Newsletter

Mayday, Mayday! Dolar AS Mau Jatuh

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
07 May 2021 06:00
FILE PHOTO: A U.S. Dollar note is seen in this June 22, 2017 illustration photo.   REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup bervariasi pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis tetapi nilai tukar rupiah menguat dengan meyakinkan.

Kemarin, IHSG ditutup melemah tipis 0,09% ke 5.970,24. Namun investor asing melakukan beli bersih Rp 321,99 miliar di pasar reguler.

Tidak cuma di pasar saham, arus modal pun sepertinya menyerbu obligasi pemerintah. Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah tenor 10 tahun turun 2,3 basis poin (bps) ke 6,455%. Penurunan yield menandakan harga obligasi sedang naik.


Tidak cuma di 10 tahun, penurunan yield terjadi di hampir seluruh tenor. Berikut posisi yield Surat Berharga Negara (SBN) pada penutupan perdagangan kemarin:

Aliran modal di pasar saham dan SBN itu membuat rupiah perkasa. Di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), rupiah finis di posisi Rp 14.315/US$, menguat 0,8%.

Dolar AS sebagai lawan tanding memang sedang kepayahan. Dollar Index, yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia,melemah 1,55% dalam sebulan terakhir.

Berdasarkan jajak pendapat yang digelar Reuters terhadap lebih dari 60 FX strategist di berbagai negara, pelaku pasar memperkirakan dolar AS masih akan menjalani tren depresiasi setidaknya tiga bulan lagi.

Pelemahan dolar AS tidak lepas dari memudarnya keyakinan bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan lebih cepat, tidak 2023 seperti perkiraan selama ini. Meski berbagai data menunjukkan ekonomi AS terus membaik sehingga memunculkan risiko tekanan inflasi, tetapi Ketua Jerome 'Jay' Powell dan sejawat keukeuh bahwa itu belum stabil. Masih temporer, belum berkelanjutan, belum bisa disebut sebagai pola atau tren.

Betul, ekonomi AS pulih dengan lumayan cepat. Namun pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) meninggalkan 'luka' yang teramat dalam sehingga butuh waktu yang tidak sebentar untuk sembuh.

Contoh, ADP merilis angka penciptaan lapangan kerja di AS selama April 2021 adalah 742.000. Ini adalah angka tertinggi sejak September tahun lalu.

Namun jangan lupa, jumlah lapangan kerja sempat menyusut 19,39 juta pada April 2020 gara-gara karantina wilayah (lockdown). Sejak Mei 2020 hingga bulan lalu, total penciptaan lapangan kerja baru 11,37 juta. So, masih ada lebih dari 8 juta orang yang kehilangan pekerjaan gara-gara pandemi dan belum mendapatkan yang baru.

The Fed tidak hanya punya mandat menjaga inflasi, tetapi juga mendorong penciptaan lapangan kerja yang maksimal (maximum employment). Sekarang kondisinya masih jauh dari itu, sehingga dorongan stimulus moneter masih dibutuhkan. Salah satunya adalah dengan menjaga suku bunga acuan ultra-rendah.

Dengan suku bunga acuan yang rendah, maka berinvestasi di aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi) menjadi kurang menarik. Masa depan dolar AS pun suram.

"Sepertinya kita masih akan menjalani tren pelemahan dolar AS, dan itu akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Sekarang pertanyaannya, apakah mata uang lain bisa memanfaatkan itu?" tegas Kit Juckes, Head of FX Strategist di Societe Generale, seperti dikutip dari Reuters.

Halaman Selanjutnya --> Suku Bunga Masih Akan Rendah, Wall Street Bergairah

Suku Bunga Masih Akan Rendah, Wall Street Bergairah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading