).

"Bursa meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Perseroan."

Adapun nilai MTN yang dimaksud memiliki nilai emisi sebesar US$ 25 juta (setara Rp 363 miliar, kurs Rp 14.500/US$), dengan tingkat bunga sebesar 5,8% dan dibayarkan dua kali dalam setahun.

Saat ini perusahaan tengah berada dalam status penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sementara.

PKPU ini terdaftar di Pengadilan Negeri Semarang dengan nomor gugatan 12/Pdt.Sus-PKPU/2021/PN Niaga Smg. Gugatan ini diajukan pada 19 April 2021 lalu oleh CV Prima Karya yang merupakan mitra usaha perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi.

Anak usaha perusahaan yang juga digugat dalam PKPU ini antara lain PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries dan PT Primayudha Mandirijaya.

Sementara itu, perusahaan baru-baru ini mengalami penurunan rating Jangka Panjang Issuer Default Rating (IDR) menjadi RD (Restricted Default) dari sebelumnya C yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat global Fitch Ratings.

Rating Restricted Default ini adalah peringkat utang yang satu tingkat di atas D, alias default.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading