'Tsunami' Corona India, Harga Batu Bara Cuek & Terus Melesat!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
04 May 2021 10:53
People queue up for COVID-19 vaccine in Mumbai, India, Monday, April 26, 2021. New infections are rising faster in India than any other place in the world, stunning authorities and capsizing its fragile health system. (AP Photo/Rafiq Maqbool)

Jakarta, CNBC Indonesia Kasus infeksi Covid-19 yang meledak di India tak menghalangi harga batu bara untuk reli. Buktinya Senin kemarin harganya lanjut terapresiasi dan mendekati level tertingginya dalam 2 minggu terakhir.

Senin (3/5/2021), harga kontrak batu bara termal ICE Newcastle naik 0,27% ke US$ 91,85/ton. Terakhir harga batu bara tembus ke US$ 92/ton pada 16 April lalu.


Krisis kesehatan di India semakin tak terbendung. Jumlah kasus infeksi harianCovid-19 di India tembus hampir 400 ribu. Sementara angka kematian harian mencapai lebih dari 3.00 orang.

Pasokan oksigen menipis. Begitu juga dengan obat dan vaksin. Pemerintah memutuskan untuk kembali mengunci India. Konsumsi listrik untuk sektor industri dan komersial bakal tertekan lagi dengan adanya lockdown kali ini.

Namun salah satu pemicu naiknya harga batu bara adalah kenaikan harga batu bara China yang masih disebabkan oleh ketatnya pasokan di tengah kenaikan permintaan sehingga harga batu bara lokalnya naik tajam.

"Permintaan batu bara banyak datang guna memenuhi kebutuhan pembangkit Tiongkok," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi.

Tingginya kebutuhan batu bara Tiongkok, sambung Agung, turut mempengaruhi kebijakan impor negara tersebut. Pasalnya, China Electricity Council (CEC) memperkirakan konsumsi listrik tahun 2021 ini naik 7%-8% dibandingkan 2020.

Pada Februari lalu CEC meramal konsumsi listrik naik 6-7%. Namun setelahnya konsumsi listrik diramal naik lebih tinggi di angka 7-8%.

Lebih lanjut, CEC menyatakan pertumbuhan konsumsi listrik bisa melebihi 8% tahun ini. Dengan catatan suhu musim panas yang tinggi mempengaruhi sebagian besar negara untuk waktu yang lama yang secara signifikan akan meningkatkan permintaan pendingin udara.

Di saat yang sama inspeksi wilayah tambang oleh pemerintah setempat juga mengganggu jalannya produksi sehingga harga naik. Argus Media melaporkan Provinsi Shanxi sebagai penghasil batu bara terbesar kedua di China telah menghentikan operasi di empat tambang karena melanggar aturan keselamatan.

Hal ini dapat mengurangi pasokan batu bara dalam negeri China. Operasi di tambang dihentikan setelah administrasi darurat Shanxi melakukan pemeriksaan keamanan di 24 tambang lokal selama 11-21 April.

Selanjutnya, pemerintah Tiongkok pun melakukan relaksasi impor sehingga turut mengerek harga batu bara global. Di sisi lain perbaikan ekonomi di kawasan Asia juga menjadi salah satu pengerek harga batu bara.

Naiknya harga batu bara Newcastle juga ikut mendongkrak harga batu bara acuan (HBA) di dalam negeri.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menetapkan HBA US$ 89,74 per ton pada perdagangan sepanjang bulan Mei 2021. Besaran ini meningkat US$ 3,06 per ton dari HBA April, yakni US$ 86,68 per ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading