Asing Kabur Rp 578 M, Transaksi Sepi, IHSG 'Kebakaran'

Market - trp, CNBC Indonesia
21 April 2021 15:37
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali keluar dari level psikologis 6.000 pada perdagangan hari ini, Rabu (21/4/2021). Indeks saham acuan bursa domestik itu ditutup dengan koreksi parah. Posisi IHSG minus 0,75% dibanding kemarin dan sekarang ke 5.993. 

Sebanyak 190 saham mengalami kenaikan, 290 turun dan sisanya 155 stagnan. Nilai transaksi hari ini hanya Rp 7,59 triliun. Asing tercatat kabur sebesar Rp 578 miliar di pasar reguler. 

Data BEI mencatat, empat saham bank kakap nasional yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dilego asing senilai lebih dari Rp 200 miliar.


Saham dengan kapitalisasi pasar besar lain yang juga dilepas asing adalah saham PT Astra International Tbk (ASII). Saham ini dilepas asing sebesar Rp 81,2 miliar. 

Transaksi juga terbilang sepi karena sepanjang hari hanya mencapai Rp 7,5 triliun saja. Dilihat dari data transaksi bursa saham domestik memang cenderung sepi peminat. Hal ini berbeda jauh dengan awal tahun yaitu di bulan Januari yang nilai transaksi rata-rata per harinya mencapai lebih dari Rp 20 triliun. 

Sepinya transaksi juga terjadi seiring dengan semakin maraknya investor yang melirik lapak aset digital cryptocurrency. Selain dari transaksi maraknya investor yang pindah ke kripto tercermin dari data Bappepti yang menyebut investor aset kripto per akhir Februari mencapai 4,2 juta orang.

Jumlah investor kripto tersebut mengalahkan jumlah investor saham. Per Februari, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah Single Investor Identification (SID) saham mencapai 2 juta akun atau tepatnya 2.001.288 akun.

Bursa saham nasional juga terus digempur dengan aliran modal keluar (capital outflow). Dana investor asing yang keluar dalam sebulan terakhir sangatlah fantastis di angka Rp 5,4 triliun.

Biang kerok lain yang membuat IHSG menjadi tak bertenaga adalah kinerja keuangan para emiten yang jauh dari kata memuaskan. 

Hal ini tercermin dari P/E (price earning) rasio IHSG yang saat ini berada di kisaran 21,81 kali yang masih tergolong mahal dibandingkan dengan SBN RI bertenor 10 tahun yang saat ini diperdagangkan dengan imbal hasil 6,439%.

Di angka tersebut batas toleransi P/E wajar non CAGR investor berada di angka 15,53 kali yang menunjukkan berinvestasi di bursa saham menjadi kurang menarik dibandingkan dengan SBN bertenor 10 tahun.

Selain itu, rumor tidak efektifnya vaksin Sinovac yang paling banyak dipergunakan pemerintah dalam vaksinasi masal di Tanah Air juga menjadi pemberat gerak IHSG.

Bahkan terbaru Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Deputi Gubernur Senior dan Anggota Dewan Gubernur lain dalam RDG BI edisi April 2021 merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dalam negeri pada 2021 menjadi 4,1-5,1%. Perkiraan tersebut lebih rendah dari yang sebelumnya yaitu 4,3-5,3%.

"Pertumbuhan ekonomi diperkirakan 4,1-5,1%," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Selasa (20/4/2021).

Jadi, saat ini IHSG masih menunggu dorongan kabar baik, terutama dengan skala yang lebih besar agar dapat mampu mendorong pasar modal untuk kembali semringah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading