Cakep! Emas Bisa Balik ke US$ 1.900 Lagi nih Gaes

Market - Tirta, CNBC Indonesia
18 May 2021 11:05
FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat dolar AS melemah, harga emas menguat. Itulah yang terjadi dalam satu bulan terakhir. Ketika indeks dolar AS terkoreksi 1,05%, harga si logam kuning menguat 5,62%. Tren bullish diperkirakan bakal berlanjut hingga minggu ini. 

Pada perdagangan pagi Selasa (18/5/2021), harga emas dunia di pasar spot menguat 0,14% ke US$ 1.869/troy ons. Kemarin harga emas naik 1,3% dan membawanya melambung ke atas level psikologis US$ 1.850/troy ons. 

Harga emas sekarang sudah diperdagangkan di atas pergerakan rata-rata harga 50, 100, dan 200 hariannya atau secara teknikal mencerminkan moving average (MA) untuk jangka waktu menengah dan panjang. 


Bagaimanapun juga kenaikan harga emas tak lepas dari tingginya inflasi. Selain dampak dari low base effect, inflasi di Paman Sam tercatat mencapai 4,2% (yoy) pada April lalu.

Ini merupakan inflasi tertinggi lebih dari satu dekade terakhir jika dihitung secara tahunan dan inflasi tertinggi dalam empat dekade terakhir jika dihitung berdasarkan bulanan. 

Inflasi yang tinggi memicu investor untuk kembali ke aset safe haven utama. Secara historis emas memang memiliki kinerja yang baik ketika inflasi yang tinggi terjadi. Selain bertepatan dengan pelemahan dolar AS, harga emas juga menguat di tengah volatilitas tinggi dan kontroversi aset cryptocurrency. 

Layaknya suhu tubuh manusia, inflasi harus dijaga stabil di kisaran optimal. Inflasi yang terlalu tinggi (inflasi) maupun terlalu rendah (deflasi) buruk bagi perekonomian. Seperti halnya ketika kepanasan ataupun menggigil kedinginan.

Inflasi adalah fenomena ekonomi yang dijumpai sehari-hari yang berarti penurunan nilai dari suatu mata uang. Inflasi juga menggerus imbal hasil dari investasi di suatu aset.

Selain aspek fundamental dan kecemasan inflasi yang tinggi membuat banyak yang lari ke emas lagi, aspek teknikal juga cukup menjadi pendorong harga emas menguat. 

Menurut Senior Market Strategist Fullerton Research Franky Nangoy, setelah berhasil menembus level US$ 1.861/troy ons selanjutnya emas berpeluang menuju area US$ 1.875 dan US$ 1.900 dalam beberapa minggu ke depan. 

Sentimen bullish emas juga merebak di kalangan analis Wall Street maupun Main Street. Survei Kitco terhadap kedua golongan responden tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 70% menjawab harga emas bakal bullish minggu ini.

Apabila dolar AS semakin melemah, aset-aset kripto yang selama ini menjadi saingan juga berguguran maka sudah saatnya emas berkilau kembali seperti dulu.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kenapa Susah Cari Cuan dari Kemilau Emas? Ini Penyebabnya


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading