Kasus Corona Melonjak, Bursa Asia Ragu & Ambles di Zona Merah

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
21 April 2021 08:48
pasar saham asia

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia kembali dibuka melemah pada perdagangan Rabu (21/4/2021), karena pelaku pasar khawatir terkait lonjakan kasus virus corona (Covid-19) global, terutama di India dan Jepang yang dapat membebani prospek ekonomi dan sentimen investor.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka ambruk 1,5%, Hang Seng Hong Kong ambles 1,49%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,48%, Straits Times Index (STI) Singapura merosot 0,89% dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,56%.

Dari kabar pergerakan saham, saham maskapai di Asia kembali ambruk setelah saham maskapai Amerika Serikat (AS), United Airlines ambruk hingga 8%. Saham maskapai di Jepang, Japan Airlines dan ANA Holdings pun merosot masing-masing 0,89% dan 1,08%.


Pelaku pasar Asia, terutama di Jepang khawatir jika kenaikan kasus Covid-19 yang kembali terjadi dapat membuat pemulihan ekonomi tak berjalan lancar dan dapat mempengaruhi sentimen pelaku pasar.

Di Jepang, Tokyo dan Osaka dapat kembali menerapkan keadaan darurat karena kasus aktif Covid-19 yang kembali melonjak.

Pemerintah Jepang pada April menempatkan kedua prefektur tersebut serta wilayah lainnya di bawah "keadaan semu darurat" tetapi langkah-langkah tersebut tidak banyak membantu membalikkan tren lonjakan kasus Covid-19 di Jepang sejauh ini.

Data dari otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa di Tokyo pada akhir pekan lalu (19/4/2021), jumlah orang yang terinfeksi virus Covid-19 telah melebihi 400 sejak 25 Januari lalu, dan infeksi terus menyebar, setidaknya 58 orang telah dipastikan terinfeksi virus mutan baru corona.

Sementara itu di India, situasi virus Covid-19 di negara itu makin parah, sebanyak 259.170 infeksi harian baru terdaftar pada Selasa (20/4/2021).

Beralih ke AS, bursa saham New York (Wall Street) kembali tergelincir pada penutupan perdagangan dini hari tadi. Tak hanya di Asia, pelaku pasar di Negeri Paman Sam juga khawatir dari seiring meningkatnya kasus corona global yang menyebabkan pelaku pasar 'cabut' kembali dari saham-saham siklikal.

Indeks acuan Paman Sam Dow Jones terdepresiasi 0,75% ke level 33.821,30, S&P 500 melemah 0,68% ke 4.134,94. Sementara indeks Nasdaq yang memiliki konstituen saham-saham teknologi terkoreksi paling parah, yakni 0,92% ke 13.786,27.

Setelah sebelumnya sempat mengabaikan sang pembawa bencana Covid-19 karena vaksinasi massal telah dimulai, para investor mulai kembali memfokuskan masalah ke virus dari Wuhan, China. Pasalnya tren lonjakan kasus kembali terjadi di seluruh dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pun memperingatkan pada Jumat (16/4/2021) lalu, bahwa tingkat infeksi Covid-19 global mendekati level tertinggi yang pernah ada.

Kasus baru Covid-19 di global yang sempat berada di kisaran 350 ribu kasus baru perhari pada bulan Februari silam, kembali melesat dan saat ini rata-rata tujuh hari terakhir. Bahkan, bertambah 628 ribu atau naik hampir dua kali lipat meski vaksinasi massal di seluruh belahan bumi sudah dilancarkan.

Hal ini menyebabkan saham-saham energi akhirnya dilego investor karena para pemodal bertaruh industri transportasi global yang biasanya membantu menyokong industri energi masih belum akan pulih dalam waktu cepat.

Hal Ini tentu juga menyebabkan aksi jual di saham-saham maskapai penerbangan semacam Boeing, United Airlines, Southwest Airlines, Delta Air Lines, dan American Airlines.

Saham-saham finansial juga kembali berada di posisi bertahan setelah sektor ini terkena efek turunnya imbal hasil (yield) obligasi AS, di mana obligasi tenor 10 tahun yang diterbitkan pemerintah AS yang biasanya menjadi acuan turun 38 basis poin (bp) menjadi 1,56%.

Saham-saham teknologi yang biasanya diuntungkan dari koreksi obligasi juga ternyata gagal memanfaatkan momentum setelah investor masih menunggu rilis kinerja keuangan FAANG.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading