Pasokan di China Menipis, Harga Batu Bara Meroket Lagi!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 May 2021 14:00
eskcavator dan batu bara

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali meroket di pekan ini akibat menipisnya pasokan di China. Tetapi, jika melihat ke belakang harga batu bara masih tertahan di kisaran US$ 90/ton, dan cenderung bolak-balik dari level tersebut ke US$ 85/ton.

Melansir data Refinitiv, harga batu bara ICE Newcastle untuk kontrak Juli sepanjang pekan ini melesat 6,14% ke US$ 90,75/ton. Sementara pada pekan lalu merosot 5,9%.


Argus Media melaporkan Provinsi Shanxi sebagai penghasil batu bara terbesar kedua di China telah menghentikan operasi di empat tambang karena melanggar aturan keselamatan.

Hal ini dapat mengurangi pasokan batu bara dalam negeri China. Operasi di tambang dihentikan setelah administrasi darurat Shanxi melakukan pemeriksaan keamanan di 24 tambang lokal selama 11-21 April. Administrasi mengidentifikasi 384 pelanggaran peraturan keselamatan dan mengenakan sanksi berupa denda senilai U$ 608.000.

Berkurangnya pasokan di China tentunya mengerek batu bara, apalagi dengan permintaannya yang diperkirakan tinggi ke depannya. Sebab, perekonomian China diprediksi akan tumbuh hingga 8,4% di tahun ini.

Prediksi pertumbuhan ekonomi tersebut diberikan oleh Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) dalam World Economic Outlook edisi April. Proyeksi tersebut lebih tinggi ketimbang yang diberikan sebelumnya di bulan Januari 8,1%. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, artinya permintaan baru bara tentunya juga akan meningkat.

Selain itu, konsumsi listrik di China juga diperkirakan meningkat. China Electricity Council (CEC) memperkirakan konsumsi listrik tahun ini naik 7-8% dibanding tahun 2020. Pada Februari lalu CEC meramal konsumsi listrik naik 6-7%. Namun setelahnya konsumsi listrik diramal naik lebih tinggi di angka 7-8%.

Lebih lanjut, CEC menyatakan pertumbuhan konsumsi listrik bisa melebihi 8% tahun ini. Dengan catatan suhu musim panas yang tinggi mempengaruhi sebagian besar negara untuk waktu yang lama yang secara signifikan akan meningkatkan permintaan pendingin udara.

Disebutkan juga bahwa peningkatan tahunan pada paruh kedua tahun 2021 akan lebih rendah dari pada semester pertama, karena basis yang relatif rendah pada awal tahun 2020 akibat dampak Covid-19.

Kenaikan konsumsi listrik China tentu saja akan ikut mengerek permintaan batu bara terutama jenis termal yang banyak disuplai oleh Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading