Emas Diramal Tembus US$ 2.000 Lagi, Ternyata Ini Penyebabnya

Market - Tirta, CNBC Indonesia
19 May 2021 11:08
Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas diramal bakal balik ke US$ 2.000 lagi seiring dengan jatuhnya harga aset digital cryptocurrency seperti Bitcoin. Setidaknya sejak tahun 2021, pamor cryptocurrency yang semakin populer membuat emas ditinggalkan. 

Namun untuk saat ini langkah emas menuju US$ 2.000/troy ons masih jauh. Bukan berarti tidak mungkin. Harga emas tertahan di level US$ 1.866,94/troy ons setelah beberapa hari menguat. 


Setidaknya kini harga emas sudah berada di atas harga rata-rata 50,100 dan 200 hariannya atau secara teknikal indikator ini dikenal dengan nama moving average/MA50, MA100 dan MA200.

Pola 'golden cross' memang. Namun tenaga penguatan emas berasal dari jatuhnya harga aset digital Bitcoin dan melemahnya dolar AS. Bitcoin yang selama ini dielu-elukan sebagai emas digital telah kehilangan hampir 35% dari nilainya di puncak tertinggi. 

Setelah tembus sampai US$ 63.000/BTC, harga mata uang yang diciptakan oleh Satoshi Nakamoto ini ambles ke US$ 40.000/BTC. Penurunan tajam harga Bitcoin dikaitkan dengan ungkapan Elon Musk yang kontroversial. 

Bos perusahaan mobil listrik tersebut mengatakan Tesla tak akan lagi menerima pembayaran menggunakan Bitcoin karena masalah isu lingkungan yang ditimbulkan akibat aktivitas mining Bitcoin. 

Konsumsi listrik yang sangat besar dibutuhkan untuk aktivitas menambang Bitcoin yang sebenarnya digunakan untuk memvalidasi transaksi dalam sistem blockchain. Padahal sebelumnya Tesla mengkonversi sebagian kasnya senilai US$ 1,5 miliar ke dalam Bitcoin. 

Selain itu warning dari banyak pihak tentang bahaya cryptocurrency terutama dari pejabat publik dan bank sentral juga menjadi salah satu sentimen negatif yang memperberat pergerakan aset digital tersebut selain harganya sudah sangat tinggi. 

Well, selama ini banyak investor yang memiliki pemikiran bahwa Bitcoin bisa jadi salah satu aset untuk lindung nilai ketika inflasi yang tinggi datang. Dalam hal ini Bitcoin bisa menggantikan emas. 

Namun sayang, volatilitas yang sangat tinggi dan koreksi harga yang terjadi ketika inflasi mulai naik bukan awal yang bagus untuk menunjukkan taji Bitcoin sebagai aset untuk hedging. Bos bank sentral AS Jerome Powell memandang Bitcoin hanyalah sebagai kendaraan spekulasi. 

Penurunan harga Bitcoin yang tajam diyakini para analis bakal menjadi katalis positif untuk penguatan harga emas. Menurut Mike McGlone seorang strategi komoditas di Bloomberg Intelligence, harga emas berpeluang kembali tembus US$ 2.000/troy ons. 

Sebagai informasi harga tersebut sempat disentuh emas Agustus tahun lalu. Namun setelahnya harga emas cenderung downtrend hingga saat ini. 

Satu troy ounce, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram, sehingga besaran US$ 2.000 per troy ounce dikonversi dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 64,31 per gram. Dengan asumsi kurs rupiah Rp 14.500/US$, maka angka US$ 2.000 per troy ounce setara Rp 932.495/gram.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jeng..jeng, Investor Emas Pindah ke Saham Tesla & Bitcoin?


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading