Analisis

Head to Head Unilever-Indofood-Mayora, Siapa Paling Memble?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
13 April 2021 13:25
A worker holds instant noodle packs at a market in Jakarta, Indonesia, March 12, 2018. Picture taken March 12, 2018. REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Tiga saham emiten barang konsumsi (consumer goods) 'kelas kakap' sama-sama merosot pada perdagangan sesi I hari ini, Selasa (13/4/2021). Ketiga saham tersebut melanjutkan koreksi pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (12/4).

Ketiganya ialah PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP).

Lalu, di antara ketiganya emiten mana yang memiliki kinerja fundamental dan saham paling jeblok?


Di bawah ini Tim Riset CNBC Indonesia menyajikan head-to-head kinerja keuangan dan saham ketiga saham emiten raksasa tersebut.

Menurut tabel di atas, dalam sebulan emiten produsen brand snack Beng-Beng dan Better, MYOR, menjadi yang paling ambles di antara ketiganya.

MYOR merosot 2,76% pada sesi I hari ini, sementara saham emiten minuman ringan Teh Pucuk Harum ini sudah ambles 10,51% dalam sebulan terakhir.

Seperti emiten sektor ritel dan barang konsumen lainnya, sepanjang tahun lalu, kinerja keuangan tertekan, kendati masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih.

MYOR mencatatkan pendapatan sebesar Rp 24,47 triliun sepanjang tahun lalu, turun 2,2% dari posisi Desember 2019 sebesar Rp 25,03 triliun.

Meskipun turunnya pendapatan dari penjualan dan naiknya beban pokok, Mayora masih mampu membukukan peningkatan laba bersih perusahaan yang naik 3,07%.

Laba bersih perusahaan yang didirikan 44 tahun lalu tercatat berada di angka Rp 2,06 triliun, naik dari Rp 2 triliun tahun 2019.

Sementara, saham emiten produsen brand sabun 'sejuta umat' Lifebuoy, UNVR, hari ini ambles 1,58% ke Rp 6/225/saham. Dalam sebulan kinerja saham emiten produsen brand es krim Paddle Pop ini juga boncos 5,32%.

Sebenarnya, kinerja keuangan UNVR terus di jalur positif setidaknya dalam 5 tahun belakangan. Namun, dalam 2 tahun terakhir, laba bersih UNVR terus tertekan.

Apabila dibandingkan dengan kedua saham lainnya, UNVR menjadi satu-satunya emiten yang mencatatkan penurunan laba bersih dibanding yang lainnya.

Sepanjang tahun lalu, laba bersih UNVR tercatat turun 3,11% menjadi Rp 7,16 triliun, dari tahun sebelumnya Rp 7,39 triliun.

Penurunan laba bersih ini seiring dengan kenaikan tipis pendapatan saat pandemi Covid-19. Tetapi, laba bersih 2019 dan 2020 tercatat lebih rendah dibandingkan laba bersih tahun 2018 yang sebesar Rp9,11 triliun.

Total penjualan bersih UNVR di 2020 mencapai Rp 42,97 triliun, naik 0,12% dari 2019 yakni Rp 42,92 triliun.

Adapun saham emiten Grup Salim, ICBP, juga terkoreksi tipis 0,29% hari ini. Namun dalam sebulan emiten anak usaha PT Indofood Sukses Makmur (INDF) ini masih tumbuh 1,47%.

Secara kinerja fundamental, ICBP menjadi yang paling mentereng di antara yang lainnya di tengah tahun pagebluk tahun lalu.

Emiten produsen mie instan dengan merek Indomie ini membukukan penjualan neto sebesar Rp 46,64 triliun dari tahun sebelumnya Rp 42,29 triliun.

Kenaikan penjualan bersih ini juga meningkatkan laba usaha ICBP menjadi Rp 9,20 triliun dari sebelumnya Rp 7,40 triliun.

Dengan demikian, laba tahun berjalan yang diatribusikan ICBP sepanjang tahun 2020 sebesar Rp 6,58 triliun dari tahun sebelumnya Rp 5,03 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading