Tembaga Disebut si "Minyak Baru", Stok Menipis Harga Melejit

Market - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
07 May 2021 13:02
FILE PHOTO: Workers pour melted copper in a mould to make utensils and accessories inside a workshop in Srinagar March 27, 2014. REUTERS/Danish Ismail/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia dikabarkan dalam tahap risiko kehabisan pasokan tembaga di tengah defisit permintaan dan pasokan yang semakin melebar. Bahkan, tak tanggung-tanggung harga si "minyak baru" ini bakal menembus US$ 20 ribu per metrik ton (MT) di 2025.

Hal tersebut berdasarkan analisis Bank of America (BofA), seperti dilansir dari CNBC International, Kamis (06/05/2021).

Dalam sebuah catatan pada Selasa (04/05/2021), ahli strategi komoditas Bank of America Michael Widmer menyoroti persediaan yang diukur dalam ton sekarang berada pada level yang terlihat 15 tahun lalu, menyiratkan bahwa stok saat ini hanya mencakup sekitar tiga minggu permintaan. Ini terjadi ketika ekonomi global mulai terbuka dan meningkat.


"Terkait dengan itu, kami memperkirakan defisit pasar tembaga, dan persediaan menurun lebih lanjut, tahun ini dan tahun depan," kata Widmer, seperti dikutip dari CNBC International.

"Dengan persediaan (London Metal Exchange) mendekati titik jepit, ada risiko kemunduran, dipicu oleh reli harga dalam waktu dekat ini, diperkirakan dapat meningkat," ujarnya.

Kemunduran ini yaitu ketika underlying aset diperdagangkan dengan harga yang lebih tinggi daripada yang diperdagangkan di pasar berjangka.

Widmer juga menggarisbawahi bahwa peningkatan volatilitas akibat turunnya persediaan bukan tanpa preseden, karena hal ini pernah terjadi pada komoditas nikel di mana terjadi kekurangan stok nikel di gudang LME pada tahun 2006/2007, sehingga mendorong harga nikel melesat lebih dari 300%.

Mengingat lingkungan fundamental dan persediaan yang menipis, Widmer memperkirakan bahwa harga tembaga mungkin akan melonjak menjadi US$ 13.000 per ton di tahun-tahun mendatang setelah menyentuh US$ 10.000 per ton pada pekan lalu untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

Harga tembaga berada di bawah US$ 4,54 per pon pada pukul 5:30 pagi waktu London pada Kamis, naik 30% untuk sesi tersebut.

Setelah defisit pada 2021 dan 2022, BofA memperkirakan pasar tembaga dapat menemukan keseimbangan baru pada 2023 dan 2024, sebelum terjadinya defisit stok lebih lanjut pada 2025.

"Dalam pandangan kami, pasokan scrap sangat penting dan analisis kami menunjukkan bahwa penggunaan scrap di pabrik peleburan/ pemurnian dapat meningkat dari sekitar 4.200 ton pada 2016 menjadi 6.700 ton pada 2025," kata Widmer.

"Jika ekspektasi kami akan adanya peningkatan pasokan di bahan sekunder, di pasar yang tidak transparan, tidak terwujud, persediaan dapat habis dalam tiga tahun ke depan, sehingga menimbulkan perubahan harga yang lebih hebat yang dapat membawa logam merah ini di atas US$ 20.000 per ton (US$ 9,07/lb," paparnya.

Tembaga, Si "Minyak Baru"
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading