Saved by The Bell! Kalau Hari Ini IHSG Buka Niscaya Kebakaran

Market - Putra, CNBC Indonesia
13 May 2021 16:05
Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia libur Hari Raya Idul Fitri pada hari Kamis dan Jumat besok. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sudah libur sejak Rabu kemarin, tetapi misalnya buka hari ini maka bisa dipastikan akan masuk ke zona merah.

Hal ini sebab bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street yang merupakan kiblat bursa saham dunia ambrol ke level terendah 2 bulan, bahkan bursa saham Asia pun menyusul ambruk sejak pagi tadi.

Melansir data dari Refinitiv bursa saham AS (Wall Street) ambrol pada perdagangan Selasa waktu setempat, indeks Dow Jones minus 2%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masih-masing minus 2,14% dan 2,67%.


Kemudian bursa saham Asia menyusul, indeks Nikkei Jepang jeblok hingga 2,49%, Shanghai Composite China dan Hang Seng Hong Kong masing-masing turun 0,96% dan 1,81%. Sementara itu Kospi di Korea Selatan minus 1,25%.

Jebloknya bursa saham terjadi sejak Rabu kemarin akibat ekspektasi bank sentral AS (The Fed) yang akan merubah kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Sebab, salah satu indikator ekonomi yang dijadikan acuan The Fed untuk menerapkan kebijakan moneter yakni Indeks Harga Konsumen (IHK), melesat tajam.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April melesat atau mengalami inflasi 4,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Rilis tersebut jauh lebih tinggi ketimbang hasil survei Dow Jones sebesar 3,6%.

Sementara dari bulan Maret atau secaramonth-to-month (mtm) tumbuh 0,8%, juga jauh lebih tinggi dari survei 0,2%.

Sementara inflasi inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 3% yoy dan 0,9% mtm, lebih dari dari ekspektasi 2,3% yoy dan 0,3% mtm.

Kenaikan inflasi secara tahunan tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 2008, sementara secara bulanan terbesar dalam 40 tahun terakhir.

The Fed sebenarnya menggunakan inflasi berdasarkanPersonal Consumption Expenditure (PCE) sebagai acuan, meski demikian inflasi IHK yang tinggi juga bisa menjadi indikasi inflasi PCE akan melesat.

The Fed menetapkan target inflasi rata-rata 2%, jika dalam beberapa bulan ke depan inflasi konsisten di atas target tersebut, bukan tidak mungkin The Fed dalam waktu dekat mempertimbangkan mengurangi nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) atau yang dikenal dengan istilahtapering.

QE yang digelontorkan senilai US$ 120 miliar per bulan sejak Maret 2020 merupakan salah satu alasan bursa saham dunia mampu bangkit dari keterpurukan saat mengalami aksi jual di bulan yang sama tahun lalu.

Alhasil, jika QE dikurangi atau munculnya ekspektasi tapering maka pasar saham merespon negatif.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading