Jelang Rilis PDB Q1 China, Bursa Asia Cerah Bergairah

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
16 April 2021 08:36
People walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Monday, Dec. 2, 2019. Asian stock markets have risen after Chinese factory activity improved ahead of a possible U.S. tariff hike on Chinese imports. Benchmarks in Shanghai, Tokyo and Hong Kong advanced. 
(AP Photo/Koji Sasahara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka menghijau pada perdagangan Jumat (16/4/2021), jelang rilis data pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama tahun 2021 yang akan dirilis pada pukul 10:00 waktu setempat atau pukul 09:00 WIB.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,43% Hang Seng Hong Kong dibuka naik 0,12%, Shanghai Composite China menguat 0,24%, Straits Times Index (STI) Singapura tumbuh 0,16%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,32%.

Pelaku pasar Asia akan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama tahun 2021 yang akan dirilis pada pukul 10:00 waktu setempat atau pukul 09:00 WIB.


Selain pertumbuhan ekonomi Negeri Panda, data ekonomi China lainnya yang akan dirilis pada hari ini adalah data penjualan ritel pada Maret 2021 dan tingkat pengangguran China periode Maret 2021.

Hasil polling Reuters menunjukkan produk domestik bruto (PDB) China diprediksi melesat 19% (year-on-year/YoY) di kuartal I-2021. Pertumbuhan yang terbilang tinggi, tetapi juga karena low base effect, sebab pada kuartal I-2020 PDB China mengalami kontraksi (tumbuh negatif) sebesar 6,8%.

Tidak hanya di kuartal I, perekonomian China juga diprediksi akan semakin membaik sepanjang tahun ini.

Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) merilis World Economic Outlook edisi April merilis proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi.

Dalam laporan tersebut, IMF memberikan proyeksi yang optimistis terhadap perekonomian global. Dalam laporan tersebut, IMF merevisi pertumbuhan ekonomi global di tahun ini menjadi 6%, dibandingkan dengan proyeksi yang diberikan bulan Januari lalu yang sebesar 5,5%.

Sementara itu PDB China diprediksi tumbuh 8,4% sepanjang tahun ini, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 8,1%.

Investor di Asia juga akan mengamati pasar saham di India, setelah situasi Covid-19 di negara itu kembali parah, dengan data yang dirilis Kamis (15/4/2021) menunjukkan infeksi harian melewati angka 200.000.

Beralih ke Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street kembali melesat dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Kamis (15/4/2021) waktu setempat. Data ekonomi AS yang dirilis impresif menjadi pemicunya.

Indeks Dow Jones melesat 0,9% ke 34.035,99 yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Kemudian indeks S&P 500 naik 1,11% ke 4.170,42 juga merupakan rekor tertinggi, Nasdaq memimpin penguatan sebesar 1,31% ke 14.038,76.

Data dari AS yang dirilis penjualan ritel Maret melesat 9,8% atau mendekat proyeksi beberapa ekonom (yang mengestimasikan kenaikan sebesar 10%) berkat bantuan langsung tunai (BLT) sebesar US$ 1.400. Capaian itu jauh lebih baik dari median konsensus Dow Jones yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 6,1%.

Di sisi lain, klaim tunjangan pengangguran baru sepanjang pekan lalu yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS tercatat hanya sebesar 576.000 atau jauh lebih baik dari proyeksi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 710.000 unit klaim.

"Saya sangat bullish, dan anda betul bahwa kita juga harus mewaspadai defisit [APBN]... jika kita tak mencetak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam 10 tahun ke depan," tutur Larry Fink, CEO BlackRock dalam wawancara dengan CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading