Deg-degan Nungguin Emas Menuju Puncak? Cek Dulu Faktanya

Market - Tirta, CNBC Indonesia
11 May 2021 12:47
FILE PHOTO: An employee shows gold bullions at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada potensi harga emas akan berkonsolidasi terlebih dahulu di level saat ini. Kenyataan apakah harga emas akan bullish, sideways, atau bahkan bearish akan ditentukan seberapa kuat emas bertahan di level resisten saat ini. 

Harga emas cenderung flat pada perdagangan Selasa (11/5/2021) waktu Asia. Sejak minggu lalu harga emas sudah berada di atas US$ 1.830/troy ons. Hari ini emas melemah 0,04% dan tetap di US$ 1.835/troy ons. 

Uptren harga emas sejak awal April membuat harga sekarang sudah berada di atas rata-rata pergerakan harga 50 harian (MA50) dan 100 hariannya (MA100). Harga emas semakin dekat ke rata-rata pergerakan harga 200 hariannya. 


Jika emas berhasil tembus US$ 1.850/troy ons, ini akan jadi momentum bullish dan reli harga emas yang berkelanjutan mengingat posisi tersebut adalah level psikologis yang merupakan titik resisten terdekat dan harga rata-rata 200 hariannya (MA200) yang bakal menguji seberapa kuat emas. 

Poling Reuters terhadap strategi valas menunjukkan bahwa dolar AS kemungkinan masih akan tertekan tiga bulan ke depan. Tentu saja ini jadi kabar baik untuk harga emas. 

Dolar AS dan emas merupakan dua aset keuangan yang saling bertolak belakang alias memiliki korelasi negatif. Pelemahan dolar AS akan cenderung mendorong harga emas lebih tinggi. 

Apalagi di tengah kondisi inflasi yang terus terlihat naik di tengah kebijakan makro akomodatif yang ditempuh pemerintah serta bank sentral. Semakin agresifnya vaksinasi dan pembukaan ekonomi di negara-negara Barat akan cenderung memantik inflasi terjadi. 

Ekspektasi inflasi yang tinggi menjadi katalis positif untuk emas mengingat si logam kuning merupakan salah satu aset yang diburu investor ketika inflasi terjadi untuk dijadikan sebagai store of wealth ketika devaluasi mata uang terjadi. 

Saat ini memang ada tren bahwa investor mulai beralih ke komoditas industri lainnya bahkan sampai aset digital kripto untuk hedging dari risiko inflasi yang tinggi. Beberapa berpendapat bahwa aset kripto bisa menggantikan peran emas.

Namun dalam sepanjang sejarah inflasi belum ada yang seteruji emas. Walaupun terbilang konservatif, tetapi emas masih menjadi opsi paling aman yang tak lekang oleh zaman. 

Pasokan yang cenderung stabil dan nilai historisnya membuat emas dijadikan aset untuk lindung nilai meskipun tidak memberikan imbal hasil apapun. Kombinasi aspek teknikal, sentimen dan fundamental ini membuat analis dan investor kompak meramal harga emas bakal bullish minggu depan.

Survei yang dilakukan oleh Kitco News terhadap 16 analis Wall Street menunjukkan bahwa 88% di antaranya meyakini harga emas bisa naik minggu depan. Sementara itu poling yang digalang dengan target responden investor ritel oleh Kitco menunjukkan bahwa persepsi bullish terhadap emas minggu depan juga tak terlalu jauh.

Well, itulah 3 amunisi utama untuk menguat minggu ini dan dalam beberapa waktu ke depan. Jadi kali ini giliran emas yang berpesta bukan dolar AS.

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar AS 'Ngamuk', Emas Jadi Korban


(twg/twg)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading