Jangan Ngiler! Tahun Ini IHSG Bisa Tembus All Time High Lho

Market - Putra, CNBC Indonesia
13 April 2021 17:10
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi pada perdagangan hari ini sebesar 0,36% dan ditutup di level 5.927,43.

Pasar mulai kehilangan gairah, yang ditunjukkan oleh nilai transaksi IHSG yang saat ini konsisten berada di bawah level Rp 10 triliun. Angka ini turun separuh dari nilai transaksi rata-rata Januari 2021 silam.

Investor asing juga kembali melarikan dananya. Tercatat selama sebulan terakhir, dana asing yang lari dari bursa lokal angkanya sangat fantastis mencapai Rp 4,94 triliun.


Meskipun demikian sejatinya outlook pasar modal lokal untuk tahun 2021 masih cerah, dan koreksi yang terjadi masih tergolong sehat dan bukan merupakan koreksi yang fatal.

Tahun 2021 sendiri diyakini bakal menjadi tahun pemulihan baik di sektor riil maupun di pasar keuangan, menyusul dimulainya vaksinasi di berbagai belahan dunia. Pasar modal nasional pun berpeluang kian bergairah, terutama di tengah suntikan likuiditas di pasar.

Sebagai bagian dari pemulihan, berbagai negara telah menyuntikkan stimulus, yang diharapkan menjadi obat kuat untuk menggulirkan perekonomian ketika pembatasan sosial menghambat pergerakan manusia dan juga aktivitas perekonomian.

Selama tahun lalu, pasar modal tertekan besar-besaran dengan koreksi IHSG sebesar 5,09% menjadi 5.979,073. Ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang terkontraksi sebesar -2,07%.

Untuk tahun ini, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi akan kembali ke level pra-pandemi, sebesar 5%. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) agak bersepakat, dengan mematok proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8%.

Di tengah proyeksi demikian,Tim Riset CNBC Indonesia memprediksi akhir tahun ini IHSG akan mampu menembus level 6.700 atau melewati level tertinggi sepanjang masanya di angka 6.693. Dengan demikian, masih ada 750 poin kenaikan yang bakal menanti dalam 9 bulan ini.

Berikut berberapa katalis positif yang digadang-gadang bakal mendorong kebangkitan pasar modal dalam negeri ke levelall time high (ATH). Pertama, tentunya era suku bunga rendah yang masih akan berlangsung di mana Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga acuan di level terendah sepanjang sejarahnya pada 3,5%.

Gubernur BI, Perry Warjiyo berberapa kali menyiratkan bahwa sulit adanya ruang untuk peningkatan suku bunga sehingga opsinya hingga akhir tahun suku bunga akan kembali dipangkas atau dipertahankan di angka 3,5%.

Dengan rendahnya suku bunga, toleransi investor terhadap rasio harga dengan laba perusahaan (price to earning ratio/PE) tentunya akan meningkat, karena investasi di instrumen lain menjadi kurang menarik.

Rasio PE IHSG saat ini berada di kisaran 21,45 kali yang masih tergolong murah dengan asumsi suku bunga acuan 3,5% sehingga batas toleransi P/E wajar non (compounded annual growth rate/CAGR) investor adalah sebesar 28,5 kali.

Apalagi PE menyiratkan kinerja perusahaan tahun lalu dimana banyak perusahaan yang masih terdampak oleh penguncian wilayah dan masalah daya beli akibat pandemi virus corona.

Tentunya seiring dengan rilis kinerja emiten yang mengalami perbaikan, PE bisa kembali turun dan tentu saja akan mendorong naik IHSG.

Selanjutnya, pemangkasan suku bunga acuan tentu saja juga akan menguntungkan sektor finansial yang menjadi tulang punggung indeks. Diketahui 3 dari 5 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar muncul dari sektor perbankan.

Selanjutnya harapan juga muncul dari vaksinasi massal yang sudah dilangsungkan di Indonesia, karena pangkal persoalan perekonomian yang menekan pasar modal memang berakar dari faktor fundamental terkait keberadaan pandemi.

Sentimen tambahan khususnya bagi sektor pertambangan juga siap datang dari siklus commodity supercycle di mana harga-harga komoditas akan melesat karena permintaan melonjak sementara pasokan masih terbatas akibat efek corona. Siklus ini digadang-gadang akan tiba pada Q3 atau Q4 tahun ini.

Profesor ekonomi terapan di John Hopkins University, Steve Hanke, dalam wawancara dengan Kitco, pada Selasa (22/12/2020), mengatakan komoditas termasuk emas akan memasuki fase supercycle tersebut pada tahun 2021 ini.

"Supply sangat terbatas, stok rendah, dan ekonomi mulai bangkit dan maju ke depan, harga komoditas akan naik dan memulai supercycle. Saya pikir saat ini kita sudah melihat tanda awalnya," kata Hanke, sebagaimana dilansir Kitco.

Selanjutnya, di tengah kelebihan likuiditas di negara maju,Omnibus Law akan menjadi dikunci yang menarik investasi asing di Indonesia terutama di sektor riil. Pelurusan aturan yang tumpang tindih dan karpet merah yang digelar bagi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia akan mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia dan secara psikologis berdampak positif di pasar modal.

Selain itu bursa-bursa lain di luar negeri yang sebelumnya sudah menembus lever tertinggi sepanjang masanya di tahun ini seperti bursa AS juga tentu saja akan membawa hawa positif dan tenaga bagi bursa Ibu Pertiwi untuk melakukan hal yang sama.

Analisis Teknikal

Teknikal IHSGFoto: Tri Putra
Teknikal IHSG

Pergerakan IHSG dengan menggunakan periode harian (daily) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support). Saat ini, IHSG berada di area batas bawah dengan BB yang kembali melebar maka pergerakan IHSG selanjutnya cenderung terapresiasi.

Untuk mengubah bias menjadi bullish atau penguatan, perlu melewati level resistance yang berada di area 6.375. Apabila sukses menembus level ini maka IHSG harus kembali menguji resisten kuat di level 6.500. Jika resisten ini sukses ditembus maka jalan IHSG untuk melewati level tertinggi sepanjang masanya di angka 6.693 akan sangat terbuka.

Sementara untuk melanjutkan tren bearish atau penurunan perlu melewati level support kuat yang berada di area 5.750. Apabila support ini jebol maka IHSG berpeluang untuk menguji level support selanjutnya di area 5.350.

Indikator Relative Strength Index (RSI) sebagai indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu dan berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Saat ini RSI berada di area 34 yang belum menunjukkan adanya indikator jenuh beli maupun jenuh jual akan tetapi RSI terkonsolidasi naik setelah sebelumnya mendekati level jenuh jual yang menunjukkan Indeks berpeluang menguat.

Secara keseluruhan, melalui pendekatan teknikal dengan indikator BB di batas bawah, maka pergerakan selanjutnya cenderung bullish.

Indeks perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading