Pagi Perkasa-Siang Tak Berdaya, Ada Apa Denganmu Rupiah?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 April 2021 12:50
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berbalik melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan perdagangan Jumat (30/4/2021). Padahal di pembukaan perdagangan pagi tadi Mata Uang Garuda menguat cukup tajam.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,31% ke Rp 14.400/US$. tetapi tidak lama, kurang dari 1 jam kemudian rupiah berbalik melemah 0,03% ke Rp 14.450/US$, dan tertahan di level tersebut hingga pukul 12:00 WIB.

Di sisa perdagangan hari ini rupiah masih berpeluang untuk kembali menguat melihat pergerakannya di pasar non-deliverable forward (NDF) yang sedikit lebih lemah siang ini ketimbang beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan tadi pagi.


PeriodeKurs Pukul 8:54 WIBKurs Pukul 11:54 WIB
1 PekanRp14.422,50Rp14.432,9
1 BulanRp14.443,00Rp14.474,0
2 BulanRp14.501,00Rp14.530,0
3 BulanRp14.550,00Rp14.581,0
6 BulanRp14.715,00Rp14.746,0
9 BulanRp14.875,00Rp14.945,0
1 TahunRp15.100,00Rp15.115,0
2 TahunRp15.822,50Rp15.825,6

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.


Penguatan cukup tajam di awal perdagangan hari ini melanjutkan kinerja apik Kamis kemarin, sebab dolar AS sedang tertekan.

Kamis dini hari, bank sentral AS (The Fed) menegaskan tidak akan mengubah kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Suku bunga 0,25% masih akan dipertahankan setidaknya hingga tahun 2023, meskipun perekonomian AS diakui tumbuh lebih tinggi ketimbang prediksi.

Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bicara penghentian pembelian obligasi di pasar. The Fed saat ini membeli obligasi atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE) senilai US$ 120 miliar per bulan, artinya itu masih akan terus berlanjut, dan belum akan dilakukan pengurangan nilai pembelian atau tapering.

Pengumuman tersebut membuat indeks dolar AS merosot 0,33% pada perdagangan Rabu, dan kemarin sempat turun 0,2% ke 90,424, yang merupakan level terendah sejak 26 Februari lalu. Indeks dolar AS sempat bangkit sebelum berakhir stagnan setelah rilis data produk domestik bruto (PDB) Negeri Paman Sam kuartal I-2021 yang tumbuh 6,4%.

Meski pertumbuhan tersebut tinggi, tetapi sedikit di bawah ekspektasi pelaku pasar sebesar 6,5%. Pagi tadi, indeks dolar AS sempat turun, namun kemudian naik tipis 0,05% ke 90,661 yang membuat rupiah berbalik melemah.

Yield obligasi (Treasury) AS yang kembali naik membuat indeks dolar AS ikut terungkit. Hingga siang ini yield Treasury tenor 10 tahun naik 0,7 basis poin, setelah naik 2 basis poin kemarin. Bahkan sepanjang pekan sudah naik 8 basis poin.

Kenaikan yield didorong oleh rencana Biden untuk menggelontorkan stimulus baru bernilai US$ 1,8 triliun. Biden menyebutnya dengan nama American Families Plan. Sumber pendanaan stimulus ini rencananya datang dari kenaikan tarif pajak, terutama untuk badan dan orang kaya.

"Sudah saatnya perusahaan AS dan 1% orang terkaya membayar jatah mereka. Membayar jatah yang adil," tegas Biden dalam paparan di hadapan Kongres, seperti dikutip dari Reuters.

Jika stimulus tersebut digelontorkan, maka pemulihan ekonomi AS akan semakin terakselerasi, dan inflasi juga akan melesat tinggi. Hal tersebut memicu kenaikan yield Treasury.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading